Bagi Para Kekasih Allah, Tidak Ada Lagi Sunni–Syiah

ORBITINDONESIA.COM - Dalam perjalanan spiritual umat Islam, mazhab sering kali menjadi penanda identitas: Sunni, Syiah, dan berbagai cabangnya. Ia penting sebagai pagar akidah, disiplin ibadah, dan warisan keilmuan. Namun, dalam tradisi para pencari Tuhan sejati, mazhab sering kali hanya menjadi tangga—bukan tujuan akhir.

Salah satu contoh yang menarik adalah sosok Sadruddin al-Shirazi, atau yang dikenal sebagai Mulla Sadra. Seorang ulama Syiah yang mencapai puncak dalam filsafat, tafsir, dan tasawuf.

Hidupnya dihabiskan untuk ilmu dan riyadhah. Bahkan wafatnya pun terjadi dalam perjalanan haji yang ketujuh, yang ia tempuh dengan berjalan kaki, sebagai bagian dari suluk spiritualnya.

Kisah hidupnya menunjukkan bahwa dalam tradisi Syiah Imamiyah pun, jalan tasawuf dan tarekat itu nyata—meskipun bentuknya berbeda dengan tradisi tarekat Sunni. Di kalangan Syiah, suluk sering diwujudkan dalam bentuk pendalaman filsafat ketuhanan, tafsir batin, dan pengkajian kitab-kitab tasawuf tingkat lanjut, bukan dalam bentuk organisasi tarekat formal.

Karena itu, anggapan bahwa dalam Syiah tidak ada tarekat atau suluk sejatinya lahir dari keterbatasan perspektif.

Tasawuf sebagai Titik Temu

Dalam sejarah Islam, banyak ulama besar lintas mazhab yang bertemu dalam satu ruang spiritual: tasawuf dan makrifat.

Para tokoh Syiah mempelajari karya-karya ulama Sunni. Para ulama Sunni mengkaji karya-karya Syiah. Kitab-kitab Ibn Arabi, Al-Ghazali, Jili, Qaysari, dan lainnya dibaca tanpa mempersoalkan sekat mazhab.

Yang dicari bukan “dari golongan siapa”, tetapi: “Apakah tulisan ini membawaku lebih dekat kepada Allah?”

Inilah tradisi tasawuf muntahi—tasawuf tingkat lanjut—yang fokus pada hakikat tauhid: pembahasan tentang Dzat, Asma, Sifat, tajalli, dan hakikat wujud.

Di level ini, agama tidak lagi dipahami sekadar sebagai kumpulan aturan, tetapi sebagai perjalanan menuju pengenalan kepada Tuhan.

Agama Para Pecinta Allah

Mulla Sadra, dalam tafsirnya tentang huruf Ba pada Bismillah, menulis bahwa manusia memiliki berbagai jalan, ajaran, dan doktrin. Masing-masing merasa bangga dengan jalannya sendiri, bahkan sering meremehkan jalan orang lain.

Namun, menurutnya, agama para pecinta Allah berbeda.

Mereka tidak memiliki agama selain Allah. Tidak memiliki tujuan selain Dia.

Mereka tidak menyembah pendapat, kelompok, atau identitas. Yang mereka sembah hanyalah kebenaran Ilahi.

Karena cinta kepada Tuhan hanya mungkin lahir dari pengenalan kepada-Nya. Seseorang tidak mungkin mencintai sesuatu yang tidak ia kenal. Maka, semakin dalam makrifat seseorang, semakin tipis keterikatannya pada simbol-simbol lahiriah.

Bukan berarti syariat ditinggalkan. Bukan pula berarti mazhab dihapus. Tetapi mazhab tidak lagi menjadi pusat identitas.

Yang menjadi pusat adalah Allah.

Mazhab: Penting, Tapi Tidak Absolut

Bagi kebanyakan umat—termasuk kita yang masih belajar—mazhab sangat penting: Menjaga akidah. Menjaga adab. Menjaga keilmuan. Menjaga stabilitas umat

Tanpa mazhab, agama mudah menjadi liar dan subjektif.

Namun, bagi mereka yang telah menempuh jalan panjang riyadhah, ilmu, dan penyucian diri, mazhab bukan lagi medan perdebatan, melainkan sarana pengabdian.

Seperti orang yang mendaki gunung: Selama mendaki, jalur sangat penting. Tapi setelah sampai puncak, yang dilihat adalah panorama yang sama.

Keresahan Zaman dan Ujian Nurani

Tulisan ini lahir bukan hanya dari kajian kitab, tetapi juga dari kegelisahan zaman.

Di tengah konflik global, manipulasi kekuasaan, dan permainan geopolitik, umat sering terseret ke dalam barisan yang membingungkan secara moral. Yang lemah ditindas. Yang zalim dilindungi. Yang munafik tampil sebagai pembela kemanusiaan.

Bagi orang yang masih memiliki nurani, situasi ini menggerogoti batin. Lelah. Malu. Kecewa. Bingung.

Namun, para arif selalu mengingatkan: Jangan biarkan kegelapan zaman memadamkan cahaya hati. Justru di masa gelap, keikhlasan diuji.

Penutup: Menuju Agama yang Murni

Tulisan ini bukan ajakan untuk meniadakan mazhab. Bukan pula pembenaran untuk relativisme.

Ini adalah ajakan untuk menempatkan mazhab secara proporsional. Mazhab adalah kendaraan. Tujuan kita adalah Allah.

Selama masih belajar, kita butuh kendaraan itu. Selama masih lemah, kita perlu pagar. Selama masih awam, kita perlu guru.

Namun, jangan sampai kendaraan menjadi berhala. Jangan sampai pagar menjadi tembok. Jangan sampai identitas menjadi penghalang cinta.

Pada akhirnya, seperti kata Mulla Sadra: “Agama mereka hanyalah Allah.”

Semoga kita diberi taufik untuk tetap rendah hati dalam belajar, jujur dalam mencari, dan istiqamah dalam mencintai-Nya.

Wallahu a‘lam bis shawab.

(Sumber: Anonim/medsos) ***