Anggi Kinanti: Pasar Tradisional Beradaptasi di Era Belanja Online

Oleh Anggi Kinanti

ORBITINDONESIA.COM - Belanja kebutuhan Lebaran, khususnya pakaian, kini semakin bergeser ke ranah online. Kehadiran berbagai platform e-commerce seperti Shopee, TikTok Shop, dan Lazada kian memperkuat tren ini, terutama melalui media sosial. Kemudahan berbelanja dari rumah, beragam promo, potongan harga, serta variasi produk menjadi daya tarik utama yang sulit ditandingi pasar tradisional.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran: apakah pasar tradisional akan ditinggalkan dan perlahan menghilang, atau justru mengalami transformasi?

Keberadaan belanja online memang menjadi tantangan serius bagi pasar tradisional. Banyak pedagang kecil merasakan penurunan omzet yang berpotensi mengancam sumber penghasilan mereka. Namun demikian, pasar tradisional tidak serta-merta akan hilang. Yang terjadi adalah proses perubahan.

Fenomena ini terlihat dari mulai banyaknya pedagang yang beradaptasi dengan teknologi. Di beberapa daerah, seperti di pusat perdagangan BTC Kota Pangkal Pinang, sejumlah pedagang mulai memanfaatkan platform digital dengan berjualan melalui live streaming di Shopee dan TikTok Shop, sembari tetap mempertahankan lapak fisik mereka.

Meski begitu, tidak semua pedagang memiliki kemampuan untuk mengikuti perkembangan ini, sehingga kesenjangan pendapatan menjadi semakin nyata.

Secara konseptual, e-commerce merupakan proses jual beli yang dilakukan melalui jaringan internet, mencakup interaksi antara penjual dan konsumen dengan sistem pembayaran digital.

Sejak masuk ke Indonesia pada Juni 2015, Shopee berkembang pesat dan menjadi salah satu platform e-commerce paling populer, dengan jumlah pengunjung yang sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Data menunjukkan bahwa produk fashion—mulai dari pakaian hingga alas kaki—menjadi kategori yang paling banyak dibeli secara online oleh masyarakat Indonesia.

Peningkatan tren ini mendorong pedagang pasar tradisional untuk mencari strategi adaptasi. Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Adaptasi dari Talcott Parsons, yang menyatakan bahwa setiap sistem sosial harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan agar tetap bertahan.

Sementara itu, Robert K. Merton menjelaskan bahwa individu memiliki beragam cara dalam merespons perubahan sosial, seperti konformitas maupun inovasi. Dalam konteks ini, pergeseran pola belanja masyarakat merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi, yang menuntut pasar tradisional untuk bertransformasi.

Di sisi lain, belanja online memang menawarkan banyak keunggulan: harga yang kompetitif, diskon, variasi produk, efisiensi waktu, hingga kemudahan pengiriman.

Namun, pasar tradisional tetap memiliki nilai lebih yang sulit tergantikan. Konsumen dapat melihat dan memegang langsung barang, serta melakukan tawar-menawar—sebuah pengalaman sosial yang tidak tersedia dalam transaksi digital.

Sebagai konsumen, pengalaman belanja online juga tidak selalu memuaskan. Tidak jarang barang yang diterima tidak sesuai dengan foto, baik dari segi bahan maupun kualitas.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pasar tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat, meskipun sering kali menawarkan harga yang relatif lebih tinggi.

Pada akhirnya, peningkatan belanja online di era digital memang mengubah pola konsumsi masyarakat, tetapi tidak serta-merta menghapus keberadaan pasar tradisional. Yang dibutuhkan adalah kemampuan beradaptasi.

Dukungan pemerintah, khususnya dalam bentuk literasi digital bagi para pedagang, menjadi sangat penting agar mereka mampu bersaing di tengah arus perubahan ini.

Dengan keseimbangan yang tepat, pasar tradisional dan belanja online tidak harus saling meniadakan. Keduanya justru dapat berkembang berdampingan secara lebih adil dan berkelanjutan.

*Anggi Kinanti adalah mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Bangka Belitung. ***