Tekanan Saham Konglomerat: Dampak Metodologi Baru MSCI
ORBITINDONESIA.COM – Ketegangan melanda pasar saham Indonesia ketika saham konglomerasi besar mengalami penurunan drastis, dipicu oleh rencana MSCI mengubah metodologi perhitungan free float.
Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) yang diharapkan masuk indeks MSCI Standard Cap justru tertekan. Data BEI mencatat penurunan signifikan, dengan BUMI turun 18,36% dan PTRO jatuh 32,81% dalam satu pekan.
Penurunan ini sebagian dipicu oleh aksi jual bersih investor asing di saham BUMI sebesar Rp1,67 triliun, sementara PTRO masih menarik beli bersih sebesar Rp327,29 miliar. Perubahan metodologi MSCI menyebabkan kekhawatiran di kalangan investor, memicu volatilitas di pasar.
Perubahan metodologi perhitungan free float oleh MSCI dianggap sebagai langkah penting untuk merefleksikan kepemilikan saham yang lebih akurat. Namun, dampaknya menimbulkan tantangan bagi emiten dalam menjaga stabilitas harga saham mereka di tengah ketidakpastian pasar.
Perubahan ini mengajak semua pihak untuk lebih adaptif terhadap dinamika pasar global. Akankah langkah MSCI ini justru menjadi katalis bagi reformasi lebih lanjut di pasar saham Indonesia?