Denny JA: Jangan Sampai Menjadi Survival of the Richest

Hari Pertama World Economic Forum 2026

JANGAN SAMPAI MENJADI SURVIVAL OF THE RICHEST

- Masa Depan Energi?

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Udara pagi di Davos menggigit kulit. Suhu minus dua derajat Celsius membuat napas terlihat seperti asap tipis yang segera lenyap.

Di depan saya, antrean manusia mengular perlahan menuju sebuah gedung konferensi. Untuk pertama kalinya saya mengikuti seminar yang mengharuskan peserta mengantri di luar gedung. 

Hampir tiga puluh menit berdiri, di tengah udara pegunungan Alpen yang dingin. Bongkahan salju membuat jalan licin dan langkah harus hati hati.

Saat itu, saya teringat laporan Oxfam yang baru saja saya baca. Di dunia yang sama, pada jam yang hampir bersamaan, jutaan orang juga sedang mengantri. Bukan untuk forum diskusi, melainkan untuk hal yang jauh lebih mendasar.

Mereka mengantri makanan. Mengantri obat. Mengantri pekerjaan. Mengantri masa depan.

Di Davos, antrean ini berakhir di ruang diskusi yang hangat. Di banyak tempat lain, antrean berakhir pada kelelahan dan putus asa.

Dan di situlah judul esai ini menemukan maknanya. Jangan sampai dunia ini jatuh menjadi sekadar survival of the richest.

-000-

Hari pertama World Economic Forum 2026 dibuka dengan berbagai diskusi publik. Salah satunya bertajuk What Do You Want by 2050?

Para pembicara datang dari kalangan masyarakat sipil internasional. Ini suara yang jarang mendapat panggung di pusat kekuasaan global.

Percakapan mereka beragam, namun disatukan oleh satu kegelisahan besar tentang arah dunia.

Ada yang berkata ia tidak ingin lagi menyaksikan genosida seperti di Palestina. Ada yang mengkhawatirkan bangkitnya figur koboi internasional yang memerintah dunia dengan impuls dan kekuatan sepihak, seperti Donald Trump.

Ada pula yang bertanya dengan suara pelan namun tajam, apa arti menjadi manusia ketika kecerdasan buatan bukan lagi sekadar alat, melainkan mulai menjadi pengambil keputusan.

Usai forum, saya mendengar para aktivis melanjutkan percakapan di luar ruangan. Seorang pembicara melontarkan satu kalimat yang membuat saya terdiam dan merenung.

Ujarnya, yang kita hadapi hari ini bukan lagi hukum Darwin tentang survival of the fittest. Yang terjadi adalah survival of the richest.

-000-

Kalimat itu bergema lama di kepala saya. Ia sederhana, namun kejam dalam kejujurannya.

Dalam teori evolusi klasik, yang bertahan hidup adalah yang paling fit, fittest, adaptif. Mereka yang mampu bekerja sama, menyesuaikan diri, dan belajar dari tekanan lingkungan. Ketahanan sosial dan kecerdasan kolektif menjadi kunci.

Namun dunia abad ke dua puluh satu memperlihatkan hukum yang berbeda. Yang bertahan bukan lagi yang paling adaptif, melainkan yang paling kaya.

Kekayaan tidak lagi sekadar alat produksi. Ia berubah menjadi perisai. Ia membeli jarak dari penderitaan. Ia mengamankan akses terbaik atas pangan, energi, kesehatan, pendidikan, bahkan jalan keluar ketika sistem sosial mulai retak.

Saya kemudian menelusuri lebih jauh isu ini. Kritik tajam atas kenyataan tersebut datang dari Oxfam. Data mereka menunjukkan paradoks yang menyayat nurani.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kekayaan para miliarder dunia hampir berlipat dua. Sejak 2020, satu persen terkaya dunia meraup hampir dua kali lipat kekayaan dibandingkan seluruh umat manusia lainnya digabung.

Pada saat yang sama, ratusan juta orang terpaksa mengurangi porsi makan, menunda pengobatan, dan hidup dalam kecemasan akibat biaya hidup yang terus meningkat.

Dunia tidak runtuh secara merata. Ia runtuh dengan ketimpangan yang kian melebar.

-000-

Mengapa ini terjadi. Mengapa krisis tidak menjadi momen koreksi, tetapi justru memperkaya segelintir orang. Setidaknya ada tiga sebab besar.

Pertama, krisis dijadikan mesin akumulasi

Dalam teori ekonomi klasik, krisis seharusnya menekan keuntungan dan memaksa penyesuaian.

Namun praktik hari ini menunjukkan kebalikannya. Krisis justru menjadi mesin akumulasi kekayaan.

Perusahaan pangan dan energi menaikkan harga dengan alasan gangguan pasokan, perang, dan inflasi. Ketika biaya produksi menurun, harga tidak ikut turun. Selisihnya mengalir ke laba, lalu ke dividen pemegang saham.

Banyak ekonom menyebut gejala ini sebagai greedflation, inflasi yang digerakkan oleh kenaikan margin laba, bukan oleh kelangkaan.

Krisis menjadi tirai asap.

Di baliknya, kekayaan berpindah dari meja makan rakyat ke laporan keuangan segelintir orang.

Kedua, risiko disosialisasikan, keuntungan diprivatisasi

Saat badai datang, siapa yang menanggung risiko paling awal. Pekerja. Mereka kehilangan jam kerja, upah riil, bahkan pekerjaan.

Namun ketika keuntungan melonjak, ia tidak pernah disosialisasikan. Ia diprivatisasi, diamankan di yurisdiksi pajak rendah, dan dilindungi oleh kompleksitas hukum global.

Negara sering hadir untuk menyelamatkan sistem, tetapi absen ketika harus menegakkan keadilan distribusi.

Pasar dibiarkan bekerja tanpa koreksi moral. Dalam kondisi seperti ini, survival of the richest menjadi hasil yang hampir tak terelakkan.

Ketiga, runtuhnya kontrak sosial global

Di masa lalu, kekayaan ekstrem sering diimbangi oleh rasa tanggung jawab sosial. Hari ini, rasa itu memudar.

Sebagian elite global tidak lagi bertanya bagaimana memperbaiki sistem. Mereka bertanya bagaimana keluar dari sistem jika ia runtuh.

Bunker, pulau pribadi, paspor ganda, dan teknologi pengaman mutakhir bukan sekadar gaya hidup. Ia adalah tanda runtuhnya kontrak sosial. Ketika elite berhenti merasa terikat pada nasib bersama, peradaban mulai rapuh dari dalam.

-000-

Gambaran psikologis dari gejala ini diurai tajam dalam buku Survival of the Richest: Escape Fantasies of the Tech Billionaires karya Douglas Rushkoff.

Ia mengisahkan pertemuannya dengan para miliarder teknologi yang tidak bertanya bagaimana menyelamatkan dunia, melainkan bagaimana menyelamatkan diri ketika dunia runtuh.

Mereka membahas bunker, pulau terpencil, kecerdasan buatan penjaga keamanan, bahkan skenario mengendalikan manusia ketika uang tak lagi berarti.

Rushkoff sampai pada kesimpulan yang getir. Masalah terbesar zaman ini bukan teknologi dan bukan krisis. Masalah terbesarnya adalah hilangnya kepercayaan elite pada masa depan bersama.

Ketika mereka yang paling berkuasa memilih keluar dari peradaban, peradaban itu mulai sekarat.

Masa depan bukan tentang melarikan diri ke bunker, melainkan membangun meja perundingan yang adil. Kemanusiaan sejati diukur dari

bagaimana kita melindungi yang paling rentan.

-000-

Dimensi struktural dari ketimpangan ini dijelaskan secara meyakinkan dalam Capital in the Twenty-First Century karya Thomas Piketty.

Dengan data lintas abad, Piketty menunjukkan bahwa ketika tingkat pengembalian modal lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi, kekayaan akan terkonsentrasi secara otomatis di tangan pemilik modal.

Tanpa intervensi politik berupa pajak progresif, regulasi, dan kebijakan publik yang kuat, ketimpangan bukan anomali. Ia adalah takdir sistem.

Dalam kerangka ini, survival of the richest bukan kecelakaan sejarah, melainkan hasil logis dari kapitalisme yang dilepas tanpa koreksi moral.

-000-

Lalu apa yang bisa dilakukan.

Pertama, pajak progresif harus dipulihkan sebagai etika, bukan hukuman. Pajak kekayaan bukan dendam kelas. Ia adalah instrumen moral di saat krisis.

Sejarah menunjukkan bahwa pada masa perang dan depresi besar, negara berani mengenakan pajak tinggi pada yang paling mampu. 

Pajak progresif atas kekayaan, laba berlebih, dan warisan ekstrem adalah cara paling langsung untuk mempersempit jurang ketimpangan.

Kedua, negara harus kembali menjadi penjaga kepentingan publik. Regulasi harga energi dan pangan, perlindungan upah layak, dan investasi pada layanan dasar bukan populisme.

Ia adalah fondasi stabilitas jangka panjang. Pasar yang dibiarkan tanpa koreksi moral akan selalu mengarah pada survival of the richest.

Ketiga, teknologi harus diarahkan untuk martabat, bukan eksklusi. Kecerdasan buatan dan otomasi harus memperluas kemampuan manusia, bukan menyingkirkannya.

Pertanyaannya bukan apakah teknologi akan maju, melainkan untuk siapa ia bekerja.

-000-

Semua kegelisahan ini menemukan relevansinya yang paling tajam di sektor energi.

Energi adalah darah peradaban modern. Siapa menguasainya, menguasai ritme kehidupan.

Jika transisi energi hanya menjadi ladang laba baru bagi segelintir korporasi, maka ketimpangan hanya berpindah bentuk dari era fosil ke era hijau.

Energi yang adil bukan sekadar rendah karbon. Ia harus terjangkau, inklusif, dan berdaulat.

Namun di ruang-ruang Davos, masa depan energi kerap dibahas sebagai portofolio dan valuasi, bukan sebagai hak hidup miliaran warga yang menggigil dalam gelap dan tarif yang mencekik.”

Tanpa keadilan energi, survival of the richest akan menemukan wajah barunya.

-000-

Malam turun di Davos. Lampu kota kecil ini menyala hangat, kontras dengan dinginnya udara Alpen.

Hari pertama World Economic Forum 2026 meninggalkan satu pertanyaan yang tak bisa dihindari.

Apakah kita sedang membangun dunia untuk ditinggali bersama, atau hanya dunia yang cukup aman untuk ditinggalkan oleh mereka yang paling kaya.

Sejarah akan mencatat pilihan kita. Dan semoga, kita memilih untuk tidak hidup dalam hukum survival of the richest, melainkan bertahan sebagai kemanusiaan yang berbagi nasib dan harapan.*

Davos, Swiss, 19 Januari 2026

REFERENSI

1. Survival of the Richest: Escape Fantasies of the Tech Billionaires

Douglas Rushkoff

W. W. Norton & Company, 2022

2. Capital in the Twenty-First Century

Thomas Piketty

Harvard University Press, 2014

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/186acJcwoD/?mibextid=wwXIfr