Adaptasi Baru 'Lord of the Flies': Krisis Maskulinitas dalam Fokus
ORBITINDONESIA.COM – Adegan brutal membuka adaptasi baru 'Lord of the Flies' di mana Jack, salah satu anak laki-laki yang terdampar, mendorong tubuh pilot mati dari tebing. Ini adalah tanda awal dari kisah kekerasan yang mengemuka, memunculkan pertanyaan mendalam tentang maskulinitas.
Adaptasi terbaru 'Lord of the Flies' hadir di Netflix setelah tayang di BBC, menjelajahi arti menjadi laki-laki. Ini adalah karya kedua Jack Thorne yang sebelumnya menulis drama 2025 bertema 'Adolescence'. Kedua cerita ini mengeksplorasi pengaruh sosial berbeda terhadap perilaku anak laki-laki.
Nick Isles dari Center for Policy Research on Men and Boys menyatakan bahwa program ini menyentuh ketakutan visceral akan kekerasan laki-laki. Adaptasi ini menggali lebih dalam karakter Jack, menunjukkan kerentanan anak laki-laki terhadap pengaruh jahat. Serial ini juga mengaitkan perilaku mereka dengan pengaruh ayah mereka.
Adaptasi ini menyoroti bagaimana ekspektasi masyarakat tahun 1950-an membentuk perilaku anak laki-laki. Winston Sawyers mencatat kontras dengan zaman sekarang di mana anak laki-laki didorong untuk mengekspresikan emosi. Jack Thorne menolak pandangan bahwa cerita ini menunjukkan bahwa maskulinitas secara alami menuju kebrutalan.
Adaptasi 'Lord of the Flies' ini menggambarkan kompleksitas pilihan moral anak laki-laki di bawah tekanan sosial. Apakah kita dapat memahami mereka bukan sebagai simbol keburukan, tetapi sebagai individu yang dipengaruhi oleh lingkungan? Ini mengundang refleksi lebih lanjut tentang bagaimana kita mendefinisikan maskulinitas di masa kini.
(Orbit dari berbagai sumber, 8 Mei 2026)