Sri Hastuti dan Ruang bagi Perempuan di Lapangan Hijau

“Saya Sri Hastuti, siapa bilang pelatih sepak bola hanya laki-laki.”

Kalimat itu diucapkan dengan lantang oleh seorang perempuan asal Yogyakarta, pendiri tim sepak bola Putri Mataram, yang telah bertahun-tahun berkecimpung dalam pembinaan sepak bola perempuan. Tidak ada nada menantang dalam suaranya. Ia mengatakannya sebagai pernyataan posisi, menegaskan bahwa sepak bola perempuan perlu diakui dalam sistem liga.

Sri Hastuti bukan sosok yang lahir dari popularitas. Namanya dikenal luas justru setelah potongan kisah hidupnya beredar di media sosial. Publik melihat keseharian seorang pelatih sepak bola putri yang bekerja dengan fasilitas terbatas, sering kali tanpa dukungan finansial yang memadai. Namun bagi Sri Hastuti, kondisi itu bukan hal baru. Jauh sebelum kisahnya viral, ia telah menjalani peran tersebut secara konsisten.

Pada akhir 1980-an, Sri Hastuti pernah menjadi bagian dari tim nasional sepak bola putri Indonesia. Ketika masa bermainnya berakhir, Sri Hastuti memilih tetap tinggal di lapangan, kali ini sebagai pelatih. Pengalaman sebagai pemain membentuk pemahamannya tentang dunia sepak bola perempuan, tentang sempitnya ruang, minimnya kompetisi, dan dukungan yang sering terhenti ditengah jalan. 

Melalui Putri Mataram, Sri Hastuti membina pemain-pemain perempuan dari berbagai latar belakang. Latihan berlangsung sederhana, jauh dari gambaran fasilitas ideal. Namun ia percaya, keberlanjutan lebih penting daripada kemewahan. Selama masih ada anak perempuan yang ingin berlatih, ia merasa bertanggung jawab memastikan proses itu tetap berjalan.

Di luar lapangan, Sri Hastuti juga menjalani peran sebagai kepala sekolah dasar. Latar belakang sebagai pendidik memengaruhi pendekatannya dalam melatih. Ia tidak semata mengejar kemenangan atau prestasi jangka pendek. Sepak bola, baginya, adalah sarana pendidikan karakter. Disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan kepercayaan diri menjadi nilai yang terus ia tanamkan kepada para pemain.

Lapangan sepak bola menjadi ruang belajar alternatif. Di sanalah para pemain perempuan berhadapan dengan tantangan fisik, mental, sekaligus stigma sosial. Sepak bola masih kerap dipandang sebagai ranah laki-laki. Dalam konteks itu, kehadiran pelatih perempuan seperti Sri Hastuti memberi arti penting, bukan hanya sebagai pembimbing teknis, tetapi juga sebagai figur yang memahami pengalaman pemainnya.

Kerja Sri Hastuti mungkin tidak selalu terlihat di panggung besar sepak bola nasional. Ia jarang berbicara tentang target ambisius. Fokusnya ada pada pembinaan jangka panjang, pada proses yang sering kali luput dari perhatian. Ia memahami bahwa perubahan tidak selalu datang cepat, tetapi harus dijaga agar tidak padam.

Di tengah dunia olahraga yang kerap menilai keberhasilan dari gelar dan sorotan, kisah Sri Hastuti menawarkan sudut pandang lain. Bahwa ada kerja-kerja yang dilakukan secara tenang, berulang, dan bertahan lama. Kerja yang tidak banyak terdengar, tetapi memberi ruang bagi perempuan untuk tetap berada di lapangan hijau.

Sri Hastuti memilih jalan itu. Bukan untuk membuktikan siapa lebih unggul, melainkan untuk memastikan satu hal sederhana: sepak bola juga milik perempuan.