Justru Iran Belajar dari Indonesia: Nama “Ahmad Sukarno” di Iran Dianggap Simbol Kemandirian

ORBITINDONESIA.COM - Banyak komentar di postingan Iran Insight agar Indonesia belajar pada Iran tentang kemajuan teknologi dan kemandirian, padahal justru Iran lah yang banyak belajar dari Indonesia.

Di Iran, nama Ahmad Sukarno bukan nama yang asing, melainkan simbol kemandirian yang mendarah daging. Masyarakat Iran menambahkan nama "Ahmad" di depan Sukarno sebagai bentuk penghormatan tertinggi, sebuah cara mereka menyandingkan sosoknya dengan spirit ketauhidan dan perlawanan yang suci.

Bagi mereka, Sukarno adalah singa dari Timur yang berhasil membangunkan kesadaran bangsa-bangsa tertindas untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Imam Khamenei dalam berbagai catatan sejarah sering merujuk pada Konferensi Bandung 1955 sebagai fajar kebangkitan bagi kaum Mustadh’afin. Bagi para pemimpin revolusi Iran, Indonesia adalah cermin keberanian yang menginspirasi lahirnya prinsip Na Sharghi, Na Gharbi—Bukan Timur, Bukan Barat.

 Sukarno telah meletakkan fondasi kedaulatan yang kemudian menjadi bagian napas bagi perjuangan Iran dalam menjaga martabat bangsanya dari intervensi global.

Keyakinan ideologis tentang kemandirian ini kemudian menuntut bukti nyata dalam bentuk ketangguhan industri dan penguasaan sains. Iran menyadari bahwa kedaulatan politik yang diajarkan Sukarno akan selalu rapuh tanpa ditopang oleh kemampuan sebuah bangsa untuk memproduksi teknologinya sendiri.

Kesadaran inilah yang membuat para insinyur Iran berbondong-bondong bermuara di hanggar-hanggar Bandung pada masa kejayaan IPTN.

Semangat "Berdikari" yang ditiupkan Sukarno menjadi daya tarik luar biasa bagi para pencari kedaulatan di tanah Persia. Pada era 1990-an, teknisi dan insinyur dari Iran Aircraft Manufacturing Industrial Company (HESA) menetap di Bandung untuk mempelajari anatomi pesawat CN-235 secara mendalam.

Mereka tidak hanya datang untuk melakukan transaksi pembelian, melainkan menyerap filosofi dirgantara yang dikembangkan oleh BJ Habibie.

Di jantung Jawa Barat itu, mereka belajar bagaimana sebuah bangsa Muslim mampu merancang sayap-sayap besi yang mandiri di tengah kepungan keterbatasan. Pengalaman di Bandung inilah yang kemudian menjadi salah satu batu bata penting dalam pembangunan industri dirgantara Iran yang kini tumbuh pesat dan disegani dunia.

Bandung menjadi kiblat bagi Iran dalam penguasaan teknologi strategis lainnya, termasuk sistem radar dan navigasi di PT Len Industri.

Mereka melihat bagaimana Indonesia mampu mengawinkan riset akademik dengan kebutuhan pertahanan nasional secara harmonis. Ilmu yang diserap dari Bandung ini menjadi salah satu pilar bagi Iran dalam membangun kemandirian industri militer mereka yang kini diperhitungkan di kancah internasional.

Di sektor sosial, Iran juga berkaca pada kesuksesan program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Mereka mengirim delegasi untuk mempelajari bagaimana BKKBN mampu merangkul tokoh agama dalam mensosialisasikan program tersebut dengan santun. Data menunjukkan bahwa Iran berhasil menekan angka kelahiran secara drastis setelah mengadopsi manajemen sosial dan pendekatan persuasif yang dipelajari dari tanah air kita.

Bahkan dalam urusan manajemen haji, Indonesia tetap menjadi "Standar Emas" bagi para pejabat urusan haji Iran. Mereka secara rutin mempelajari tata kelola kuota, sistem pemondokan, hingga transparansi keuangan haji yang dilakukan oleh Kemenag dan BPKH.

Bagi mereka, ketertiban jemaah haji Indonesia adalah buah dari sistem manajemen yang luar biasa rapi dan patut untuk terus ditiru. Dalam bidang pertanian, pertukaran ilmu mengenai teknik irigasi di lahan kering serta pengembangan varietas unggul menjadi bukti persaudaraan yang produktif.

Hingga saat ini, kerja sama sains terus berlanjut melalui teknologi telerobotik medis, di mana Bandung menjadi pusat pelatihan bagi robot bedah "Sina" karya insinyur Iran.

Namun, di balik semua ilmu teknologi dan manajemen yang mereka serap dengan antusias, ada satu hal yang secara sadar mereka saring dan buang jauh-jauh. Iran membangun benteng moral yang sangat ketat dalam birokrasi mereka, menganggap pengkhianatan terhadap uang rakyat sebagai noda hitam bagi revolusi.

Mereka datang ke sini dengan mata yang tajam, memilah mana ilmu yang menghidupkan dan mana penyakit yang mematikan. Iran membawa pulang kecerdasan dirgantara dari Bandung dan ketertiban manajemen dari Jakarta. Untung mereka tidak belajar korupsinya.

(Sumber: Iran Insight) ***