Ahmad Gaus AF: Ketika Pengusaha Bicara Geopolitik - Visi S.D. Darmono tentang Masa Depan Indonesia
Oleh Ahmad Gaus AF
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik, Universitas Nasional (UNAS), Jakarta
ORBITINDONESIA.COM - Indonesia sering disebut sebagai negara maritim terbesar di dunia. Namun dalam praktik pembangunan, bangsa ini lebih sering berpikir sebagai negara daratan. Di tengah paradoks itu, gagasan seorang pengusaha, Setyono Djuandi Darmono (lebih dikenal sebagai S.D. Darmono), menjadi menarik untuk dibaca. S.D. Darmono adalah pendiri dan Chairman PT Jababeka Tbk., perusahaan kawasan indsutri terbesar di Asia Tenggara. Ia menawarkan visi tentang Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi sekaligus jembatan peradaban dunia.
Dalam tiga bukunya, Building a Ship While Sailing, Bringing Civilizations Together, dan One City One Factory: Mewujudkan 100 Kota Baru, Darmono memperlihatkan pola pikir yang konsisten tentang masa depan Indonesia. Ia memadukan perspektif bisnis, nasionalisme, dan peradaban dalam melihat pembangunan bangsa. Dari sini terlihat jelas bahwa ia bukan sekadar pengusaha dan industriawan, tetapi juga seorang pemikir kebangsaan.
Dalam pandangannya, pengusaha bukan hanya pencari keuntungan, melainkan aktor penting dalam pembangunan nasional. Bisnis harus menjadi sarana untuk menciptakan lapangan kerja, mengurangi kesenjangan sosial, memperkuat struktur masyarakat, dan pada akhirnya ikut membangun peradaban. Dengan kata lain, ekonomi bukan tujuan akhir, melainkan instrumen bagi pembangunan bangsa.
Gagasan tersebut menjadi menarik karena lahir dari seorang praktisi bisnis yang aktif di dunia industri dan investasi. Perspektif Darmono memperlihatkan bahwa sektor swasta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional, terutama ketika negara menghadapi keterbatasan kapasitas dalam menyediakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Geopolitik Maritim Indonesia
Salah satu gagasan penting yang berulang dalam tulisan-tulisan Darmono adalah tentang posisi geopolitik Indonesia sebagai negara maritim. Ia melihat Indonesia tidak sekadar sebagai negara kepulauan, tetapi sebagai pusat pertemuan peradaban dunia.
Letak geografis Indonesia yang berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta di antara Asia dan Australia memberikan posisi strategis dalam percaturan global. Jalur perdagangan dunia yang melewati wilayah Indonesia menjadikan negara ini memiliki potensi besar sebagai simpul ekonomi dan peradaban.
Namun, menurut Darmono, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Indonesia masih cenderung melihat dirinya sebagai negara daratan, bukan sebagai kekuatan maritim. Padahal sejarah Nusantara menunjukkan bahwa kejayaan kerajaan-kerajaan besar di masa lalu (Sriwijaya, Majapahit) sangat terkait dengan kekuatan maritim dan perdagangan.
Dalam konteks ini, Darmono seolah menghidupkan kembali imajinasi geopolitik yang pernah dikembangkan oleh para pendiri bangsa. Pemikiran tersebut mengingatkan kita pada visi besar Soekarno tentang Indonesia sebagai bangsa maritim yang memiliki peran strategis dalam percaturan dunia.
Bagi Darmono, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik atau militer, tetapi juga oleh kemampuan membangun pusat-pusat ekonomi baru yang terhubung dengan jaringan perdagangan global.
Pembangunan Berbasis Kota Industri
Salah satu konsep paling menarik dari Darmono adalah gagasan “One City One Factory.” Ide ini berangkat dari pengamatannya terhadap perkembangan ekonomi di berbagai negara industri.
Menurutnya, pembangunan ekonomi yang efektif sering kali berpusat pada kota-kota industri yang memiliki spesialisasi tertentu. Kota-kota tersebut menjadi pusat produksi, inovasi, sekaligus penciptaan lapangan kerja.
Darmono membayangkan Indonesia dapat membangun sekitar 100 kota baru yang masing-masing memiliki basis industri tertentu. Dengan pendekatan ini, pembangunan ekonomi tidak hanya terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, tetapi menyebar ke berbagai daerah.
Konsep ini memiliki implikasi penting bagi pemerataan pembangunan. Ketimpangan ekonomi antarwilayah yang selama ini menjadi persoalan besar di Indonesia dapat dikurangi melalui penciptaan pusat-pusat pertumbuhan baru.
Selain itu, pembangunan kota industri juga dapat mengurangi tekanan urbanisasi yang selama ini terkonsentrasi di kota-kota besar. Jika peluang ekonomi tersedia di berbagai daerah, masyarakat tidak perlu bermigrasi secara besar-besaran ke pusat-pusat metropolitan.
Dalam konteks ini, Darmono melihat pembangunan kota industri bukan sekadar proyek ekonomi, tetapi juga proyek sosial dan peradaban. Kota-kota tersebut dapat menjadi ruang bagi tumbuhnya komunitas baru, budaya kerja baru, dan bahkan identitas baru bagi masyarakat Indonesia.
Bisnis sebagai Instrumen Peradaban
Salah satu aspek paling menonjol dari pemikiran Darmono adalah pandangannya tentang hubungan antara bisnis dan peradaban. Ia menolak pandangan sempit yang melihat bisnis semata-mata sebagai aktivitas mencari keuntungan.
Dalam berbagai tulisannya, Darmono menekankan bahwa bisnis memiliki tanggung jawab sosial yang luas. Pengusaha harus memikirkan dampak jangka panjang dari aktivitas ekonomi yang mereka lakukan, baik terhadap masyarakat maupun terhadap lingkungan. Baginya, keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat dan pembangunan bangsa.
Pandangan tersebut memperlihatkan pendekatan yang lebih luas terhadap kapitalisme. Alih-alih memandang kapitalisme sebagai sistem yang semata-mata berorientasi pada akumulasi modal, Darmono mencoba menempatkannya dalam kerangka pembangunan peradaban.
Pendekatan ini menarik karena mencoba menjembatani dunia bisnis dengan kepentingan publik. Dalam banyak negara berkembang, hubungan antara bisnis dan negara sering kali diwarnai oleh ketegangan, terutama ketika kepentingan ekonomi bertabrakan dengan kepentingan sosial.
Darmono menawarkan perspektif yang berbeda: bahwa bisnis justru dapat menjadi bagian dari solusi bagi berbagai persoalan pembangunan.
Indonesia sebagai Jembatan Peradaban
Dalam bukunya Bringing Civilizations Together, Darmono mengembangkan gagasan yang lebih luas tentang posisi Indonesia dalam peradaban dunia.
Ia melihat Indonesia memiliki potensi untuk menjadi jembatan antara berbagai peradaban global. Keragaman budaya, agama, dan etnis yang dimiliki Indonesia dapat menjadi modal penting dalam membangun dialog antarperadaban.
Dalam konteks global yang sering diwarnai konflik identitas dan ketegangan geopolitik, peran semacam ini menjadi semakin relevan. Indonesia dapat memainkan peran sebagai mediator dan ruang pertemuan berbagai tradisi peradaban.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan yang sering dikemukakan dalam diplomasi Indonesia tentang pentingnya dialog antarperadaban dan kerja sama global.
Namun bagi Darmono, peran tersebut tidak cukup hanya didorong oleh diplomasi politik. Ia harus didukung oleh kekuatan ekonomi, jaringan bisnis internasional, dan pembangunan infrastruktur yang memadai.
Dengan kata lain, peran Indonesia dalam peradaban dunia harus dibangun di atas fondasi ekonomi yang kuat.
Warisan Pemikiran Geopolitik
Jika ditarik lebih jauh, gagasan-gagasan Darmono sebenarnya berada dalam tradisi pemikiran geopolitik Indonesia yang lebih luas. Para pendiri bangsa sejak awal telah menyadari pentingnya posisi strategis Indonesia dalam peta dunia.
Soekarno, misalnya, selalu menekankan bahwa Indonesia bukan sekadar negara nasional, tetapi bagian dari dinamika global yang lebih besar. Ia membayangkan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki peran aktif dalam membentuk tatanan dunia yang lebih adil.
Dalam konteks ini, pemikiran Darmono dapat dilihat sebagai kelanjutan dari imajinasi geopolitik tersebut, tetapi dengan pendekatan yang lebih ekonomis dan pragmatis.
Jika Soekarno berbicara tentang politik dunia dan solidaritas antarbangsa, Darmono berbicara tentang pembangunan kota industri, jaringan bisnis global, dan transformasi ekonomi.
Keduanya, dengan cara yang berbeda, sama-sama melihat Indonesia sebagai bangsa yang memiliki potensi besar untuk memainkan peran penting dalam percaturan dunia.
Perspektif yang Berbeda
Pemikiran S.D. Darmono memperlihatkan bahwa gagasan tentang masa depan Indonesia tidak hanya lahir dari kalangan akademisi atau politisi, tetapi juga dari dunia bisnis.
Pengalaman praktis dalam mengelola industri dan investasi memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana pembangunan ekonomi dapat dijalankan. Perspektif tersebut sering kali lebih pragmatis, tetapi juga kaya dengan pengalaman empiris.
Dalam konteks Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan—mulai dari ketimpangan ekonomi hingga keterbatasan lapangan kerja—gagasan-gagasan semacam ini layak mendapat perhatian serius.
Sudah barang tentu tidak semua ide yang diajukan Darmono dapat langsung diterapkan tanpa kritik atau evaluasi. Konsep pembangunan kota industri, misalnya, memerlukan perencanaan yang matang, dukungan infrastruktur, serta kebijakan negara yang konsisten.
Namun setidaknya, pemikiran tersebut membuka ruang diskusi baru tentang bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan posisi geopolitiknya, mengembangkan kekuatan ekonominya, dan membangun peradaban yang lebih maju.
Apa yang menarik dari gagasan Darmono adalah proposal-proposal ekonominya sekaligus juga visi besarnya tentang Indonesia. Ia melihat pembangunan bukan sekadar soal pertumbuhan ekonomi, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang sebuah bangsa dalam membangun peradaban.
Pemikiran Darmono mengingatkan kita bahwa pembangunan nasional seharusnya tidak berhenti pada angka-angka statistik, melainkan harus diarahkan pada penciptaan masyarakat yang lebih sejahtera, lebih adil, dan lebih beradab.***