Cerpen Rusmin Sopian: Balada Penyanyi Tua
ORBITINDONESIA.COM - “Zakia... Zakia...
Penyanyi gurun pasir ternama
Oh... Zakia
Terpesona aku melihatnya...”
Lantunan suara khas vokalis legendaris Ahmad Albar mengalun pelan dari sebuah radio tua. Suaranya merambat di udara malam, mengisi ruang sunyi dengan kehangatan nostalgia. Seolah semesta ikut bersenandung, memantulkan gema masa lalu yang perlahan bangkit dari ingatan.
Di halaman belakang sebuah rumah tua, seorang lelaki setengah baya duduk termenung. Matanya terpejam, bibirnya sesekali bergerak mengikuti irama. Ia larut dalam lagu—larut dalam kenangan.
Namanya Bonril.
Dulu, siapa yang tak mengenalnya? Ia adalah penyanyi utama band De Tram, kebanggaan kampung. Tua-muda mengenalnya, terutama kaum hawa yang mengagumi suara bass-nya yang dalam dan wajahnya yang tampan. Gaya flamboyannya di atas panggung membuatnya selalu ditunggu.
Setiap malam Sabtu hingga Senin, suara Bonril menjadi bagian tak terpisahkan dari pesta-pesta rakyat. Hajatan tanpa musik kala itu terasa hambar—seperti masakan tanpa garam. Dan di setiap panggung, Bonril adalah bintangnya.
Bakatnya membawanya lebih jauh. Ia bahkan direkrut oleh sebuah perusahaan pasir besar di daerahnya, yang memiliki kelompok musik sendiri. Bonril dan band-nya kerap tampil dalam acara-acara resmi perusahaan. Namanya makin bersinar.
Namun hidup, seperti lagu, punya nada naik dan turun.
Segalanya berubah ketika seorang perempuan muda hadir dalam sebuah pesta. Cantik, penuh pesona, dan—ternyata—penggemar berat Bonril. Ia datang dari seberang, hanya untuk mendengar suara sang idola.
“Suara Abang indah sekali. Siapa pun yang mendengarnya pasti jatuh hati,” ucapnya suatu malam.
Bonril tersenyum merendah. “Ah... biasa saja.”
“Tidak. Ini luar biasa,” jawab perempuan itu, mantap.
Perkenalan itu menjadi awal perubahan. Dalam waktu singkat, perempuan itu mengisi seluruh ruang hati Bonril. Ia menjadi pusat dunia baru yang membuat Bonril perlahan menjauh dari segalanya—dari band-nya, dari panggungnya, bahkan dari keluarganya.
Perempuan itu menjanjikan mimpi besar: ibukota, ketenaran, dunia musik yang lebih luas.
Dan Bonril percaya.
Gaya bermusiknya berubah. Ia mulai meninggalkan lagu-lagu melayu yang dicintai masyarakat. Ia beralih ke lagu-lagu berbahasa Inggris, mencoba menyesuaikan diri dengan bayangan industri musik ibukota.
“Kamu harus paham, penonton kita di sini menyukai lagu Indonesia,” tegur pimpinan band De Tram.
“Kita harus mengubah selera mereka,” jawab Bonril. “Bukan mengikuti.”
Jawaban itu membuat semua terdiam. Ada yang berubah dalam diri Bonril—sesuatu yang terasa asing.
Tak lama kemudian, ia benar-benar pergi. Merantau ke ibukota bersama perempuan itu, mengejar mimpi menjadi penyanyi besar.
Namun ibukota bukan panggung yang mudah ditaklukkan.
Persaingan keras, koneksi yang minim, dan realitas industri yang kejam membuat Bonril tersingkir. Suaranya mungkin tak kalah, tapi dunia musik tak hanya soal suara.
Lebih menyakitkan lagi, perempuan yang membawanya ke sana justru meninggalkannya. Pergi tanpa jejak, meninggalkan Bonril sendirian di kota yang tak ramah.
Hari-harinya berubah drastis. Dari panggung gemerlap ke jalanan keras. Dari sorak penonton ke dinginnya malam ibukota. Ia bahkan sempat mengamen, sekadar bertahan hidup.
Hingga akhirnya, tangan-tangan dari kampungnya sendiri menyelamatkannya. Ia dipulangkan—bukan sebagai bintang, melainkan sebagai lelaki yang harus memulai dari awal.
Kini, Bonril hidup sebagai petani. Di halaman rumahnya yang luas, ia menanam lada dan berbagai tanaman lain. Hidupnya sederhana, jauh dari gemerlap masa lalu.
Namun setiap kali radio tuanya menyala, kenangan itu kembali.
Tentang panggung.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Dari kejauhan, lagu lain mengalun. Sendu. Dalam.
“Pujaan tua muda
Kau ditaburi cahaya...
Dan sinar kekaguman
Dan riuhnya tepukan...
Meski kau tersenyum
Namun orang pun tahu
Apa isi hatimu...
Lagumu lagu sendu
Perjalanan hidupmu
Ditinggal kekasihmu...”
Bonril tersenyum tipis. Matanya basah.
Malam kembali sunyi.
Hanya suara radio tua yang setia menemani—menyimpan seluruh cerita yang tak pernah benar-benar pergi.
Toboali, Bangka Selatan, 2026 ***