Satrio Arismunandar: Terkikisnya Komunitas Kristen Palestina Akibat Pendudukan Israel, Migrasi, dan Politik Global
Oleh Satrio Arismunandar
ORBITINDONESIA.COM - Artikel ini menyoroti krisis demografis dan politik yang jarang dibahas secara terbuka: menyusutnya komunitas Kristen Palestina, sekaligus peran paradoksal gereja-gereja Kristen Amerika dalam dinamika pendudukan Israel.
Dalam sebuah wawancara dengan komentator politik AS Tucker Carlson, Uskup Agung Yerusalem Hosam Naoum menyampaikan pernyataan yang menggugah sekaligus mengkhawatirkan. Ia menggambarkan bagaimana populasi Kristen di Bethlehem—kota kelahiran Yesus—menyusut drastis dalam beberapa dekade terakhir.
“Bayangkan sekitar 100.000 umat Kristen di Bethlehem 50 tahun lalu. Hari ini jumlahnya kurang dari 30.000.”
Pernyataan ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan tren panjang pengikisan kehadiran Kristen pribumi di Tanah Suci, sebuah realitas yang sering tertutup oleh narasi konflik Israel–Palestina yang lebih luas.
Penyebab Utama: Pendudukan oleh Israel dan Pembatasan Struktural
Menurut Hosam Naoum, penyusutan ini bukan fenomena alami, melainkan akibat langsung dari kondisi politik dan keamanan di wilayah pendudukan Israel, khususnya di Tepi Barat.
Beberapa faktor kunci yang ia soroti antara lain:
Pertama, pembatasan mobilitas akibat pos pemeriksaan, izin perjalanan, dan tembok pemisah.
Kedua, tekanan ekonomi yang membuat generasi muda Kristen di Palestina memilih emigrasi.
Ketiga, pembatasan akses ke Yerusalem, termasuk tempat-tempat suci Kristen.
Keempat, ekspansi permukiman ilegal Yahudi Israel, yang mempersempit ruang hidup masyarakat Palestina, tanpa membedakan agama.
Dalam konteks ini, umat Kristen Palestina mengalami nasib yang sama dengan Muslim Palestina: hidup di bawah sistem pendudukan Israel yang membatasi hak sipil, ekonomi, dan keagamaan.
Kritik Tajam terhadap Gereja Kristen Amerika
Bagian paling sensitif dari pernyataan Hosam Naoum adalah kritiknya terhadap gereja-gereja Kristen di Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa:
Gereja-gereja Kristen Amerika mengirim lebih banyak dana ke permukiman ilegal Yahudi Israel di Tepi Barat dibandingkan bantuan untuk komunitas Kristen di Nazareth dan Bethlehem.
Pernyataan ini menyentuh jantung kontradiksi teologis dan politik: Dana dikirim atas nama iman Kristen, namun justru memperkuat struktur pendudukan, yang pada akhirnya mendorong eksodus umat Kristen asli Tanah Suci.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan Christian Zionism, sebuah arus teologi-politik di AS yang mendukung Israel tanpa syarat, sering kali mengabaikan realitas sosial umat Kristen Palestina sendiri.
Ironi Historis dan Teologis
Ironinya tajam. Kota-kota paling suci dalam tradisi Kristen—Bethlehem dan Nazareth—justru kehilangan umat Kristennya. Sementara dukungan finansial global mengalir ke proyek-proyek yang mempercepat proses itu!
Hosam Naoum secara implisit mempertanyakan: Untuk siapa sebenarnya solidaritas Kristen global itu diarahkan? Apakah untuk menjaga komunitas iman yang telah hidup di Tanah Suci selama dua milenium, atau untuk agenda geopolitik modern?
Wawancara Tucker Carlson dengan Uskup Agung Yerusalem Hosam Naoum ini penting karena memberi suara langsung kepada pemimpin gereja lokal di wilayah konflik. Naoum menantang narasi Barat yang sering menyederhanakan konflik sebagai isu keamanan semata.
Naoum mengungkap dimensi keagamaan yang terpinggirkan dalam liputan media arus utama. Lebih luas lagi, ini menegaskan bahwa konflik Israel–Palestina bukan konflik agama, melainkan konflik politik dan kolonial, dengan dampak lintas komunitas.
Kesimpulan
Pernyataan Uskup Agung Hosam Naoum adalah peringatan keras: jika tren ini berlanjut, Tanah Suci berisiko menjadi tempat suci tanpa komunitas asli yang merawatnya.
Berita ini memaksa publik global—terutama di Barat—untuk bertanya: siapa yang benar-benar dibela, siapa yang dikorbankan, dan bagaimana iman digunakan dalam politik kekuasaan.
Dalam perspektif jangka panjang, lenyapnya Kristen Palestina bukan hanya tragedi lokal, tetapi kehilangan peradaban, sejarah, dan keberagaman yang menjadi inti Tanah Suci itu sendiri.
*Satrio Arismunandar, pakar SCSC (South China Sea Council). Sumber data: TRT World. WA: 081286299061.