Krisis Lebanon: Pertarungan Identitas dan Keberlangsungan Hezbollah

ORBITINDONESIA.COM – Sejak perang terbaru di Lebanon dimulai, kritik terhadap Hezbollah yang sebelumnya terpendam kini mencuat ke publik. Serangan roket Hezbollah ke wilayah Israel pada 2 Maret memicu respons besar-besaran dari Israel, memaksa banyak warga Syiah mengungsi dan menyalakan kembali perdebatan tentang biaya manusia dan politik dari tindakan kelompok itu.

Perang ini tampaknya tidak terhindarkan, seperti yang dikatakan Noor Shukur, seorang perawat dari Lebanon selatan. Dia menganggap konflik ini sebagai bagian dari upaya Israel untuk mewujudkan impian 'Israel Raya'. Sementara itu, di Beirut, keluarga-keluarga yang mengungsi mengungkapkan ketidakpastian tentang masa depan mereka dan kemarahan mereka kepada Hezbollah atas perang ini.

Konflik ini memperdalam perpecahan di komunitas Syiah Lebanon. Beberapa percaya bahwa Hezbollah lebih melayani kepentingan Tehran daripada Lebanon. Sementara itu, Israel mengklaim kampanyenya bertujuan menghentikan tembakan roket Hezbollah. Pertempuran ini juga mengikuti kampanye 2024 yang melemahkan Hezbollah, terutama setelah pembunuhan pemimpin lama mereka, Hassan Nasrallah.

Banyak warga Syiah yang dulu loyal terhadap Hezbollah kini melihat tindakan menyerang Israel sebagai tindakan bunuh diri. Namun, beberapa tetap mendukung Hezbollah karena merasa ditinggalkan oleh negara. Bagi mereka, Hezbollah adalah satu-satunya pelindung yang dapat diandalkan. Di sisi lain, para analis mencatat bahwa banyak warga Syiah merasa lelah dan mungkin akan menerima otoritas negara yang lebih kuat jika ditawarkan.

Pertempuran ini memperluas jurang di dalam komunitas Syiah Lebanon. Di satu sisi, ada yang melihat Hezbollah sebagai pelindung, sementara di sisi lain, ada yang merasa kelompok ini menyeret mereka ke dalam perang. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah Hezbollah bisa bertahan di tengah tekanan yang meningkat ini.

(Orbit dari berbagai sumber, 24 Maret 2026)