Ambisi Starcloud: 88.000 Satelit untuk Pusat Data Orbital
ORBITINDONESIA.COM – Starcloud, sebuah startup pusat data orbital, sedang mencari persetujuan dari Federal Communications Commission (FCC) untuk meluncurkan konstelasi hingga 88.000 satelit. Ini adalah upaya ambisius untuk mengatasi peningkatan permintaan pusat data yang didorong oleh kecerdasan buatan.
Permintaan pusat data telah meningkat pesat, terutama karena kecerdasan buatan yang memerlukan kapasitas komputasi besar. Upaya untuk memenuhi permintaan ini di daratan menghadapi banyak hambatan, seperti biaya dan keterbatasan infrastruktur. Starcloud melihat solusi di luar angkasa dengan merancang konstelasi satelit yang berfungsi sebagai pusat data orbital.
Pada tanggal 13 Maret, FCC menerima permohonan dari Starcloud untuk mengoperasikan hingga 88.000 satelit di orbit rendah Bumi. Konstelasi ini akan menggunakan orbit matahari-sinkron untuk menghasilkan daya secara hampir terus-menerus dan mengandalkan tautan data optik antar satelit serta sistem broadband untuk komunikasi. Langkah ini menandai terobosan dalam cara mengelola data dengan efisiensi dan skala yang belum pernah ada sebelumnya.
Langkah Starcloud tidak hanya menunjukkan ambisi besar tetapi juga tantangan terkait keamanan dan keberlanjutan orbit. Dengan konstelasi sebesar itu, risiko tabrakan dan polusi orbit menjadi perhatian serius. Namun, Starcloud berkomitmen untuk mengikuti praktik terbaik dalam operasi satelit dan bekerja sama dengan komunitas astronomi untuk meminimalisir dampak pada pengamatan astronomi.
Inisiatif Starcloud menandai era baru dalam pemanfaatan ruang angkasa untuk komputasi. Meski menjanjikan potensi yang besar, langkah ini juga mengundang pertanyaan tentang dampaknya terhadap lingkungan ruang angkasa dan bagaimana komunitas global akan mengatur penggunaan orbit yang semakin padat. Apakah ini akan menjadi solusi masa depan atau malah meningkatkan tantangan baru?
(Orbit dari berbagai sumber, 19 Maret 2026)