Penembakan di Old Dominion: Keberanian Mahasiswa ROTC Melawan Teror
ORBITINDONESIA.COM – Seorang mantan anggota Garda Nasional yang pernah dipenjara karena mencoba membantu ISIS melakukan penembakan di Universitas Old Dominion, menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya sebelum akhirnya diatasi oleh mahasiswa ROTC.
Insiden penembakan di Universitas Old Dominion ini membawa kembali ingatan akan ancaman terorisme domestik. Mohamed Bailor Jalloh, pelaku penembakan, sebelumnya telah menghabiskan delapan tahun di penjara karena kasus terorisme. Ia menyasar sebuah ruang kelas sebelum akhirnya dihentikan oleh keberanian mahasiswa ROTC yang berada di lokasi.
Serangan ini dipandang sebagai aksi terorisme, mengingat latar belakang Jalloh yang pernah terlibat dengan ISIS. Meskipun ia berada dalam masa pembebasan bersyarat, motifnya untuk kembali melakukan aksi kekerasan menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan pasca-pembebasan. Data menunjukkan bahwa ancaman dari individu-individu yang teradikalisasi kembali meningkat, khususnya di kalangan mantan narapidana teroris.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan. Keterlibatan mahasiswa ROTC dalam menghentikan penyerangan menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan pelatihan di lingkungan pendidikan. Namun, ini juga menyoroti kebutuhan akan kebijakan yang lebih ketat dan pengawasan terhadap mantan narapidana terorisme.
Tragedi ini mengingatkan kita akan pentingnya waspada terhadap ancaman terorisme yang dapat muncul kapan saja. Langkah kebijakan apa yang perlu diambil untuk mencegah insiden serupa? Kita harus terus mengevaluasi pendekatan kita dalam menghadapi ancaman terorisme domestik demi keselamatan publik.
(Orbit dari berbagai sumber, 16 Maret 2026)