Dimas Supriyanto: Di Balik Kunjungan Artis ke Jokowi

Oleh Dimas Supriyanto, wartawan senior

ORBITINDONESIA.COM - Dalam politik, tidak ada kunjungan yang benar-benar “netral”. Terlebih jika yang datang bukan orang biasa, melainkan figur dengan modal simbolik yang panjang — mempertaruhkan reputasi, kredibilitas, dan integritasnya. Maka, ketika Christine Hakim, Deddy Mizwar, dan Sahrul Gunawan menyambangi rumah Jokowi di Solo, itu bukan sekadar “silaturahmi selebritas”. Itu adalah teks politik — dan seperti semua teks, ia menuntut pembacaan.

Sebagai jurnalis peliput film - pernah menjadi editor dan Pemred Majalah Film - saya paham bahwa 'image' (citra) tidak dibangun dalam satu adegan. Ia adalah akumulasi peran, pilihan, dan keberanian menjaga jarak dari kekuasaan — atau justru mendekatinya di saat yang tepat.

Christine Hakim bukan sekadar aktris - dia peraih 11 Piala Citra FFI selama 50 tahun menggeluti film. Ia representasi institusi kultural. Setiap langkahnya — terutama yang bersinggungan dengan kekuasaan—akan dibaca sebagai sikap.

Deddy Mizwar, peraih lima Piala FFI - bahkan lebih kompleks: ia pernah menjadi pejabat publik (Wakil Gubernur Jawa Barat, pen.), sekaligus tetap membawa aura “moralitas” dari peran-perannya di layar.

Sementara Sahrul Gunawan mewakili generasi yang lebih cair: selebritas sinetron dan penyanyi - yang tak alergi pada politik praktis. Dia wakil Bupati Bandung (2001-2025) lalu.

Maka - pertanyaannya: apa arti kedatangan mereka? Apakah ini rehabilitasi simbolik terhadap Jokowi? Atau sinyal bahwa narasi “delegitimasi” terhadap Jokowi tidak sepenuhnya dipercaya oleh kalangan budaya?

Di sini problemnya menjadi menarik — dan sedikit sinis.

Jika Jokowi benar-benar “secacat” sebagaimana dituduhkan para pembencinya, maka kunjungan itu adalah risiko reputasi.

Aktris sekelas Christine Hakim tidak hidup dari "trending topic" ; ia hidup dari warisan nama. Sekali ia dianggap salah posisi, itu bukan sekadar kritik—itu erosi kredibilitas jangka panjang.

Namun jika mereka tetap datang, ada dua kemungkinan: Pertama, mereka tidak melihat Jokowi seburuk yang digambarkan.

Kedua, mereka melihat sesuatu yang lebih penting daripada sekadar opini publik — yakni jejaring kekuasaan yang masih relevan.

Di sisi lain, pertanyaan Anda lebih tajam: mengapa bukan ke Presiden yang sedang berkuasa? Bagi dua artis kawakan ini, presiden RI "dalam jangkauan" mereka. Presiden Prabowo pun senang hati bila menerima kehadiran keduanya.

Tapi di sinilah aroma politiknya menguat.

Dalam dunia film, kita mengenal istilah “blocking” — posisi aktor di panggung yang menentukan makna adegan. Dalam politik, kunjungan adalah “blocking sosial”. Siapa mendatangi siapa, kapan, dan dalam konteks apa—itu adalah pesan.

Mendatangi Jokowi di Solo, alih-alih mendekati kekuasaan formal yang sedang aktif, bisa dibaca sebagai beberapa hal: pengakuan terhadap residu kekuasaan

Kekuasaan tidak pernah benar-benar pensiun. Jokowi mungkin bukan presiden lagi, tapi jejaringnya, pengaruhnya, dan simbolismenya belum tentu ikut lengser.

Mendekati kekuasaan aktif selalu mengandung risiko politis yang lebih tinggi. Mendekati “mantan” memberi ruang abu-abu: cukup politis untuk terbaca, tapi cukup aman untuk disangkal.

Mereka mungkin tidak sedang mencari jabatan, tapi sedang “memposisikan diri” dalam lanskap sejarah — siapa berdiri di mana ketika narasi tentang Jokowi sedang diperebutkan.

Dan di sinilah kegelisahan saya sebagai jurnalis menemukan pijakannya.

Jika ini hanya kunjungan biasa, mengapa dilakukan oleh figur dengan bobot simbolik tinggi? Jika tidak berdampak, mengapa publik memperbincangkannya sebagai sinyal politik?

Apakah Anda bisa memahami dengan jelas atau justru menambah kabut — di mana publik dipaksa menebak, antara ketulusan, strategi, dan oportunisme?

Ada kecenderungan hari ini: publik dipaksa memilih narasi ekstrem. Jokowi harus sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Pendukungnya harus tulus atau sepenuhnya oportunis. Padahal realitas — seperti yang Anda tahu dari dunia film —selalu berada di wilayah abu-abu.

Aktor bisa memainkan peran baik dan buruk dalam satu film yang sama. Manusia, apalagi figur publik, lebih kompleks dari itu.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan: “Apakah Jokowi seburuk itu?” atau “Apakah mereka oportunis?”

Sebagai jurnalis film, saya tahu kapan seseorang sedang berakting — dan kapan ia sedang memainkan peran yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Ini bukan kunjungan kepada Jokowi semata. Ini sejarah yang sedang ditulis — dan siapa aktor-aktris yang memilih untuk muncul dalam adegan tersebut. ***