Kultur Lembur di Bangladesh: Antara Dedikasi dan Eksploitasi
ORBITINDONESIA.COM – Di era modern ini, banyak negara mulai meninggalkan budaya lembur, namun Bangladesh tetap menganggapnya sebagai simbol dedikasi. Apakah pengejaran produktivitas ini justru merugikan?
Budaya kerja lembur telah lama mengakar dalam dunia korporat di banyak negara, termasuk Bangladesh. Tradisi ini menganggap lembur sebagai tanda komitmen dan kerja keras. Namun, pola pikir generasi muda mulai menantang anggapan ini.
Penelitian menunjukkan bahwa jam kerja berlebih dapat merugikan bisnis. Studi Stanford 2014 mengungkap penurunan produktivitas setelah 50 jam kerja per minggu. Burnout Research 2020 mengaitkan jam kerja panjang dengan burnout, yang meningkatkan absen dan tingkat keluar-masuk karyawan.
Generasi muda menginginkan keseimbangan kerja-hidup yang sehat. Mereka mendorong pendekatan kerja yang lebih fleksibel dan efisien. Perubahan ini bukan sekadar kenyamanan, tetapi upaya menciptakan lingkungan kerja berkelanjutan yang menghargai kebutuhan individu.
Perubahan dalam dunia kerja tak terelakkan. Perusahaan-perusahaan di Bangladesh harus beradaptasi dengan era baru yang menghargai kesejahteraan karyawan dan keseimbangan hidup. Bagaimana kita dapat memastikan bahwa perubahan ini tidak hanya menguntungkan bisnis, tetapi juga individu?
(Orbit dari berbagai sumber, 8 Maret 2026)