UEA Bantah Laporan yang Mengklaim Siap Bergabung dalam Perang Melawan Iran untuk Buka Kembali Selat Hormuz
ORBITINDONESIA.COM - Uni Emirat Arab telah menolak laporan yang menyatakan bahwa mereka bersedia bergabung dalam perang melawan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa klaim tersebut menyesatkan dan tidak mencerminkan posisi sebenarnya.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri UEA, Abu Dhabi mengatakan: “Laporan baru-baru ini yang menunjukkan perubahan sikap UEA menyesatkan.”
Kementerian menekankan bahwa UEA mempertahankan sikap defensif yang berfokus pada perlindungan kedaulatan, penduduk, dan infrastrukturnya, sambil tetap berhak untuk membela diri terhadap apa yang digambarkan sebagai “serangan yang melanggar hukum dan tanpa provokasi yang sedang berlangsung.”
Pernyataan tersebut muncul sebagai tanggapan terhadap laporan The Wall Street Journal, yang mengklaim bahwa UEA “bersedia bergabung dalam pertempuran” untuk membuka kembali jalur air strategis tersebut dengan paksa.
Abu Dhabi mengatakan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital bagi perekonomian global dan menegaskan kembali bahwa kebebasan navigasi di sana harus dijaga.
Namun, pernyataan tersebut tidak sampai mendukung partisipasi langsung dalam perang, melainkan mengatakan bahwa mereka siap mendukung upaya internasional kolektif untuk menjaga keamanan maritim, berkoordinasi dengan mitra dan sesuai dengan hukum internasional.
Penolakan UEA juga melemahkan klaim bahwa negara-negara Teluk Arab telah mendorong Presiden AS Donald Trump dan Israel untuk meningkatkan konflik. Narasi-narasi tersebut tampaknya semakin terlepas dari kenyataan.
Financial Times melaporkan bahwa Arab Saudi sangat frustrasi dengan penanganan perang yang tidak menentu oleh Trump, termasuk ancaman untuk menyerang infrastruktur Iran, saran agar negara-negara Teluk membayar biaya konflik, dan ketidakpastian berulang mengenai tujuan akhir Washington.
Laporan FT yang sama mengatakan Riyadh menyalahkan pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena memicu konflik dan khawatir akan dibiarkan menghadapi konsekuensi dari Iran yang terluka tetapi lebih termiliterisasi.
Laporan tersebut juga melaporkan meningkatnya keresahan Saudi atas kurangnya strategi AS yang jelas, serta kemarahan atas pernyataan publik Trump tentang Putra Mahkota Mohammed Bin Salman.
Alih-alih mendukung eskalasi, negara-negara Teluk tampaknya semakin kecewa dengan Washington dan khawatir dengan dampak dari perang yang tidak mereka inginkan. Pernyataan UEA dan kekecewaan Arab Saudi secara bersamaan menunjukkan bahwa kekuatan Arab di kawasan itu jauh lebih peduli dengan upaya menahan konflik daripada ikut serta di dalamnya. ***