Mengapa Freemason Persaudaraan Kolonial itu Justru Melahirkan Para Pejuang Kemerdekaan Indonesia
SENJATA DARI DALAM KANDANG - Mengapa Freemason Persaudaraan Kolonial itu Justru Melahirkan Para Pejuang Kemerdekaan Indonesia
Oleh M. Basyir Zubair
ORBITINDONESIA.COM - Ada ironi yang begitu tajam dalam sejarah Indonesia sehingga sulit dipercaya: bahwa sebagian dari otak-otak terbaik yang kemudian merancang kemerdekaan bangsa ini pernah duduk bersila di dalam sebuah gedung milik persaudaraan rahasia Eropa, di bawah sorotan lilin, mengucapkan sumpah kesetiaan dalam bahasa Belanda, mengenakan celemek kulit dan sarung tangan putih, dan menyebut sesama anggota, termasuk para penjajah itu, sebagai "Saudara".
Gedung itu berdiri di Malioboro Nomor 54, Yogyakarta. Orang-orang menyebutnya Loji Setan. Nama resminya: Loge "Mataram" te Djokjakarta.
Dan dari dalam kandang setan itulah, bukan dari luar, bukan dari pengasingan, bukan dari medan pertempuran, lahir sebagian dari gagasan-gagasan yang kemudian menghancurkan kolonialisme itu sendiri.
Bagaimana bisa?
I. Bukan Konspirasi, Ini Mesin Ideologi
Sebelum kita bicara Yogyakarta, kita perlu meluruskan satu kesalahpahaman besar: Freemason bukan organisasi setan, bukan kultus okultis, dan bukan dalang di balik perang dunia. Mereka jauh lebih membosankan, sekaligus jauh lebih berbahaya, dari semua itu.
Freemasonry adalah mesin ideologi. Dan ideologi yang ia sebarkan, kebebasan berpikir, kesetaraan manusia lintas ras dan agama, serta persaudaraan universal, adalah bom waktu yang ditanam dengan sadar di dalam jantung sistem kolonial.
Asal-usulnya sederhana: serikat tukang batu abad pertengahan Eropa yang membangun katedral-katedral besar. Mereka menjaga rahasia teknik, matematika, dan arsitektur tingkat tinggi melalui sistem tingkatan: Entered Apprentice (Murid Baru), Fellowcraft (Pengrajin Madya), dan Master Mason (Tuan Tukang Batu). Untuk naik tingkat, seorang kandidat harus melewati ritual inisiasi tertutup, dilantik dalam kegelapan simbolis, disumpah di atas kitab suci, dan diberi tanda pengenal rahasia yang hanya dimengerti sesama anggota.
Transformasi besar terjadi pada 24 Juni 1717, ketika empat loji London bergabung membentuk Grand Lodge of England, tonggak formal Freemasonry modern. Sejak saat itu, siapapun, bangsawan, pedagang, dokter, filsuf, dan bahkan raja, bisa mendaftar. Freemasonry berubah dari serikat tukang batu menjadi apa yang bisa kita sebut: think tank sekuler pertama di dunia, yang jaringannya menjangkau setiap sudut peradaban Eropa dan setiap pelabuhan yang pernah disinggahi kapal-kapal mereka.
Rahasia Terbuka: Apa yang Terjadi di Dalam Ritual Inisiasi
Ritual inisiasi Mason sesungguhnya adalah drama moral allegoris, bukan sihir. Seorang kandidat Entered Apprentice datang dalam kondisi "buta", matanya ditutup kain, melambangkan ketidaktahuan. Ia dipimpin memasuki ruang loji, berdiri di hadapan altar, dan bersumpah merahasiakan segala isi persaudaraan. Ia lalu "diberi cahaya", kain penutup mata dibuka, dan diperkenalkan pada simbol-simbol Mason: Jangka dan Siku-siku (lambang moralitas), Pilar dua (Yakhin dan Boaz, pilar Kuil Salomo), serta Kitab Suci yang selalu terbuka. Pada derajat Master Mason, ritual menjadi lebih dramatis: sebuah drama kematian-dan-kebangkitan simbolis, mengacu pada kisah Hiram Abiff, arsitek Kuil Salomo yang legendaris yang dibunuh karena menolak mengungkap rahasia. Semua ini bukan okultisme, ini filsafat moral yang dikemas dalam teater ritual.
Itulah yang membuat Freemasonry berbahaya bagi kolonialisme, bukan ritual lilinnya, bukan sumpah rahasianya. Yang berbahaya adalah isi ajarannya: bahwa di dalam ruang loji, seorang bupati dan seorang pegawai rendahan duduk sebagai saudara yang setara. Bahwa ras tidak menentukan martabat. Bahwa pengetahuan adalah hak semua orang, bukan hanya bangsa Eropa.
Dan gagasan itu, sekali masuk ke kepala seorang priyayi Jawa yang cerdas, tidak bisa ditarik kembali.
II. Kapal VOC Membawa Lebih dari Rempah-rempah
Ketika armada VOC berlabuh di Batavia, di antara muatan diam yang tak tercatat dalam manifes, ada sesuatu yang lebih halus dari cengkih dan pala: ideologi persaudaraan yang menyatakan bahwa semua manusia setara.
Freemason resmi hadir di Hindia Belanda pada 1764, ketika Jacobus Cornelis Matthieu Radermacher, pegawai VOC, mendirikan loji pertama di Batavia, menjadikannya loji Mason pertama di seluruh Asia. Dari satu loji, jaringan berkembang menjadi 27 loji yang tersebar dari Banda Aceh hingga Makassar, dengan lebih dari 1.500 anggota aktif pada masa kejayaannya.
Awalnya, loji-loji ini memang hanya untuk orang Eropa. Tetapi lambat laun, pintu mulai terbuka, sebagian karena idealisme Mason sendiri tentang persaudaraan universal, sebagian karena pertimbangan politik: merekrut elite pribumi berarti mengikat mereka dalam jaringan loyalitas.
Kalkulasi itu keliru secara fatal. Dan Yogyakarta adalah buktinya.
III. Loji Setan di Jantung Malioboro
Di Yogyakarta, loji Freemason resmi berdiri pada 1878 di Malioboro Nomor 54, nama resminya Loge "Mataram" te Djokjakarta. Arsitekturnya bicara keras: fasad dengan tiang-tiang bergaya dorik, tympanum segitiga di bagian tritis, proporsi klasik yang terukur. Orang Yogyakarta yang melintas di luar malam-malam mendengar musik asing dan suara-suara dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. Mereka menamai gedung itu Loji Setan.
Nama itu lahir dari dua salah paham yang menarik. Pertama, nama Belanda gedung ini Huis van Overdenking (Rumah Perenungan), dalam Jawa disebut Omah Pewangsitan, yang terdengar seperti "setan" di telinga yang tidak familiar. Kedua, ritual inisiasi Mason berlangsung dalam kerahasiaan total, malam hari, dengan lilin dan drama simbolis yang tidak dipahami dari luar. Masyarakat mengisi kekosongan informasi itu dengan imajinasi.
Yang tidak diketahui orang-orang yang menatap dari luar itu adalah: di dalam "kandang setan" tersebut, untuk pertama kalinya dalam sejarah kolonial Yogyakarta, seorang pangeran Pakualaman duduk semeja dengan seorang pedagang Belanda. Seorang bupati Jawa berdiri setara dengan seorang pejabat kolonial. Dan seorang dokter pribumi muda, putra seorang kopral pensiunan dari Kampung Glondongan, menyerap ajaran tentang kebebasan dan kesetaraan yang kelak ia gunakan untuk menghancurkan sistem yang melahirkan ajaran itu.
Siapa yang Masuk? Daftar Mengejutkan dari Gedenkboek 1767–1917
Gedenkboek van de Vrijmetselaaren In Nederlandsche Oost Indie, Buku Kenang-kenangan resmi Freemason Hindia Belanda setebal 700 halaman, memuat nama-nama yang tidak terduga: Sultan Hamengkubuwono VIII (raja Yogyakarta 1921–1939), Paku Alam VIII (adipati Pakualaman), Pangeran Arjo Soerjodilogo (Pakualaman, bergabung 1871), Pangeran Ario Notodirojo, Bupati Karanganyar R.A. Tirto Koesoemo (ketua pertama Boedi Oetomo), Ko Ho Sing (orang Tionghoa pertama menjadi anggota Mason di Hindia Belanda), dan yang paling penting, dr. Radjiman Wedyodiningrat, satu-satunya tokoh pribumi yang artikelnya dimuat dalam Gedenkboek.
IV. Paradoks Terbesar: Senjata yang Diambil dari Tangan Penjajah
Inilah inti dari seluruh cerita ini, dan inilah yang membuat Freemason di Yogyakarta bukan sekadar kisah tentang gedung atau ritual rahasia.
Para penjajah membangun Loji Mataram dengan satu asumsi: bahwa jaringan persaudaraan ini akan mengikat elite pribumi ke dalam orbit kolonial. Bahwa dengan menawarkan kursi setara di meja yang sama, priyayi Jawa akan merasa cukup, tidak perlu mempertanyakan sistem yang lebih besar.
Asumsi itu keliru. Karena yang terjadi justru sebaliknya.
Di dalam loji, para priyayi Jawa belajar dua hal yang tidak bisa diajarkan sekolah kolonial mana pun. Pertama: bahwa kesetaraan bukan hadiah dari penjajah, melainkan hak alami semua manusia. Kedua: bahwa pengetahuan, filsafat, sains, jaringan intelektual, adalah senjata, bukan ornamen. Dan begitu senjata itu berada di tangan yang tepat, tidak ada cara untuk mengambilnya kembali.
Perhatikan dengan seksama lintasan satu nama: Radjiman Wedyodiningrat.
Lahir 21 April 1879 di Kampung Glondongan, Yogyakarta, putra seorang kopral pensiunan yang bekerja sebagai penjaga di kawasan pecinan. Masa kecilnya dihabiskan mengikuti pelajaran dari luar jendela kelas, karena sekolah elite belum tentu menerima anak pribumi. Namun seorang guru Belanda membuka pintu itu. Dari sana, Radjiman tidak berhenti: STOVIA, gelar dokter di Amsterdam pada usia 20, spesialisasi bedah di Berlin, studi radiologi di Amsterdam, studi urologi di Paris.
Ia bergabung dengan Freemason pada 1913, setelah pulang dari Eropa, membawa tidak hanya gelar medis tetapi seluruh bangunan pemikiran Pencerahan Barat. Di Loji Mataram, ia bukan sekadar anggota biasa: ia menulis artikel berjudul "Een Broderketen der Volken" (Sebuah Rantai Persaudaraan Bangsa-Bangsa) yang dimuat dalam Gedenkboek, satu-satunya tokoh pribumi yang karyanya diabadikan dalam buku kenang-kenangan resmi Mason Hindia Belanda.
Tetapi perhatikan apa yang ia lakukan setelah keluar dari loji itu.
Perjalanan Seorang Anggota Mason Menuju Kemerdekaan
1908: Radjiman berpidato di Kongres Pertama Boedi Oetomo, menyerukan agar orang Jawa menyerap ilmu Barat sambil mempertahankan identitas budaya, sebuah sintesis yang persis mencerminkan ajaran Mason.
1913: Bergabung Freemason, menulis tentang persaudaraan universal.
1914–1915: Menjadi Ketua Boedi Oetomo.
1918–1921: Anggota Volksraad (Dewan Rakyat), bersuara dalam parlemen kolonial.
1945: Ditunjuk sebagai Ketua BPUPKI, badan yang merancang dasar negara Indonesia. Pertanyaan pembuka sidang BPUPKI yang ia lontarkan: "Dasar negara apa yang akan kita bangun jika Indonesia merdeka?" Pertanyaan itu memicu pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 yang memperkenalkan Pancasila.
9 Agustus 1945: Radjiman terbang ke Saigon bersama Sukarno dan Hatta untuk menjemput janji kemerdekaan dari Marsekal Teraichi, mengenakan pakaian adat Jawa, di atas pesawat pembom, dengan ancaman pesawat tempur Sekutu di langit.
Tidak hanya Radjiman. Raden Adipati Tirto Koesoemo, anggota Loji Mataram sejak 1895 menjadi Ketua Pertama Boedi Oetomo dan pada kongres kedua mengusulkan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, benih dari Sumpah Pemuda. Pangeran Ario Notodirojo, juga anggota Mason, menjadi Ketua Boedi Oetomo 1911–1914.
Pola ini terlalu konsisten untuk diabaikan: mereka masuk ke loji sebagai murid, dan keluar membawa peta.
V. Mengapa Loji Menjadi Inkubator Pergerakan Nasional
Pertanyaan ini layak dijawab dengan serius, bukan sekadar disinggung. Apa yang membuat Freemason, organisasi yang didirikan orang Eropa, dijalankan orang Belanda, justru menjadi salah satu tempat persemaian pergerakan nasional Indonesia?
Ada empat alasan yang saling bertautan.
Pertama: Jaringan. Di dalam loji, seorang priyayi muda bisa bertemu langsung dengan tokoh-tokoh kekuasaan kolonial, dokter, pengacara, dan pejabat, bukan sebagai bawahan, melainkan sebagai saudara setingkat. Jaringan ini tidak ternilai bagi siapapun yang ingin menggerakkan sesuatu.
Kedua: Ruang Bebas Bicara. Statut Mason melarang diskusi politik dan agama di dalam loji, paradoksnya, ini menciptakan ruang aman yang justru mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Para anggota terlatih berdebat, mempertahankan argumen, dan menyusun gagasan.
Ketiga: Filsafat Kesetaraan. Ajaran Mason bahwa semua manusia setara di hadapan "Arsitek Agung Semesta" langsung berbenturan dengan realitas kolonial sehari-hari. Ketegangan itu tidak bisa tidak memicu pertanyaan: jika kita setara di dalam loji, mengapa tidak di luar?
Keempat: Hubungan dengan Theosofi. Banyak anggota Mason juga aktif dalam gerakan Theosofi, yang secara terang-terangan mempromosikan budaya dan kearifan Asia sebagai setara atau bahkan lebih tinggi dari Barat. Radjiman sendiri aktif di Theosofi, menghadiri "Pertemuan Rebo Wage" di rumah Ki Hadjar Dewantara bersama Supomo, Ali Sastroamijoyo, Ki Ageng Suryomentaram, membicarakan Theosofi sekaligus pergerakan nasional.
Theosofi: Jembatan antara Loji dan Pergerakan
Pada 16 Januari 1909, Dirk van Hinloopen Labberton menyampaikan ceramah di Loji Batavia berjudul 'Theosofische in Verband met Boedi Oetomo', Theosofi dalam Kaitannya dengan Boedi Oetomo. Bukan kebetulan: banyak aktivis Mason merangkap aktivis Theosofi, dan Theosofi pada masa itu adalah ideologi yang paling tegas menyatakan bahwa peradaban Timur setara dengan Barat. Bagi seorang priyayi Jawa yang terjepit antara identitas lokal dan modernitas kolonial, Theosofi menawarkan cara untuk bangga menjadi Jawa sekaligus menjadi modern, dua hal yang oleh sistem kolonial sengaja dipertentangkan.
VI. Dilarang Soekarno, Dibebaskan Gus Dur, dan Pertanyaan yang Tersisa
Pada 6 September 1962, Presiden Soekarno menandatangani Keputusan Presiden Nomor 264 yang melarang Freemason beserta tujuh organisasi lain. Ironi berlapis: Soekarno, yang kemerdekaan bangsanya dirancang oleh sesama alumni loji Mason, membubarkan organisasi yang ikut melahirkan kemerdekaan itu. Semua loji disegel. Anggota Eropa pulang. Aktivitas berhenti total.
Tetapi cerita belum selesai. Pada 23 Mei 2000, Presiden Abdurrahman Wahid, Gus Dur mencabut Keppres Soekarno tersebut melalui Keppres Nomor 69 Tahun 2000. Freemason secara hukum tidak lagi dilarang di Indonesia. Namun tidak ada loji yang dibuka kembali secara resmi dan terbuka.
Yang tersisa adalah pertanyaan yang lebih menarik dari jawaban manapun:
Gedung Loji Mataram masih berdiri di Malioboro No. 54, kini menjadi Gedung DPRD DIY, ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional. Di ruangan yang sama tempat para Mason bersidang di bawah cahaya lilin, Wakil Presiden Mohammad Hatta pada 2 September 1948 mencetuskan doktrin politik luar negeri bebas-aktif Indonesia. Pilar-pilar doriknya masih tegak. Tympanum segitiganya masih menatap Malioboro.
Di Sleman, Jalan Radjiman masih membentang, nama yang diberikan bukan karena ia anggota Mason, melainkan karena ia Pahlawan Nasional. Makamnya ada di Desa Mlati, berdampingan dengan makam dr. Wahidin Sudirohusodo, pamannya, dua dokter Jawa yang mengguncang sejarah.
Dan pertanyaan yang sungguh-sungguh penting, yang belum ada yang menjawabnya secara tuntas: apakah benar-benar tidak ada lagi jaringan Mason yang aktif di Yogyakarta, kota yang secara historis menjadi salah satu titik paling subur persemaian ide-ide Mason di Nusantara? Keppres Gus Dur telah membuka pintu hukum. Pintu itu belum tentu kosong.
Epilog: Kandang yang Justru Membebaskan
Sejarah jarang bergerak dalam garis lurus. Ia bergerak dalam ironi.
Freemason datang ke Hindia Belanda sebagai alat lunak kekuasaan kolonial, sebuah ruang di mana elite pribumi bisa merasa dihargai, cukup terlibat, cukup setara, sehingga tidak perlu menuntut lebih. Sebuah kandang yang nyaman.
Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Di dalam kandang itu, para priyayi Jawa menemukan bahasa untuk mengartikulasikan apa yang selama ini hanya bisa mereka rasakan: bahwa ketidaksetaraan kolonial tidak alami, tidak benar, dan harus diakhiri. Mereka belajar berargumen, membangun jaringan, dan menyerap filsafat kebebasan dari tangan-tangan yang sama yang sedang menjajah mereka.
Lalu mereka keluar dari kandang itu, dan menggunakan semua yang mereka pelajari untuk menghancurkan kandangnya.
Radjiman Wedyodiningrat, anak kopral pensiunan dari Kampung Glondongan yang pernah belajar mengintip dari luar jendela kelas, yang kemudian menjadi anggota Mason dan menulis tentang persaudaraan bangsa-bangsa, yang akhirnya memimpin sidang yang melahirkan Pancasila, adalah manusia yang paling sempurna merangkum ironi itu.
Ia bukan hanya seorang dokter. Ia bukan hanya seorang Mason. Ia adalah bukti hidup bahwa gagasan, sekali ia masuk ke kepala yang tepat, tidak bisa dijinakkan oleh sistem apapun, bahkan oleh sistem yang melahirkan gagasan itu sendiri.
Sumber dan Rujukan
Stevens, Theo. 2004. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764–1962. Jakarta: Sinar Harapan.
Tim Komite Sejarah. Gedenkboek van de Vrijmetselaaren In Nederlandsche Oost Indie 1767–1917. 700 hlm.
Surjomihardjo, Abdurrachman. Kota Yogyakarta Tempo Doeloe: Sejarah Sosial 1880–1930.
Mangunwidodo, Soebaryo. 1994. Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat: Perjalanan Seorang Putra Bangsa 1879–1952. Jakarta: Yayasan Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat.
Museum Kebangkitan Nasional. 2020. "Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat: Peletak Dasar Negara dari STOVIA."
Tirto.id. 2019. "Radjiman: Ketua BPUPKI yang 'Menjemput' Kemerdekaan RI ke Vietnam."
Keputusan Presiden RI Nomor 264 Tahun 1962 tentang Pelarangan Vrijmetselaarij.
Keputusan Presiden RI Nomor 69 Tahun 2000 tentang Pencabutan Keppres No. 264/1962.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. Data Cagar Budaya Gedung DPRD DIY.
Catatan Metodologi: Klaim tentang keterlibatan tokoh-tokoh pribumi sebagai anggota Mason bersumber pada Gedenkboek 1767–1917 (dokumen resmi Mason) dan buku Stevens (2004). Lintasan karier Radjiman dikonfirmasi oleh berbagai sumber akademis dan arsip resmi. Pertanyaan tentang keberadaan jaringan Mason saat ini disajikan sebagai pertanyaan terbuka, bukan klaim.
Yogyakarta, 21 Maret 2026 ***