Menumbuhkan Generasi Qurani yang Cinta Literasi dari Al Lathif Islamic International School

ORBITINDONESIA.COM- Di Jalan Cipedes Selatan No. 85, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, berdiri sebuah sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, karakter, serta kecintaan terhadap literasi sejak dini. Sekolah itu adalah Al Lathif Islamic International School, sebuah lembaga pendidikan yang menaungi jenjang SD, SMP, hingga SMA. Di sekolah ini, pendidikan tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter serta pengembangan wawasan global bagi para siswanya.

Di bawah kepemimpinan Dr. Hj. Sri Tubilah Noor, S.Pd., M.Si., sekolah ini terus mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia. Al Lathif berada di bawah naungan Yayasan Noor Rakhmah Al Lathif yang mengedepankan integrasi antara pendidikan Islam dengan kurikulum internasional Cambridge, sekaligus memanfaatkan teknologi dalam pengembangan potensi akademik para siswa.

Visi besar sekolah ini adalah membentuk generasi penghafal Al-Qur'an yang berkarakter kuat, berwawasan global, dan memiliki kemampuan unggul di berbagai bidang. Di antara berbagai program pendidikan yang dijalankan, terdapat sebuah gerakan kecil yang perlahan tumbuh menjadi cahaya: program ekstrakurikuler literasi.

Program ekstrakurikuler literasi ini digagas oleh Ririe Aiko, seorang penulis yang aktif menggerakkan literasi sekaligus Founder Gerakan Literasi AI. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga pencipta cerita. Di ruang-ruang belajar sederhana, mereka mulai belajar menuangkan perasaan, pengalaman, dan imajinasi ke dalam sebuah tulisan.

Di balik kesibukan belajar para siswa, benih-benih literasi pun tumbuh dengan subur. Hal ini terlihat dari antusiasme mereka dalam mengikuti berbagai kegiatan menulis. Beberapa di antaranya bahkan berhasil menjadi finalis lomba menulis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama pada tahun 2025. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa potensi literasi anak-anak dapat berkembang dengan baik ketika diberi ruang serta pendampingan yang tepat.

Di lingkungan MTs Al Lathif, para siswa juga dibiasakan untuk akrab dengan dunia literasi. Mereka didorong untuk membaca berbagai buku, menuliskan gagasan, serta mengekspresikan pengalaman dan imajinasi melalui karya tulis. Kegiatan menulis tidak hanya menjadi bagian dari tugas pelajaran, tetapi juga menjadi pembiasaan yang menumbuhkan keberanian berpikir dan bercerita. Dari semangat itulah lahir sebuah karya nyata dari para siswa, sebuah buku berjudul “Antologi Cerpen Baroedak Al Lathif MTS.”

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh para siswa sendiri. Cerita-cerita tersebut lahir dari imajinasi, pengalaman, serta sudut pandang anak-anak yang masih sangat muda, tetapi telah memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan mereka melalui tulisan.

Proses lahirnya buku ini tidak hanya menjadi pengalaman menulis bagi para siswa, tetapi juga menjadi perjalanan belajar tentang disiplin, keberanian, dan kerja sama. Peluncuran buku tersebut menjadi momen yang membanggakan bagi sekolah. Ia menjadi bukti bahwa di tengah era digital, literasi masih dapat hidup dan tumbuh di tangan generasi muda.

Dukungan penuh dari pihak sekolah juga menjadi faktor penting dalam berkembangnya gerakan literasi ini. Kepala sekolah, Dr. Hj. Sri Tubilah Noor, memberikan ruang yang luas bagi kegiatan literasi untuk tumbuh sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Bagi beliau, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga sarana untuk membentuk cara berpikir, empati, serta kedewasaan intelektual para siswa.

Anak-anak Al Lathif tidak hanya dibimbing untuk menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga dilatih untuk menjadi generasi yang mampu berpikir, menulis, dan menyuarakan gagasannya kepada dunia. Di tangan anak-anak Al Lathif, literasi bukan sekadar pelajaran tambahan. Ia telah menjadi jalan untuk mengenal diri, memahami sesama, dan membangun masa depan.

“Dari tangan-tangan kecil yang mulai berani menulis cerita, sesungguhnya sedang tumbuh generasi hebat yang kelak akan menuliskan masa depan bangsanya sendiri.”***