Dari Sampah Jadi Energi: Cara BRI Mengubah Kantor Jadi Ekosistem Zero Waste
ORBITINDONESIA.COM — Di balik aktivitas perkantoran yang sibuk, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: sampah. Sisa makanan di pantry, botol plastik dari minuman harian, kertas yang tak lagi terpakai—semuanya perlahan menumpuk, lalu berakhir di tempat pembuangan akhir.
Namun di lingkungan Bank Rakyat Indonesia, cerita itu mulai diubah.
Melalui program Zero Waste to Landfill, BRI mencoba membalik cara pandang terhadap sampah. Bukan lagi sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang bisa dikelola, dimanfaatkan, bahkan diubah menjadi sumber energi.
Program ini lahir dari kesadaran sederhana: bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya di hilir. Perubahan harus dimulai dari sumbernya—dari kebiasaan sehari-hari para pekerja.
Di sinilah peran Green Team BRI menjadi penting.
Di berbagai unit kerja, para karyawan tidak hanya menjalankan tugas profesional, tetapi juga menjadi agen perubahan. Mereka mengedukasi rekan kerja tentang jenis-jenis sampah—mulai dari organik, anorganik, hingga residu—serta bagaimana cara mengelolanya dengan benar.
Direktur Kepatuhan BRI, A. Solichin Lutfiyanto, menyebut bahwa membangun budaya keberlanjutan dimulai dari peningkatan kesadaran individu. Ketika pekerja memahami dampak sampah terhadap lingkungan, perubahan perilaku pun mulai terjadi.
Langkah konkret terlihat dari penerapan sistem pemilahan sampah di lingkungan kantor, seperti di Gedung Kantor Pusat BRI Sudirman dan fasilitas TSI BRI di Ragunan. Tempat sampah tidak lagi satu jenis, melainkan dipisahkan sesuai kategori. Dari sini, proses pengelolaan menjadi lebih mudah—dan peluang daur ulang terbuka lebih luas.
Namun perubahan tidak berhenti di sana.
Di sudut gedung, berdiri mesin Reverse Vending Machine—sebuah teknologi sederhana yang mengajak partisipasi. Setiap botol plastik yang dimasukkan ke dalam mesin akan dihargai dengan poin, yang bisa ditukar dengan berbagai hadiah.
Dalam waktu singkat, antusiasme pekerja terlihat nyata. Lebih dari 3.700 botol plastik berhasil dikumpulkan, dengan potensi pengurangan emisi mencapai ratusan kilogram karbon. Sebuah angka kecil yang menunjukkan awal dari perubahan besar.
Di balik layar, pengelolaan sampah dilakukan lebih serius.
Sampah organik diolah menjadi maggot dan kompos. Sisa makanan yang dulu terbuang kini berubah menjadi sesuatu yang bernilai. Dalam setahun, produksi maggot mencapai 5 ton, sementara kompos mencapai 40 ton.
Sampah plastik dan kertas pun tidak lagi berakhir di tempat pembuangan. Ratusan ton material berhasil didaur ulang, mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Yang paling menarik, sampah residu—yang biasanya sulit diolah—justru diubah menjadi sumber energi melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Sebanyak 350 ton limbah berhasil dikonversi menjadi energi alternatif, membuka kemungkinan baru dalam pengelolaan sampah perkotaan.
Hasilnya tidak hanya terasa dalam angka, tetapi juga dalam dampak nyata. Sepanjang 2023, program ini berhasil mengurangi hingga 50 ton sampah per bulan yang seharusnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Semua ini tidak terjadi dalam satu langkah besar, melainkan dari rangkaian perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten—dari memilah sampah, mengedukasi, hingga berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Bagi BRI, program ini bukan sekadar inisiatif lingkungan, tetapi bagian dari transformasi budaya. Bahwa keberlanjutan bukan hanya strategi perusahaan, tetapi kebiasaan yang hidup dalam keseharian.
Di tengah krisis sampah yang semakin nyata, langkah ini menjadi pengingat: solusi tidak selalu harus dimulai dari luar.
Kadang, ia justru dimulai dari dalam—dari meja kerja, dari kebiasaan sederhana, dan dari keputusan untuk tidak lagi membuang, tetapi mengolah.***