Kontroversi Bahasa di Balik Pengunduran Diri CEO Air Canada

ORBITINDONESIA.COM – Michael Rousseau, CEO Air Canada, mengundurkan diri setelah kritik tajam atas penggunaan bahasa Inggris dalam pesan belasungkawanya. Tragedi ini menyoroti pentingnya bahasa dalam komunikasi perusahaan.

Air Canada mengalami tekanan setelah kecelakaan fatal di Bandara LaGuardia. Pesan belasungkawa CEO Michael Rousseau yang didominasi bahasa Inggris menimbulkan kemarahan, terutama di Quebec yang mayoritas berbahasa Prancis.

Kritik terhadap Rousseau mengungkap ketegangan bahasa di Kanada. Dengan bahasa Inggris dan Prancis sebagai bahasa resmi, perusahaan besar seperti Air Canada wajib melayani publik dalam kedua bahasa tersebut. Kasus ini menyoroti pentingnya komunikasi dua bahasa dalam menjaga hubungan baik dengan semua komunitas di negara itu.

Pengunduran diri Rousseau mencerminkan sensitivitas budaya dan bahasa yang harus diperhatikan oleh pemimpin perusahaan. Ketidakmampuan berbahasa Prancis oleh seorang eksekutif di perusahaan besar Kanada seperti Air Canada dapat dilihat sebagai ketidakpedulian terhadap identitas lokal dan kebutuhan pelanggan.

Michael Rousseau mungkin telah menyadari bahwa bahasa adalah jembatan penting dalam komunikasi korporat. Perusahaan harus mempertimbangkan dampak budaya dalam setiap tindakan, terutama di negara dengan keragaman seperti Kanada. Apakah perusahaan lain akan belajar dari kejadian ini untuk lebih menghargai kekayaan budaya dan bahasa?

(Orbit dari berbagai sumber, 31 Maret 2026)