Resensi Buku Surrounded by Idiots (2014) Karya Thomas Erikson

Pendahuluan: Ketika Dunia Terasa Dipenuhi Orang yang Tak Bisa Dipahami

ORBITINDONESIA.COM- Surrounded by Idiots (2014) karya Thomas Erikson merupakan salah satu buku pengembangan diri dan komunikasi interpersonal paling populer dalam satu dekade terakhir. Pertama kali terbit pada 2014 di Swedia dan kemudian diterjemahkan ke puluhan bahasa, buku ini menjawab kegelisahan universal manusia modern: mengapa kita begitu sering merasa dikelilingi oleh orang-orang yang “tidak nyambung”, “menyebalkan”, atau “sulit diajak kerja sama”.

Thomas Erikson, seorang konsultan perilaku dan pelatih komunikasi asal Swedia, tidak menulis buku ini dari menara gading psikologi akademik, melainkan dari pengalaman praktis bertahun-tahun mendampingi organisasi, perusahaan, dan individu. Ia mengawali buku ini dengan pengakuan jujur bahwa perasaan “dikelilingi orang bodoh” hampir selalu muncul bukan karena orang lain benar-benar bodoh, melainkan karena kegagalan kita memahami cara berpikir, berkomunikasi, dan memproses dunia yang berbeda dari diri kita sendiri.

Buku ini hadir di tengah dunia kerja yang semakin kompleks, multikultural, dan serba cepat, ketika konflik komunikasi menjadi sumber utama stres, kegagalan tim, dan keretakan relasi personal. Dalam konteks itulah Surrounded by Idiots tampil bukan sebagai buku motivasi klise, melainkan sebagai peta praktis untuk memahami perbedaan manusia secara lebih dewasa.

Isi dan Kerangka Pemikiran: Warna sebagai Bahasa Kepribadian

Struktur buku ini dibangun secara sederhana namun efektif. Erikson memperkenalkan model kepribadian berbasis empat warna—merah, kuning, hijau, dan biru—yang diadaptasi dari teori DISC. Namun kekuatan buku ini tidak terletak pada orisinalitas teorinya, melainkan pada cara Erikson menerjemahkan konsep psikologi menjadi bahasa sehari-hari yang mudah dipahami siapa pun.

Merah digambarkan sebagai tipe dominan, tegas, berorientasi hasil, dan cenderung tidak sabar. Kuning adalah pribadi ekspresif, komunikatif, optimistis, namun sering kurang terstruktur. Hijau merepresentasikan stabilitas, empati, dan kesetiaan, tetapi sering menghindari konflik dan perubahan. Biru melambangkan analitis, teliti, perfeksionis, dan rasional, namun kerap terjebak pada detail dan kehati-hatian berlebihan.

Alih-alih memberi label psikologis kaku, Erikson menekankan bahwa setiap orang memiliki kombinasi warna, dengan satu atau dua yang dominan. Masalah muncul ketika kita menganggap cara berpikir dan berkomunikasi kita sebagai standar universal, lalu menilai orang lain dari kacamata itu. Di sinilah buku ini menunjukkan daya jelaskannya: konflik bukan karena niat buruk, tetapi karena perbedaan cara memaknai dunia.

Pendekatan Praktis: Dari Kesal ke Kesadaran

Salah satu kekuatan utama Surrounded by Idiots adalah pendekatan pragmatisnya. Erikson tidak berhenti pada deskripsi tipe kepribadian, tetapi menunjukkan bagaimana menyesuaikan cara berkomunikasi dengan tiap tipe. Ia mengajak pembaca untuk berhenti menuntut orang lain berubah, dan mulai mengubah strategi komunikasi sendiri.

Dalam dunia kerja, pendekatan ini menjadi sangat relevan. Erikson menunjukkan bagaimana kegagalan proyek sering bukan disebabkan kurangnya kompetensi teknis, melainkan karena kesalahpahaman komunikasi antara tipe kepribadian yang berbeda. Seorang manajer bertipe merah yang menuntut hasil cepat dapat membuat karyawan bertipe hijau merasa tertekan dan tidak dihargai. Seorang analis biru bisa dianggap lamban oleh tipe kuning, padahal ia sedang memastikan akurasi.

Buku ini mengajarkan bahwa efektivitas bukan soal menjadi diri sendiri secara absolut, melainkan tentang fleksibilitas emosional dan kecerdasan sosial. Dalam hal ini, Surrounded by Idiots sejalan dengan filosofi kepemimpinan modern: memahami manusia sama pentingnya dengan menguasai sistem.

Gaya Penulisan dan Nada Ideologis

Erikson menulis dengan gaya ringan, humoris, dan sering provokatif. Judulnya sendiri sengaja dibuat tajam dan kontroversial untuk menarik perhatian, sekaligus memancing refleksi diri. Namun di balik kesan santainya, buku ini membawa pesan etis yang cukup serius: kerendahan hati dalam berkomunikasi.

Berbeda dari buku psikologi populer yang cenderung mengglorifikasi “menjadi versi terbaik diri sendiri”, Erikson justru menantang ego pembaca. Ia secara halus mengatakan bahwa merasa paling benar adalah sumber utama konflik. Buku ini menggeser fokus dari self-centered improvement menuju relational improvement—perbaikan diri yang diukur dari kemampuan membangun relasi sehat.

Secara ideologis, Surrounded by Idiots berdiri di persimpangan antara psikologi terapan dan humanisme pragmatis. Ia tidak menjanjikan pencerahan eksistensial, tetapi menawarkan keterampilan hidup yang konkret dan langsung terasa manfaatnya.

Relevansi Sosial dan Budaya Kontemporer

Di era kerja kolaboratif, kerja jarak jauh, dan interaksi lintas budaya, buku ini terasa semakin relevan. Perbedaan gaya komunikasi kini tidak hanya terjadi antarindividu, tetapi juga antargenerasi dan antarbudaya. Surrounded by Idiots memberikan kerangka sederhana untuk menavigasi kompleksitas tersebut tanpa terjebak dalam stereotip atau konflik emosional yang melelahkan.

Buku ini juga relevan dalam konteks keluarga dan relasi personal. Erikson menunjukkan bahwa banyak konflik rumah tangga bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena perbedaan cara mengekspresikan perhatian, menyelesaikan masalah, dan memandang tanggung jawab.

Dengan demikian, Surrounded by Idiots bukan hanya buku untuk profesional atau manajer, tetapi juga panduan komunikasi bagi siapa pun yang hidup bersama manusia lain—yang berarti semua orang.

Penutup: Dari Menghakimi ke Memahami

Surrounded by Idiots pada akhirnya adalah buku tentang pergeseran perspektif. Dari menyalahkan orang lain menuju memahami perbedaan. Dari merasa paling rasional menuju menyadari keterbatasan diri. Thomas Erikson tidak mengajak pembaca menjadi psikolog, tetapi menjadi manusia yang lebih sadar secara sosial.

Seperti The Starbucks Experience yang menekankan pentingnya pengalaman manusiawi dalam dunia bisnis, Surrounded by Idiots mengingatkan bahwa komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan seni memahami manusia. Buku ini tidak menjanjikan dunia tanpa konflik, tetapi menawarkan cara menghadapi konflik dengan kepala dingin dan empati.

Dalam dunia yang semakin bising dan mudah tersulut, Surrounded by Idiots adalah ajakan sederhana namun penting: sebelum menganggap dunia dipenuhi orang bodoh, barangkali kita perlu belajar berbicara dalam bahasa mereka.***