Ria Miranda, Membawa Estetika Minangkabau ke Panggung Mode Global
Suatu malam di tahun-tahun awal merintis usahanya, Ria Miranda masih duduk di depan tumpukan kain yang belum selesai dijahit. Ruangan kecil itu hangat oleh lampu jahit dan sisa-sisa benang di lantai. Di saat hari telah usai bagi banyak orang, Ria justru masih bekerja, pelan dan tekun, seorang diri.
Ia belum dikenal siapa pun saat itu.
Ia hanya perempuan muda dengan modal Rp15 juta dan keyakinan kuat bahwa usahanya akan menemukan jalannya.
Busana muslim di masa itu belum seramai sekarang. Modelnya terbatas, warnanya cenderung gelap, pilihannya sedikit. Tetapi setiap kali mengenakan pakaian yang tersedia di pasaran, Ria merasa ada yang kurang. Bukan soal tren. Bukan soal gaya. Ia hanya merasa perempuan muslim seharusnya bisa tampil lebih lembut dan lebih hidup.
Keinginan itu mula-mula sangat personal. Ia menjahit untuk dirinya sendiri dan mengenakan desainnya sendiri. Dari pengalaman sederhana itu, ia tahu: jika ia membutuhkannya, perempuan lain mungkin juga sama.
Keputusan untuk menjual desainnya hampir tanpa rencana besar. Ia membuat beberapa potong busana, memotretnya seadanya, lalu mengunggahnya di blog pribadi. Ia juga menawarkannya lewat BlackBerry Messenger kepada teman-teman dekat. Tidak ada strategi pemasaran yang besar. Hanya sebuah harapan kecil: semoga ada yang suka.
Dan memang ada.
Pesanan pertama datang dari lingkar pertemanan. Lalu bertambah sedikit demi sedikit. Ia dan lima orang timnya menjahit beberapa potong busana setiap hari. Satu gaun bisa memakan waktu dua hari. Semua dikerjakan hampir manual, dari desain hingga pengepakan.
Ria bahkan tidak menggaji dirinya sendiri. Ia hanya memastikan satu hal: usaha ini tetap hidup besok.
Namun tidak semua perjuangan usaha itu mudah. Ia pernah kehilangan sketsa desain. Pernah pula dikhianati rekan kerja. Luka kecil yang bagi perintis usaha bisa terasa besar. Tetapi ia tidak punya kemewahan untuk berhenti. Ia hanya punya pilihan bertahan.
Di rumah, keluarga menjadi ruang pulang. Ia dibesarkan di lingkungan Minangkabau yang akrab dengan dunia usaha. Dari merekalah ia belajar bahwa bisnis bukan hanya soal untung, tetapi soal tahan. Ketika kemudian keluarga memberi dukungan modal, yang ia rasakan bukan sekadar bantuan finansial melainkan kepercayaan.
Tahun 2008, label kecil bernama Shabby Chic by Ria Miranda lahir. Setahun kemudian namanya menjadi Ria Miranda. Saat itu belum ada yang membayangkan label sederhana itu kelak berjalan di panggung mode internasional. Bahkan Ria sendiri mungkin belum.
Yang ia tahu hanya satu: ia ingin membuat busana muslim yang membuat perempuan merasa tenang saat memakainya.
Seiring waktu, identitas itu justru semakin jelas. Ria tidak sekadar merancang busana muslim modern, tetapi perlahan menenun rasa Minangkabau ke dalam karyanya, dalam kelembutan warna, detail tekstil, dan keanggunan yang berakar pada budaya perempuan Minang. Dari sanalah desain-desainnya kemudian melangkah ke panggung mode internasional, membawa estetika Sumatra Barat ke ruang global tanpa kehilangan kesahajaan asalnya.
Tahun-tahun berlalu. Industri modest fashion tumbuh. Namanya ikut membesar. Busana berwarna pastel lembut itu kini dikenakan perempuan di berbagai negara. Tetapi jika ditarik kembali ke awal, kisahnya tidak dimulai dari runway atau sorotan lampu.
Ia dimulai dari ruang jahit kecil, malam yang panjang, dan perempuan muda yang terus bekerja meski belum ada yang melihat. Di sanalah mimpi itu dijahit, pelan, rapi, dan penuh harap.
Dan mungkin di situlah letak kekuatan kisah Ria Miranda: ia tidak lahir dari gemerlap. Ia tumbuh dari ketekunan yang sunyi. Dari tangan yang terus bergerak ketika dunia belum memberi tepuk tangan.
Karena kadang, yang paling mengubah dunia bukanlah langkah besar yang terlihat semua orang, melainkan jahitan kecil yang dikerjakan seseorang dengan setia, setiap hari.