Krisis Harga BBM: Dampaknya pada Pengemudi Rideshare

ORBITINDONESIA.COM – Harga bensin yang melambung tinggi di AS memaksa pengemudi rideshare seperti Uber dan Lyft berjuang untuk tetap bertahan, sementara biaya operasional terus meningkat.

Peningkatan harga bensin di AS setelah perang antara AS dan Israel dengan Iran telah menekan para pengemudi rideshare. Mereka terpaksa membayar lebih untuk bensin agar tetap bisa bekerja. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengemudi mengenai keberlanjutan pekerjaan mereka.

Kenaikan harga bensin telah mencapai rata-rata nasional $4 per galon, pertama kali sejak 2022. Hal ini terjadi setelah perang di Iran mengganggu pasokan minyak dunia. Pengemudi rideshare seperti Tamira Moncur dan Leanne Hall mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang keuntungan yang semakin menipis akibat biaya bahan bakar yang meningkat.

Beberapa pengemudi merasa bahwa perusahaan rideshare harus menaikkan tarif atau memberikan subsidi untuk membantu mengatasi kenaikan harga bensin. Namun, langkah yang diambil seperti insentif cash back dianggap tidak cukup. Ada juga suara yang menyarankan agar pemerintah turun tangan membantu mengatasi masalah ini.

Kondisi krisis harga bensin ini menantang baik bagi pengemudi maupun perusahaan rideshare. Tanpa solusi yang memadai, banyak pengemudi mungkin akan meninggalkan pekerjaan ini. Pertanyaan yang muncul adalah, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab untuk membantu mereka? Masyarakat menunggu jawaban dari pemerintah dan perusahaan terkait.

(Orbit dari berbagai sumber, 2 April 2026)