Stellantis: Tantangan, Strategi Baru, dan Masa Depan Pasar AS
ORBITINDONESIA.COM – Stellantis menghadapi tantangan berat pasca-merger lima tahun, dengan saham AS turun sekitar 43% sejak pembentukan. CEO baru, Antonio Filosa, bertekad membalikkan keadaan dengan fokus pada merek Jeep dan Ram di pasar AS.
Pembentukan Stellantis melalui merger antara Fiat Chrysler dan Groupe PSA pada 2021 diharapkan membawa keuntungan besar bagi investor. Namun, hasilnya mengecewakan dengan penurunan signifikan dalam nilai saham. Fokus awal perusahaan pada pengurangan biaya dan kendaraan listrik terbukti tidak cukup untuk menopang pertumbuhan yang diharapkan.
Antonio Filosa, yang menggantikan Carlos Tavares, berupaya memperbaiki situasi dengan strategi penjualan baru. Fokusnya adalah memulihkan pangsa pasar Jeep dan Ram di AS setelah penurunan selama bertahun-tahun. Filosa juga mempertimbangkan restrukturisasi portofolio merek global serta memperbaiki hubungan dengan pengecer dan pemasok AS.
Filosa menegaskan pentingnya menjaga kesatuan perusahaan dan menolak spekulasi penjualan aset. Langkah ini menunjukkan optimisme terhadap potensi pertumbuhan internal dibandingkan dengan pengurangan skala. Pengalaman masa lalu memberi pelajaran berharga tentang keseimbangan antara inovasi dan profitabilitas.
Pergeseran strategi di Stellantis menandakan perubahan besar dalam industri otomotif, di tengah tekanan menuju elektrifikasi dan efisiensi biaya. Pertanyaannya adalah, apakah langkah ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor dan mencapai pertumbuhan berkelanjutan? Hanya waktu yang dapat menjawab.
(Orbit dari berbagai sumber, 21 Januari 2026)