Galaxy Watch 9 dan Watch Ultra 2: Baterai Lebih Besar, Harga Naik

The Verge

The Verge

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Galaxy Watch 9 dan Galaxy Watch Ultra 2 menegaskan arah baru Samsung: penyempurnaan, bukan revolusi, dengan fokus pada baterai dan fitur kesehatan preventif. Namun di balik layar lebih terang dan metrik kesehatan baru, publik juga akan melihat satu hal yang sulit diabaikan: harga yang ikut melonjak.

Samsung mengumumkan Galaxy Watch 9 dan Galaxy Watch Ultra 2 sebagai generasi “refinement”, yaitu mengambil hal-hal yang sudah disukai pengguna lalu memperbaikinya. Pola ini sudah terlihat beberapa generasi, tetapi tahun ini targetnya lebih spesifik: menutup kelemahan wearable Samsung pada daya tahan baterai dan fitur kesehatan preventif.

Galaxy Watch Ultra 2 kini dibanderol US$699,99, naik US$50, sementara Galaxy Watch 9 menjadi US$379,99, naik US$30. Kenaikan harga ini muncul saat pasar jam pintar makin kompetitif, ketika Apple, Garmin, Oura, Whoop, dan Fitbit/Google menjejalkan fitur kesehatan dan latihan yang makin mirip satu sama lain.

Dalam artikel sumber berbahasa Inggris, penulis menilai Samsung “lebih kurang” hanya mengutak-atik elemen yang sudah ada agar lebih baik. Dengan kata lain, ini adalah tahun perbaikan detail, bukan lompatan desain atau kategori baru.

Ultra 2 mendapat peningkatan paling nyata pada baterai: 800mAh pada ukuran 47mm, naik 35% dari 590mAh di Ultra generasi pertama. Penulis menyebut ia bisa mendapat sekitar 70 jam pada Ultra lama, sehingga peningkatan ini berpotensi mengubah pengalaman harian, meski pengujian real-world tetap menentukan.

Menariknya, baterai lebih besar tidak membuat bodi makin tebal, karena casing diklaim 12% lebih tipis menjadi 10,7mm. Strap standar juga sekitar 1mm lebih tipis menjadi 1,9mm dan terasa lebih lembut, sebuah koreksi kecil yang sering justru paling terasa saat dipakai seharian.

Untuk pengguna outdoor, Ultra 2 mengusung layar 5.000 nits dengan bezel lebih tipis, sementara Watch 9 berada di 3.000 nits. Kecerahan setinggi itu tampak berlebihan di dalam ruangan, tetapi logikanya jelas: keterbacaan di bawah matahari langsung, wilayah yang sering jadi “musuh” layar jam pintar.

Ultra 2 juga membawa fitur pelacakan trail run dengan dukungan file GPX untuk navigasi real-time dan panduan elevasi. Ada estimasi waktu selesai dan peringatan hidrasi real-time, tetapi penulis menekankan catatan penting: algoritma hanya memprediksi keringat berdasarkan intensitas latihan dan data demografis, bukan mengukur kehilangan elektrolit atau air secara langsung.

Untuk penyelam, Ultra 2 menambah sertifikasi IP69K, 10 ATM, dan EN 13319 untuk ketahanan debu dan air. Samsung juga menyiapkan aplikasi selam khusus dari Mares yang akan hadir akhir tahun, dengan fungsi memantau kecepatan turun, merekam waktu di kedalaman tertentu, dan memberi panduan naik.

Galaxy Watch 9 sendiri “sebagian besar sama” dengan Galaxy Watch 8, sehingga pembeda utamanya justru ada di jantung perangkat. Watch 9 dan Ultra 2 meninggalkan chipset Exynos milik Samsung dan beralih ke Qualcomm Snapdragon Wear Elite, yang disebut Qualcomm sebagai chipset “AI-wearable first” saat Mobile World Congress.

Peralihan chip ini diduga untuk efisiensi daya dan pemrosesan AI, termasuk performa Gemini. Dengan Wear OS 7, pengguna bisa “raise to talk” tanpa wake word Gemini, dan Samsung mengklaim telah menyetel agar Gemini tidak aktif saat pengguna hanya mengangkat pergelangan untuk melihat waktu.

Namun, artikel sumber juga menyebut kesan awal performa belum meyakinkan, karena beberapa rekan penulis melihat sedikit latensi saat menggulir layar. Ini bisa akibat unit demo dan konektivitas yang tidak stabil, sehingga kesimpulan final harus menunggu pengujian normal.

Di sisi baterai Watch 9, peningkatannya lebih konservatif: versi 40mm naik sekitar 20% menjadi 390mAh, sedangkan 44mm naik tipis dari 435mAh ke 445mAh. Samsung juga menawarkan strap 17% lebih ringan dengan “air pocket structure” agar ada celah yang membuatnya lebih sejuk dan nyaman.

Porsi pembaruan terbesar Watch 9 justru di fitur kesehatan preventif, yang juga hadir di Ultra 2. Fitur Vitals akan membuat baseline setelah satu minggu pemakaian saat tidur, lalu memberi peringatan pagi hari jika metrik seperti SpO2, detak jantung, HRV, suhu kulit, dan laju napas menyimpang dari baseline.

Penulis menyebut ini pada dasarnya “dupe” dari Apple Vitals yang hadir lewat watchOS 11 pada 2024. Samsung juga menambah Heart Health Score dan Daily Cardio Load, yang idenya mirip fitur pemantauan beban latihan dan pemulihan yang sudah lebih dulu populer di Oura, Whoop, dan Fitbit.

Fitur paling unik adalah Fitness Index berbentuk radar chart yang membandingkan kekuatan, fleksibilitas, endurance, cardio, dan komposisi tubuh terhadap pengguna Samsung lain. Data yang dipakai termasuk VO2 Max, detak jantung, langkah, waktu aktivitas, dan bioimpedance, sehingga lebih menekankan visualisasi “profil” ketimbang vonis baik-buruk.

Samsung tampak sedang memainkan strategi “catch up sambil merapikan”, dan itu masuk akal di pasar yang sudah matang. Ketika inovasi besar jarang terjadi, pemenang sering ditentukan oleh hal-hal yang membosankan tetapi krusial: baterai, kenyamanan strap, keterbacaan layar, dan konsistensi metrik kesehatan.

Namun, ada ironi yang sulit ditutupi: penyempurnaan ini datang bersamaan dengan kenaikan harga. Jika Watch 9 “hampir sama” dengan Watch 8, publik akan bertanya apakah kenaikan US$30 dibayar oleh chip baru dan metrik kesehatan yang sebagian terasa meniru, bukan mendobrak.

Ultra 2 lebih mudah dibela karena lompatan baterai 35% dan layar 5.000 nits memang konkret. Tetapi fitur hidrasi berbasis prediksi juga mengingatkan kita bahwa banyak “kesehatan preventif” di wearable masih berada di wilayah probabilistik, bukan pengukuran klinis langsung.

Samsung menyebut faktor geopolitik mungkin ikut memengaruhi kenaikan harga, dan itu realistis dalam rantai pasok global. Meski begitu, konsumen tidak membeli “alasan”, mereka membeli nilai, dan nilai itu harus terasa di pergelangan tangan setiap hari.

Galaxy Watch 9 dan Galaxy Watch Ultra 2 menunjukkan Samsung sedang menguatkan fondasi: baterai, layar, dan metrik kesehatan yang lebih proaktif. Tetapi semakin miripnya fitur antar-merek membuat pertanyaan utama bergeser dari “apa yang baru” menjadi “apa yang benar-benar berguna”.

Jika jam pintar makin mahal, maka standar kejujuran fitur juga harus naik, terutama saat algoritma dipasarkan seolah pengukuran. Pada akhirnya, yang dibutuhkan pengguna bukan sekadar grafik dan skor, melainkan perangkat yang membantu mengambil keputusan lebih bijak tanpa membuat kita bergantung pada angka. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Agustus 2026)