Pejabat AS Peringatkan Kenaikan Harga Minyak dan Gas Akibat Penutupan Selat Hormuz
ORBITINDONESIA.COM - Sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz "terbuka," para pejabat di pemerintahannya meningkatkan perkiraan harga minyak dan bensin karena adanya "kendala" yang menghambat aliran energi melalui jalur perairan vital tersebut.
Badan prakiraan Departemen Energi, Energy Information Administration (EIA), kini memperkirakan bahwa lalu lintas energi melalui Selat Hormuz akan tetap terbatas hingga bulan Agustus.
Pada hari Selasa, 11 Agustus 2026, EIA menaikkan perkiraan harga minyak Brent—tolok ukur harga minyak global—menjadi rata-rata $87 per barel untuk tahun 2026. Angka ini naik dari perkiraan $82 per barel sebulan yang lalu dan mendekati tingkat harga saat ini.
Para pejabat kini memperkirakan harga eceran bensin akan mencapai rata-rata $3,78 per galon tahun ini, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar $3,64 per galon. Menurut AAA, harga bensin secara nasional hanya sebesar $2,98 per galon sebelum perang dimulai.
Para analis juga menaikkan estimasi harga minyak dan bensin untuk tahun 2027.
EIA mengaitkan hal ini dengan "kendala pada lalu lintas melalui Selat Hormuz," seraya menambahkan bahwa perkiraan tersebut "mengasumsikan kendala-kendala itu terus berlanjut hingga bulan Agustus."
Tekanan terhadap Selat Hormuz—jalur perairan sempit yang biasanya menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia—juga mendorong EIA untuk meningkatkan proyeksi mengenai seberapa besar produksi minyak di Timur Tengah yang akan terhenti dalam beberapa bulan mendatang.
Perkiraan ini sangat kontras dengan pernyataan Trump sendiri.
Trump mengatakan kepada para wartawan di Ruang Oval pada hari Senin, 10 Agustus 2026 bahwa selat tersebut "terbuka sekarang" dan bahwa hanya Angkatan Laut Amerika Serikat yang memegang kendali atas jalur perairan tersebut.
Menurut perusahaan intelijen maritim Kpler, hanya delapan kapal yang melintasi Selat Hormuz pada hari Senin, dibandingkan dengan rata-rata 120 kapal sebelum perang.
Cuma 8 Kapal yang Lewat
Trump mengatakan bahwa Selat Hormuz "terbuka," dengan klaim bahwa Angkatan Laut AS telah menyisir jalur perairan tersebut untuk mencari ranjau dan memegang kendali atasnya, namun data pelayaran belum mendukung klaim tersebut.
Sistem pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan tujuh kapal besar—dua kapal tanker minyak, satu kapal tanker gas, tiga kapal pengangkut curah (bulk carrier), dan satu kapal kargo—melintasi selat tersebut pada Selasa siang waktu setempat, semuanya memasuki Teluk Persia.
Berdasarkan data pelayaran sebelumnya, sebuah kapal membutuhkan waktu beberapa jam untuk melintasi selat tersebut, sehingga kecil kemungkinannya jumlah itu akan meningkat secara signifikan pada hari ini.
Hanya delapan kapal yang melintasi jalur perairan vital tersebut kemarin; lima kapal menempuh rute Iran dan tiga lainnya melalui rute yang tidak terdeteksi, menurut perusahaan intelijen maritim Kpler.
Hal itu belum mendukung klaim Trump bahwa selat tersebut "sudah terbuka sekarang."
"Dengar, satu-satunya pihak yang memegang kendali atas Selat Hormuz saat ini adalah Angkatan Laut Amerika Serikat," ujarnya kepada para wartawan di Ruang Oval.
Sebelum perang, rata-rata 120 kapal melintasi jalur perairan vital tersebut setiap harinya—jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia. ***