Kebangkitan Nuklir Jepang: Tantangan dan Peluang
ORBITINDONESIA.COM – Pada puncak ketakutan, lebih dari 150.000 orang meninggalkan rumah mereka akibat kebocoran radiasi. Kini, meski sudah dianggap aman, banyak yang belum kembali.
Reaktor nomor enam di pembangkit listrik Kashiwazaki-Kariwa baru saja ditangguhkan. Penangguhan ini menambah kekhawatiran publik tentang keselamatan dan stabilitas nuklir Jepang. Meskipun demikian, pemerintah berusaha keras menyakinkan bahwa tidak ada dampak radioaktif di luar.
Jepang pernah menjadi pelopor tenaga nuklir, menyuplai hampir 30% dari kebutuhan listriknya sebelum 2011. Setelah bencana Fukushima, negara ini berjuang menghidupkan kembali reaktornya untuk mencapai target emisi nol bersih pada 2050. Sejak 2015, 15 dari 33 reaktor yang masih bisa dioperasikan telah dinyalakan kembali.
Keputusan untuk menghidupkan kembali reaktor, meski ada protes publik, menunjukkan dilema antara kebutuhan energi dan keamanan. Masyarakat lokal di Niigata masih khawatir, sementara pemerintah menilai ini sebagai langkah strategis mencapai target energi bersih.
Pertanyaan tetap: Apakah keuntungan dari energi nuklir sebanding dengan risiko yang dihadapi? Jepang perlu menyeimbangkan antara kebutuhan energi dan keamanan masyarakatnya. Langkah ke depan harus melibatkan dialog lebih dalam dengan publik untuk memperoleh dukungan yang dibutuhkan.
(Orbit dari berbagai sumber, 24 Januari 2026)