Radikalitas Self-Care di Tengah Kekerasan Global
ORBITINDONESIA.COM – Di tengah dunia yang dilanda kekerasan dan ketidakadilan, self-care menjadi lebih dari sekadar tren; ia adalah tindakan perlawanan yang esensial.
Kekerasan kini bukan lagi pengecualian, tetapi kenyataan sehari-hari. Dari kekerasan di jalanan hingga krisis ekonomi, masyarakat menghadapi tekanan yang menuntut perlawanan aktif. Namun, dalam konteks ini, self-care sering disalahartikan sebagai kegiatan individualistik yang kosong.
Sejarah self-care dalam gerakan Black feminis menyoroti pentingnya self-care sebagai praktek kelangsungan hidup. Audre Lorde menunjukkan bahwa self-care adalah 'perang politik', bukan sekadar kenyamanan. Dalam konteks kapitalisme, self-care sering tereduksi menjadi aktivitas konsumtif, tetapi akar feminisnya melawan isolasi individual. Studi oleh Inna Michaeli menggarisbawahi bahwa self-care adalah bagian dari perjuangan panjang melawan penindasan.
Memahami self-care sebagai disiplin politik mengubah paradigma perawatan diri dari sekadar kemewahan menjadi kebutuhan etis. Ini adalah pilihan harian untuk menjaga integritas emosional dan solidaritas. Self-care menolak norma pengorbanan berlebihan dalam aktivisme, menekankan pentingnya ketahanan dan dukungan kolektif.
Di dunia yang penuh kekerasan, self-care bukanlah pelarian tetapi pembentukan kekuatan batin untuk perubahan. Ia menuntut kita untuk tidak menunggu waktu yang lebih baik untuk peduli pada diri sendiri. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengintegrasikan self-care sebagai bagian dari strategi perlawanan kolektif?
(Orbit dari berbagai sumber, 6 Februari 2026)