HP OmniBook Ultra: Laptop Windows Premium Tipis dengan Baterai 19 Jam

Engadget

Engadget

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – HP OmniBook Ultra muncul sebagai laptop Windows premium yang akhirnya memberi HP penantang serius untuk Dell dan Apple, dengan desain tipis 0,42 inci dan bobot 2,8 pon. Dalam uji PCMark 10 Modern Office, varian Intel bahkan mencatat 19 jam 14 menit, angka yang biasanya hanya muncul di kelas terbaik.

Dalam dua tahun terakhir, HP merombak besar lini laptop konsumennya dengan melebur nama Spectre, Envy, dan Pavilion ke keluarga OmniBook. Masalahnya, transisi merek tidak otomatis melahirkan “produk puncak” yang bisa menekan dominasi MacBook Pro atau Dell XPS di segmen ultraportable premium.

OmniBook Ultra hadir pada musim panas ini sebagai jawaban atas kekosongan itu. Ia diposisikan sebagai raja bukit di jajaran laptop konsumen HP, sekaligus etalase kemampuan desain, layar, performa, dan daya tahan baterai.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Meski model tertinggi mahal, HP OmniBook Ultra sulit ditandingi. HP menyatukan lini laptop konsumennya ke OmniBook, dan Ultra menjadi penantang premium yang sebelumnya belum ada.

Dari sisi desain, bodinya memakai aluminium forged stamped, bukan unibody, untuk kekuatan, kekakuan, bobot ringan, dan kemudahan perbaikan. Laptop ini lolos uji MIL-STD 810H, dan akses komponen cukup melepas empat sekrup di tiap sudut.

HP mengklaim Ultra sebagai notebook konsumen tipis paling tahan banting di dunia, meski lapisan matte berpotensi mudah tergores jika bercampur benda logam di tas. Dimensinya 0,42 inci dan 2,8 pon, lebih tipis dan ringan daripada MacBook Pro 14 inci (0,6 inci dan 3,4 pon).

Port yang tersedia hanya tiga USB-C dengan Thunderbolt 4, DisplayPort 2.1, dan USB Power Delivery 3.1, plus jack audio 3,5 mm. Tidak ada HDMI dan SD card, namun konektivitas sudah Wi‑Fi 7 dan Bluetooth 6, dengan touchpad haptik besar dan keyboard nyaman.

Layar standar versi Intel adalah OLED sentuh 14 inci resolusi 3K, 120Hz, 500 nits, dan hingga 1.100 nits HDR, serta cakupan 100% DCI‑P3. Webcam 5MP dengan IR mendukung Windows Hello dan dilengkapi shutter fisik, meski dynamic range kadang sedikit “washed out” saat backlight.

Unit ulasan 64GB RAM dan 2TB storage dinilai berlebihan, tetapi menunjukkan opsi konfigurasi yang luas, termasuk vapor chamber ringkas. Pilihan prosesor mencakup Intel Core Ultra X9 388H, serta Qualcomm Snapdragon X2 Plus dan X2 Elite, dengan Snapdragon cenderung lebih hemat baterai dan NPU lebih cepat.

Konfigurasi yang lebih masuk akal disebut bisa turun ke sekitar US$2.600 dengan 32GB RAM dan Core Ultra X9 388H, yang penting karena membawa GPU Intel Arc B390. Dalam Cyberpunk 2077 1080p medium dengan XeSS performance, laptop ini mencetak 56 fps, mendekati ASUS ROG Xbox Ally X yang mencetak 62 fps.

Untuk baterai, varian Intel bertahan 19 jam 14 menit pada PCMark 10 Modern Office, jauh di atas Dell XPS 14 (10:21) dan sedikit di depan ASUS ZenBook Duo mode satu layar (18:33). Kesimpulannya, Ultra adalah ultraportable kelas satu, meski minus HDMI/SD dan ada pop-up sistem yang mengganggu, serta bisa jadi menarik jika mendapat diskon US$500 pada konfigurasi tertentu.

Analisis: Di kelas laptop Windows premium, diferensiasi paling sulit bukan lagi “kencang”, melainkan kombinasi tipis, senyap, kuat, dan awet baterai tanpa kompromi layar. OmniBook Ultra menekan titik itu lewat OLED 3K 120Hz dan angka baterai 19 jam 14 menit, yang menjadi data paling “menjual” karena mudah dipahami publik.

Namun, kemenangan baterai tidak berdiri sendiri karena HP juga mengunci persepsi kualitas lewat MIL‑STD 810H dan kemudahan servis empat sekrup. Di pasar yang sering mengorbankan repairability demi estetika, narasi “tipis tapi bisa dibuka” adalah sinyal strategis untuk konsumen yang lelah dengan perangkat rapuh dan mahal diperbaiki.

Kompromi paling terasa ada pada port, karena tiga USB‑C tanpa HDMI dan SD card memaksa pengguna kreatif membeli dongle. Ini mengisyaratkan HP menargetkan pekerja mobile dan eksekutif, bukan fotografer atau videografer yang butuh workflow cepat dari kartu memori.

Dari sisi performa, angka 56 fps di Cyberpunk 2077 pada 1080p medium menunjukkan GPU Intel Arc B390 cukup kompeten untuk gaming kasual. Data ini penting karena menggeser persepsi ultraportable dari “hanya untuk kerja” menjadi “cukup untuk hiburan”, tanpa harus membeli perangkat kedua.

Soal harga, unit US$4.000 adalah etalase ekstrem, tetapi diskon US$500 yang disebutkan menegaskan realitas pasar laptop premium: nilai terbaik sering muncul saat promosi, bukan harga ritel. Dengan kata lain, Ultra tampak dirancang untuk menang di spesifikasi, lalu dipertegas oleh strategi diskon agar terasa rasional di mata pembeli.

HP OmniBook Ultra terasa seperti upaya HP merebut kembali otoritas desain yang sempat tercecer saat rebranding besar-besaran. Ketika Spectre dan Envy dihapus, publik butuh bukti bahwa penyatuan nama bukan sekadar kosmetik, dan Ultra menjadi “argumen fisik” bahwa HP masih bisa membuat produk kelas puncak.

Meski begitu, ada pertanyaan kritis: apakah laptop premium 2026 masih pantas menghilangkan HDMI dan SD card demi bodi tipis, ketika pesaing mulai mengembalikan port demi kenyamanan? HP seolah bertaruh bahwa mayoritas pengguna akan menerima ekosistem USB‑C, sekalipun itu berarti biaya aksesori tambahan dan ketergantungan dongle.

Gangguan pop-up dan alert sistem yang disebutkan juga bukan isu remeh karena pengalaman premium tidak hanya soal material dan layar. Jika HP ingin benar-benar menantang Apple di persepsi “rapi dan tenang”, maka kebisingan software harus dipangkas setara dengan ketipisan bodi.

HP OmniBook Ultra adalah laptop Windows premium yang nyaris lengkap: desain kuat, OLED 3K 120Hz yang memukau, performa yang sanggup kerja berat hingga gaming ringan, dan baterai yang terbukti panjang lewat angka 19 jam 14 menit. Kekurangannya jelas, yakni port terbatas dan gangguan software, tetapi keduanya bukan penghapus prestasi inti.

Pada akhirnya, Ultra memperlihatkan arah baru HP: bukan sekadar mengejar tipis, melainkan membangun “rasa percaya” lewat durabilitas dan daya tahan nyata. Pertanyaan yang tersisa bagi pembaca adalah sederhana, apakah kita ingin laptop yang paling tipis, atau laptop yang paling memudahkan hidup tanpa dongle dan notifikasi yang mengganggu.

(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)