Simbol Moral dari Sebuah Papan: Integritas dalam Kepemimpinan M. Faiz Kurniawan
Sebuah papan pengumuman berdiri di pos jaga rumah dinas seorang pejabat publik. Kalimatnya singkat, tetapi terdengar seperti sebuah pernyataan sikap yang tegas.
“Mohon maaf tidak mengurangi rasa hormat, kami tidak menerima parsel atau bentuk lainnya.”
Di tengah kebiasaan yang kerap membungkus pemberian dengan nama kesopanan, kalimat itu terasa berbeda. Ia bukan sekadar penolakan, melainkan penegasan batas. Bahwa ada hal-hal yang memang harus dijaga sejak awal, terlebih ketika seseorang memegang jabatan publik. Sebab dalam konteks itu, sebuah pemberian tak lagi sekadar dibaca sebagai tanda hormat, melainkan juga bisa menjadi pintu masuk gratifikasi.
Dari kalimat sederhana itulah publik mulai membaca sosok M. Faiz Kurniawan, Bupati Batang yang belakangan banyak diperbincangkan sebagai salah satu kepala daerah muda dengan citra tegas dan bersih. Di usia yang relatif muda, Faiz hadir bukan hanya dengan gelar dan jabatan, tetapi juga dengan kesan bahwa pemerintahan harus dibangun di atas etika, bukan sekadar seremoni.
Lahir di Demak, 3 Agustus 1991, Faiz datang ke dunia pemerintahan bukan dari lorong birokrasi tradisional. Ia lebih dulu dikenal sebagai pengacara dan pebisnis muda, sebelum kemudian namanya mencuat ke ruang publik nasional saat tergabung dalam tim hukum Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024, termasuk dalam perkara sengketa hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi. Dari sana, publik mulai mengenalnya sebagai figur yang terbiasa bekerja di bawah tekanan, dengan logika hukum yang terukur dan disiplin argumentasi yang kuat.
Latar belakang hukum tersebut, ikut membentuk cara Faiz memaknai jabatan. Ia tidak datang ke pemerintahan hanya dengan semangat muda, tetapi juga dengan kesadaran bahwa kekuasaan selalu menuntut pengawasan, termasuk terhadap diri sendiri. Dalam salah satu wawancaranya, ia pernah mengibaratkan hidup seperti korporasi yang juga harus memiliki “CSR”, dan baginya, pengabdian di ruang publik adalah bagian dari tanggung jawab sosial itu. Cara pandang semacam ini membuat kepemimpinannya terasa tidak semata administratif, tetapi juga reflektif.
Sebagai kepala daerah, Faiz juga menunjukkan arah kepemimpinan yang cukup jelas. Di tengah derasnya arus industrialisasi di Batang, ia tidak hanya berbicara soal investasi besar dan pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat kecil harus ikut tumbuh di dalamnya. Ia mendorong agar UMKM lokal tidak tertinggal, melainkan masuk ke dalam rantai pasok industri dan memperoleh ruang yang lebih layak dalam ekosistem ekonomi daerah.
Komitmen itu kemudian mendapat pengakuan di tingkat nasional. Faiz tercatat meraih penghargaan “Apresiasi Daerah Peduli Pengembangan UMKM dan Potensi Sumber Daya Lokal” dari Kompas TV pada puncak perayaan HUT ke-14 Kompas TV pada September 2025. Penghargaan tersebut menjadi penanda bahwa arah kebijakannya dibaca sebagai upaya nyata untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati investor, tetapi juga menyentuh pelaku usaha lokal.
Tidak hanya itu, orientasi pembangunannya juga tampak pada sektor-sektor yang lebih dekat dengan kebutuhan warga. Dalam forum perencanaan pembangunan wilayah, Faiz mengusulkan sejumlah program prioritas seperti rehabilitasi irigasi, pembangunan embung, dan rekonstruksi jalan untuk mendukung ketahanan pangan serta memperlancar distribusi hasil pertanian. Gagasan itu memperlihatkan bahwa pembangunan, baginya, tidak cukup berhenti pada pertumbuhan angka, tetapi harus menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Sejumlah capaian di Batang kemudian ikut memperkuat wajah kepemimpinannya. Data yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Batang mencapai 7,49 persen, sementara angka kemiskinan turun menjadi 7,79 persen. Tentu, keberhasilan sebuah daerah tidak pernah berdiri di atas satu nama semata. Namun dalam konteks kepemimpinan, capaian semacam ini tetap menjadi bagian penting dari cara publik menilai arah kerja seorang kepala daerah. Karena yang membuat seorang pemimpin dikenang bukan semata seberapa sering namanya muncul di panggung, melainkan nilai apa yang ia bawa ke dalam jabatannya.