Merosot Lagi Hari Senin, Pergerakan IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Skenario Terburuk di 7.000.

ORBITINDONESIA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari Senin, 2 Februari 2026, ditutup pada angka 7.992, anjlok 407 poin alias minus 4,89% dibandingkan penutupan Jumat lalu. Dengan demikian, sejak Kamis lalu IHSG sudah turun lebih dari 12%.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai, pergerakan IHSG masih rawan koreksi dengan skenario terburuk di 7.000.

Pengelola aset asal Jepang, Nomura, juga menurunkan rekomendasi saham Indonesia dari overweight menjadi netral. Penurunan rekomendasi tersebut didasarkan pada meningkatnya risiko terkait investabilitas serta potensi arus keluar dana dari investor pasif, menyusul peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai kemungkinan penurunan status Indonesia dari kategori emerging market.

Sebelumnya, Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight. Sementara UBS Group AG memangkas menjadi netral dari overweight.

S&P Global merilis Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia di level 52,6 pada Januari 2026, meningkat dari Desember 2025 yang 51,2. Dengan begitu, PMI Manufaktur Indonesia berada di zona ekspansi (>50) selama 6 bulan berturut-turut. S&P Global mencatat peningkatan produksi dan pesanan baru menjadi pendorong utama peningkatan PMI pada periode Januari 2025. 

Permintaan domestik masih menjadi penopang utama aktivitas manufaktur. Kinerja ekspor masih tertekan dan melanjutkan tren penurunan selama 5 bulan berturut-turut, imbas dari kebijakan tarif. Di sisi lain, produksi manufaktur terus meningkat selama 3 bulan beruntun. Namun, S&P Global mencatat adanya penurunan jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur pada Januari 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada Desember 2025 mencatatkan surplus USD 2,51 miliar, lebih rendah dibandingkan November 2025 yang surplus USD 2,66 miliar. Dengan begitu Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 68 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, nilai ekspor Desember 2025 mencapai USD 26,35 miliar, tumbuh 11,64% (yoy). Sementara, impor sebesar USD 23,83 miliar, naik 10,81% (yoy). Surplus terutama ditopang komoditas nonmigas yang tercatat sebesar USD 4,60 miliar.

Secara kumulatif, sepanjang Januari-Desember 2025, neraca perdagangan mencatatkan surplus sebesar USD 41,05 miliar. Angka ini meningkat USD 9,72 miliar dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar USD 31,33 miliar.

Surplus sepanjang Januari-Desember 2025 terutama ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar USD 60,75 miliar, sementara komoditas migas masih mencatatkan defisit sebesar USD 19,70 miliar. 

Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 menunjukkan deflasi sebesar 0,15% dibandingkan bulan sebelumnya (mtm), dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75. Secara tahunan (yoy) Indonesia mengalami inflasi 3,55%.

Deputi Bidang Statistik BPS, Ateng Hartono menjelaskan, tingginya inflasi tahunan itu disebabkan low base effect, karena pada Januari-Februari 2025 pemerintah menerapkan diskon tarif listrik. Penyumbang deflasi bulanan terbesar pada bulan Januari 2026 berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan deflasi sebesar 1,03% dan andil deflasi 0,30%.

Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi 0,32% dengan andil deflasi 0,06%. Komoditas yang dominan memberi andil deflasi adalah bensin, tarif angkutan udara, dan angkutan antarkota. Komponen harga bergejolak mengalami deflasi 1,96% dengan andil deflasi 0,33%.

Komoditas penyumbang adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Komponen inti mengalami inflasi 0,37% dengan andil inflasi 0,24%. Komoditas yang memberi andil adalah emas perhiasan, sewa rumah, sepeda motor, dan nasi dengan lauk.

(Sumber: BDS Alliance) ***