Dimas Supriyanto: Ketika Politik Kehabisan Gagasan
Oleh Dimas Supriyanto, wartawan senior
ORBITINDONESIA.COM - Dalam politik, tenggelam itu lebih menakutkan daripada kalah. Kalah masih bisa bangkit. Tapi tenggelam? Hilang dari percakapan? Dianggap sudah tidak relevan? Lalu dilupakan? Sungguh menakutkan.
Maka, jangan heran jika ada yang memilih cara paling bising untuk tetap hidup: melempar isu, serang kehidupan pribadi, yang memantik emosi, lalu berdiri di tengah keributan sambil berkata; “lihat, saya masih ada. Saya masih dibicarakan ”.
Apakah ini berlebihan? Ataukah justru terlalu polos jika kita menganggap semua ini kebetulan?
Mari kita susun ulang kepingan yang berserakan itu.
Ketika demonstrasi buruh berhasil dikelola tanpa ledakan berarti - tanpa chaos, tanpa kerusuhan - apa yang terjadi? Tiba-tiba muncul video yang mengguncang. Publik terhenyak, media gaduh. Fokus bergeser. Lalu muncul pidato bantahan. Video diturunkan. Klarifikasi. Tapi tetap saja, heboh!
Semua seperti bensin yang disiram ke api yang sengaja dinyalakan. Isu yang seharusnya bisa padam dalam sehari, dipelihara berhari-hari.
Siapa yang diuntungkan? Tentu mereka yang butuh panggung.
Mereka yang kehilangan momentum. Mereka yang masih dianggap relevan. Mereka yang sadar - tanpa kontroversi - namanya tidak lagi disebut.
Inilah ironi politik hari ini: relevansi tidak dibangun dari solusi, tapi dari sensasi. Bahkan dibangun dengan serangan pribadi dan masuk ke ranah privacy.
Kita pernah melihat pola yang sama. Dalam debat, serangan bukan lagi soal gagasan, tapi personal. Tuduhan dilempar, ejekan dilontarkan. Harapannya sederhana: pancing emosi, rusak citra.
Apakah itu debat? Atau sekadar gladi resik untuk menjatuhkan?
Dan anehnya, pola itu tidak berhenti di panggung debat. Ia merembes ke ruang publik.
Pernyataan-pernyataan yang terasa seperti ancaman; tentang ancaman ekonomi, tentang energi, tentang potensi kerusuhan. Dilempar begitu saja.
Apakah itu peringatan? Ataukah "framing" bahwa negara sedang rapuh? Mau rusuh?
Jika kita jujur, ini bukan lagi komunikasi politik. Ini operasi persepsi.
Perhatikan ritmenya: video muncul, pernyataan menyusul, reaksi publik meledak. Isu dipanjangkan.
Seperti orkestra. Tidak selalu rapi, tapi cukup terkoordinasi untuk menjaga kebisingan.
Apakah mereka saling terhubung? Saya tidak punya bukti.
Apakah polanya terasa? Sangat.
Dan di sisi lain, pemerintah seperti terus dipaksa bermain defensif. Satu isu dipadamkan, muncul isu lain.
Satu potensi konflik diredam, datang gangguan baru.
Ini bukan lagi pertarungan ide.
Ini pertarungan stamina; siapa yang lebih cepat lelah, dia tumbang.
Namun ada pertanyaan yang lebih jujur, yang jarang kita tanyakan:
Apakah benar semua ini demi kepentingan publik?
Atau sekadar perebutan ruang bicara?
Karena jika tujuannya rakyat, bangsa dan negara - maka yang dibahas adalah solusi.
Sebaliknya, jika tujuannya kekuasaan, maka yang diproduksi adalah kegaduhan. Dan kita melihat terlalu banyak kegaduhan.
Di titik ini, publik diposisikan sebagai reaktor emosi. Disuruh marah, kita marah. Disuruh kaget, kita kaget. Tanpa sempat berhenti dan bertanya: siapa yang mengatur alur ini?
Lebih jauh lagi, semakin sebuah pemerintahan menguat; entah benar atau sekadar terlihat; maka cara menggoyangnya pun berubah.
Kritik biasa tidak cukup. Data tidak cukup. Maka yang dipakai adalah isu yang lebih tajam, lebih liar, bahkan kadang absurd.
Karena tujuannya bukan meyakinkan. Tujuannya mengganggu. Merongrong.
Jika kritik kebijakan tak mempan, ajakan makar tak direspon, serang kehidupan pribadi. Masuk ke ruang privacy.
Dan jika operasi politik gagal menjatuhkan, masih ada jalan lain: ekonomi. Nilai tukar. Kepercayaan pasar. Dan seterusnya.
Kepanikan bisa diciptakan, jika narasi cukup keras.
Apakah ini berbahaya?
Sangat.
Karena kita tidak lagi bicara siapa benar atau salah. Kita bicara siapa yang paling berhasil menciptakan rasa tidak aman.
Hari ini, kita seperti menonton perlombaan sunyi. Satu pihak mengklaim membangun. Pihak lain mencoba menggoyang dan mengguncang.
Siapa yang menang? Belum jelas.
Siapa yang lelah lebih dulu? Itu yang menentukan.
Dan kita? Masih di sini. Menonton. Bereaksi. Terbawa arus.
Tanpa sadar, kita bukan sekadar penonton. Kita adalah bahan bakar.
Dan dalam politik yang kehabisan gagasan, bahan bakar itulah yang paling dibutuhkan. ***