Kontroversi SK Pelestarian Keraton Surakarta: Langkah Strategis atau Pemantik Konflik Baru?
ORBITINDONESIA.COM – Di tengah sengkarut pewaris tahta Keraton Surakarta, SK penunjukan Gusti Tedjowulan menjadi sorotan. Apakah ini solusi atau justru menambah bara konflik?
Konflik di Keraton Surakarta telah berlarut-larut sejak meninggalnya SISKS Pakubuwana XII pada 2004. Kini, dua anaknya berseteru memperebutkan tahta, menghambat upaya pelestarian budaya. Di tengah kondisi ini, Pemerintah mengeluarkan SK untuk menunjuk penanggung jawab baru. Namun, keputusan ini tidak diterima semua pihak.
Penunjukan Gusti Tedjowulan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon melalui SK nomor 8 tahun 2026 bertujuan untuk mengakhiri kebuntuan. Dengan adanya penanggung jawab, pelestarian dan pemanfaatan Keraton bisa mendapatkan dukungan dana pemerintah. Meski demikian, langkah ini memicu protes dari kubu yang merasa tidak dilibatkan dalam keputusan. Konflik internal terus memanas, mengancam stabilitas budaya dan sejarah Keraton.
Pemerintah menghadapi dilema antara melestarikan warisan budaya dan menghormati dinamika internal Keraton. Penunjukan Gusti Tedjowulan menegaskan sikap proaktif dalam pelestarian. Namun, tanpa musyawarah mufakat, ini berisiko memperdalam perpecahan. Dialog dan rekonsiliasi harus menjadi prioritas agar setiap pihak merasa diakui perannya dalam warisan budaya ini.
Masih banyak pekerjaan rumah untuk membangun kembali keharmonisan di Keraton Surakarta. Apakah penunjukan penanggung jawab akan menjadi titik awal perdamaian? Atau malah menambah panjang daftar konflik? Semua pihak perlu merenungkan tanggung jawabnya demi masa depan budaya yang lestari.
(Orbit dari berbagai sumber, 20 Januari 2026)