Rokhmin Dahuri: Global Warming dan Banjir Bandang di Hari Tanpa Hujan
Oleh Rokhmin Dahuri, Guru Besar IPB University Bogor/Anggota Komisi IV DPR RI
ORBITINDONESIA.COM - Bencana yang datang tanpa hujan sejatinya adalah peringatan paling jujur dari alam: bahwa yang mencair di puncak gunung, cepat atau lambat, akan mengalir ke lembah tempat manusia hidup.
Pada 26 Agustus 2026, dunia menyaksikan salah satu bencana paling mengerikan dari jantung Pegunungan Himalaya. Bukan hujan deras yang memicunya, melainkan runtuhnya massa es raksasa di dekat Langtang Lirung, di perbatasan Nepal dan Tibet.
Longsoran es dan batu itu memicu getaran seismik setara gempa berkekuatan magnitudo 5,2, sebelum berubah menjadi banjir bandang yang menyapu Lembah Trishuli sepanjang lebih dari 70 kilometer, meratakan desa-desa, memutus jembatan utama yang menghubungkan Nepal dengan China, dan bahkan menghanyutkan jasad korban hingga ratusan kilometer ke wilayah India.
Angka korban terus bertambah seiring proses pencarian yang sulit. Sampai 6 September lalu, ribuan orang dilaporkan tewas, dan ribuan lainnya—termasuk banyak wisatawan asing—masih dinyatakan hilang di Nepal maupun di wilayah Tibet, China.
Tim penyelamat kesulitan menjangkau lokasi karena jalan dan jembatan turut hancur, sementara lumpur yang bercampur air bergerak dengan kecepatan tinggi digambarkan para penyintas bagaikan "beton cair" yang tak mungkin dihindari dengan berlari.
Ketika Gunung Tak Lagi Bisa Dipercaya
Fenomena ini bukan hal baru bagi Himalaya, namun frekuensinya yang meningkat patut menjadi alarm. Kawasan Nepal, India, dan Tibet diketahui menyimpan ribuan danau glasial, sebagian besar terbentuk dari pencairan gletser yang dulunya stabil selama ribuan tahun. Sejumlah lembaga riset internasional bahkan telah mengidentifikasi puluhan danau di antaranya sebagai berpotensi tinggi untuk jebol sewaktu-waktu.
Peristiwa serupa juga pernah terjadi pada Juli 2025, ketika sebuah danau glasial di dekat perbatasan Nepal-China jebol dan menghanyutkan jembatan penting di kawasan itu.
Para ilmuwan yang mempelajari kejadian tersebut maupun bencana Agustus 2026 sepakat pada satu benang merah: pemanasan global membuat wilayah dataran tinggi semakin tidak stabil, mempercepat pencairan es dan meningkatkan risiko longsoran maupun banjir bandang di kemudian hari.
Ironisnya, bencana semacam ini datang tanpa peringatan dini yang memadai. Tidak ada hujan deras yang bisa dijadikan sinyal bahaya, tidak ada awan gelap yang mengisyaratkan evakuasi. Yang ada hanyalah es purba yang diam-diam kehilangan kekuatannya, hingga suatu hari runtuh dan membawa serta ribuan nyawa.
Antartika: Alarm dari Kutub yang Sunyi
Jika Himalaya menjadi saksi nyata di depan mata, Antartika adalah saksi diam-diam yang jauh lebih besar skalanya. Lapisan es benua putih itu menyimpan sebagian besar cadangan air tawar dunia.
Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa pencairan lapisan es di Antartika Barat berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, dan jika tren ini berlanjut, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh penduduk pegunungan seperti di Nepal, melainkan oleh miliaran manusia yang tinggal di kota-kota pesisir di seluruh dunia, dari Jakarta hingga New York.
Studi demi studi menunjukkan bahwa kenaikan suhu global, meski hanya terhitung derajat, cukup untuk mengganggu keseimbangan es yang telah terbentuk selama puluhan ribu tahun. Ketika keseimbangan itu goyah, dampaknya tidak linear—ia bisa meledak tiba-tiba, seperti yang terjadi di Langtang.
Salah satu tanda paling kasatmata dari ketidakstabilan itu adalah lepasnya bongkahan-bongkahan raksasa dari lidah es Antartika, yang kemudian menjadi gunung es (iceberg) dan terapung mengikuti arus laut hingga ribuan kilometer jauhnya.
Beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan gunung-gunung es raksasa—beberapa di antaranya seluas provinsi kecil—melepaskan diri dari rak es Antartika dan hanyut ke arah utara, menuju perairan sekitar Kepulauan Georgia Selatan hingga jalur pelayaran di Samudra Atlantik Selatan.
Fenomena ini bukan sekadar tontonan alam yang menakjubkan. Bagi kapal-kapal kargo dan kapal nelayan, gunung es yang mengambang tak menentu itu adalah ancaman navigasi nyata, memaksa otoritas pelayaran internasional mengeluarkan peringatan rute dan memantau pergerakannya lewat satelit agar tidak terjadi tabrakan seperti yang pernah menenggelamkan Titanic lebih dari seabad silam.
Namun ancaman gunung es yang mengambang hanyalah gejala di permukaan. Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah apa yang terjadi di bawahnya: setiap bongkahan es yang mencair menambah volume air ke lautan dunia, sedikit demi sedikit, namun terus-menerus dan sulit dihentikan.
Prediksi IPCC: Ketika Peta Dunia Bisa Berubah
Badan antar-pemerintah untuk perubahan iklim, IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), telah berulang kali mengeluarkan peringatan serius soal kenaikan permukaan air laut global.
Dalam laporan khusus mengenai lautan dan kriosfer (permukaan planet bumi berbentuk es), International Special Report on the Ocean and Cryosphere in a Changing Climate (SROCC), seperti halnya IPCC -- memproyeksikan kenaikan permukaan laut rata-rata global antara sekitar 0,3 hingga lebih dari 1 meter pada tahun 2100 -- jika emisi gas rumah kaca terus bertambah.
Disclaimernya tergantung, apakah emisi bertambah atau berkurang. Tergantung keseriusan manusia mencegah kenaikan panas bumi. Skenarionya: dengan emisi rendah kenaikan permukaan laut lebih rendah, sementara skenario emisi tinggi — termasuk andai pencairan lapisan es Antartika dan Greenland berlangsung lebih cepat dari perkiraan — bisa mendorong kenaikan tinggi, hingga mendekati 3 meter pada akhir abad ini (2100).
Bagi kebanyakan negara, kenaikan air laut setinggi itu berarti banjir pesisir yang makin sering dan makin parah. Namun bagi negara-negara kepulauan kecil di Samudra Pasifik, ancamannya jauh lebih eksistensial: tenggelam secara harfiah.
Kiribati, misalnya, sebagian besar penduduknya tinggal di atol Tarawa yang tingginya hanya sekitar dua meter di atas permukaan laut. Padahal proyeksi kenaikan air laut di kawasan itu saja bisa mencapai setengah hingga dua meter pada tahun 2100.
Tuvalu, negara kepulauan lain di Pasifik, diperkirakan akan kehilangan sekitar sepersepuluh luas daratannya secara permanen akibat terendam air laut. Bahkan dalam skenario pemanasan 1,5 derajat Celsius yang menjadi target minimal Kesepakatan Paris.
Negara-negara seperti Kepulauan Marshall, Nauru, Fiji, dan Kepulauan Solomon menghadapi risiko serupa—sebagian pulau tak berpenghuni di Kepulauan Solomon bahkan telah lenyap dari peta beberapa tahun terakhir.
Yang membuat ancaman ini kian pelik, IPCC juga menegaskan bahwa kenaikan permukaan laut tidak akan berhenti pada tahun 2100. Bahkan dalam skenario emisi paling rendah sekalipun, lautan akan terus naik selama berabad-abad ke depan akibat lambatnya respons lapisan es raksasa dan penyerapan panas oleh laut dalam.
Artinya, sekali proses ini berjalan, ia praktis tak dapat dibalikkan dalam skala waktu hidup manusia. Satu-satunya yang bisa dikendalikan hanyalah seberapa cepat dan seberapa parah proses itu terjadi.
Bagi negara-negara kecil di Pasifik, ini bukan lagi wacana ilmiah yang jauh, melainkan ancaman terhadap kelangsungan bangsa itu sendiri: hilangnya wilayah, hilangnya sumber air tawar, dan pada akhirnya kemungkinan migrasi paksa seluruh penduduk — sesuatu yang oleh sejumlah pemimpin Pasifik sendiri telah disebut sebagai pertaruhan atas eksistensi negara mereka.
Antara Komitmen dan Keraguan
Bencana Nepal seharusnya menjadi pengingat keras bahwa krisis iklim bukan lagi wacana masa depan, melainkan kenyataan yang merenggut nyawa hari ini. Kesepakatan Paris tahun 2015 lahir justru untuk mencegah skenario semacam ini, dengan menargetkan pembatasan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celsius.
Namun perjalanan kesepakatan itu tidak mulus. Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump kembali menarik diri dari Paris Agreement, sebuah langkah yang menuai kritik keras dari banyak ilmuwan dan pegiat lingkungan. Keputusan Presiden Trump dianggap melemahkan upaya kolektif global dalam menekan emisi karbon.
Di sisi lain, pendukung kebijakan tersebut berargumen bahwa pembatasan emisi yang ketat melemahkan perekonomian dan industri energi domestik AS.
Perdebatan ini mencerminkan ketegangan lama antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan keselamatan planet bumi jangka panjang. Ini sebuah dilema yang ironisnya sulit dipecahkan meski bukti-bukti ilmiah telah memperkuat argumen meningkatnya bahaya global warming akibat kenaikan emisi gas karbon tersebut.
Penutup: Gunung Berbicara, Dunia Harus Mendengar
Di Langtang, gunung telah berbicara dengan caranya sendiri — tanpa hujan, tanpa peringatan, hanya dengan keruntuhan yang menghanyutkan ribuan kehidupan dalam hitungan menit. Bagi Nepal, ini adalah kehilangan yang tak terperikan. Bagi dunia, ini adalah pesan yang tak bisa lagi ditunda-tunda.
Pemanasan global bukan lagi persoalan generasi mendatang. Ia telah tiba di depan pintu, dalam wujud es di puncak Himalaya yang mencair, danau yang jebol, dan desa-desa yang lenyap dalam sekejap.
Komitmen global untuk menekan emisi karbon, termasuk melalui kerangka Paris Agreement, membutuhkan keseriusan seluruh negara — termasuk negara-negara besar yang selama ini menjadi penyumbang emisi terbesar dunia.
Sebab pada akhirnya, bahaya mengerikan salju yang mencair di Himalaya maupun lapisan es yang menipis di Antartika tidak mengenal batas negara. Ia hanya menyisakan satu pertanyaan bagi kita semua: siapa yang bertanggungjawab bila kiamat ekologis menghantam manusia di muka bumi? ***