Jejak Politik Ijeck: Dari Merangkul Perbedaan di Sumatera Utara hingga Duduk di Kursi Parlemen
“Jabatan hanya sementara, silaturahmi dan persahabatan selamanya.”
Kalimat tersebut tercantum dalam bio Instagram Musa Rajekshah, yang lebih akrab disapa Ijeck. Bukan sekadar slogan personal, tetapi juga merupakan refleksi dari pandangan serta prinsip yang ia pegang dalam menjalankan peran sebagai tokoh publik.
Pesan itu juga sekaligus menegaskan bahwa jabatan hanya bersifat sementara, sementara relasi kemanusiaan seperti silaturahmi dan persahabatan merupakan nilai yang perlu dijaga melampaui dinamika politik dan kekuasaan.
Di balik jabatan yang pernah diemban, karakternya terlihat jelas dari cara ia menempatkan diri di tengah masyarakat, dengan menunjukkan keberpihakan pada kepentingan publik.
Sebagian orang banyak mengenalnya sebagai mantan Wakil Gubernur Sumatera Utara, namun tidak sedikit yang justru mengingat kehadirannya dalam ruang-ruang yang lebih dekat dengan masyarakat: pertemuan adat, kunjungan ke rumah ibadah, hingga interaksi langsung tanpa sekat. Dalam situasi seperti itu, Ijeck tidak menempatkan diri sebagai tokoh publik yang lebih dominan berbicara, melainkan sebagai pendengar yang mau memberi ruang untuk orang lain bercerita.
Sumatera Utara merupakan wilayah dengan keragaman etnis dan keyakinan yang kompleks. Perbedaan di dalamnya tidak hanya berkaitan dengan identitas, tetapi juga berakar pada sejarah panjang yang membentuk cara pandang masyarakat. Dalam konteks ini, Ijeck memilih pendekatan yang lebih dialogis. Ia hadir dalam berbagai kegiatan lintas komunitas, Melayu, Batak, Mandailing, Karo, hingga Tionghoa dan kelompok urban lainnya, dengan keterlibatan yang tidak sekadar simbolis, melainkan membangun komunikasi yang berkelanjutan.
Pendekatan tersebut juga terlihat ketika polemik empat pulau antara Aceh dan Sumatera Utara sempat memanas. Di saat perhatian publik tertuju pada pernyataan yang konfrontatif, Ijeck menyampaikan pesan yang menenangkan. Ia menegaskan bahwa Aceh dan Sumut tidak hanya dipisahkan oleh batas administratif, tetapi juga dipersatukan oleh kedekatan historis sebagai saudara. Dalam situasi seperti itu, pendekatan yang menekankan kedamaian menjadi lebih relevan.
Dalam keseharian, cara berkomunikasinya pun kerap dinilai santun. Namun lebih dari itu, yang menonjol adalah kemampuannya menjaga martabat, baik martabat pribadi maupun orang lain. Ia memahami kapan perlu menyampaikan pendapat dan kapan memberi ruang bagi pihak lain.
Firza Fadilla, salah satu perwakilan generasi muda di Sumatera Utara, menilai bahwa keberhasilan Ijeck sebagai pengusaha dan politikus tidak membuatnya berjarak. Ia tetap membuka ruang bagi generasi muda untuk berkembang, sekaligus terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk dukungan terhadap rumah ibadah, perhatian kepada masyarakat rentan, serta pembinaan anak-anak penghafal Al-Qur’an.
Pengalaman sebagai Wakil Gubernur Sumatera Utara periode 2018–2023 menjadi bagian yang penting dalam perjalanan Musa Rajekshah di ruang publik. Saat ini, ia melanjutkan perannya sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Utara, sekaligus dipercaya memimpin DPD Partai Golkar Sumatera Utara. Peran tersebut menunjukkan kesinambungan kiprahnya, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Seiring perjalanan waktu, sikap itu menjadi bagian dari identitasnya sebagai tokoh publik. Pendekatan yang konsisten ini menjadi relevan, terutama dalam menjaga keseimbangan sosial di tengah perbedaan.