Merawat Kitab Suci yang Terbentang: Program Ekoteologi Kemenag dan Pertobatan Ekologis Umat Beragama
ORBITINDONESIA.COM- Di antara riuh rendah isu politik dan ekonomi yang mendominasi kepala berita, terdengar suara lain yang lebih lirih namun mendasar, berbisik tentang hubungan kita dengan tanah, air, dan langit. Ini bukan suara dari mimbar politik, melainkan dari ruang-ruang yang lebih sakral: masjid, gereja, pura, wihara, dan kelenteng. Di sanalah, sebuah percakapan lama direvitalisasi, bahwa merusak lingkungan bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengingkaran terhadap ajaran-ajaran suci yang paling inti.
Program Ekoteologi Kementerian Agama (Kemenag) RI lahir dari kesadaran itu. Sebuah program yang berani menafsir ulang peran agama bukan sekadar sebagai penuntun ritual privat, tetapi sebagai kekuatan moral publik untuk menghadapi krisis ekologis. Ia hadir untuk menjawab pertanyaan mendasar: di manakah posisi iman ketika sungai tercemar, hutan menyusut, dan udara beracun?
Inisiatif ini tidak datang dari ruang hampa. Ia tumbuh dari kegelisahan yang diam-diam telah bersemi di banyak komunitas. Kelompok remaja masjid yang menggalang aksi bersih sungai, komunitas paroki yang membuat bank sampah, hingga pesantren yang mengembangkan pertanian organik—semua adalah embrio dari gerakan yang kini coba distrukturisasi menjadi sebuah arus utama. Kemenag, melalui Ekoteologi, berperan sebagai penyalur, penguat, dan pengarah agar gerakan-gerakan sporadis ini menemukan bahasa teologis yang sama dan dampak yang lebih masif.
Ekoteologi bukanlah sekadar kampanye publikasi. Ia adalah upaya sistematis untuk menanamkan konsep “keadilan ekologis” ke dalam DNA keberagamaan masyarakat. Caranya dengan menyelami kembali khazanah kitab suci, tradisi, dan kearifan lokal setiap agama yang sarat dengan pesan-pesan tentang menjaga keseimbangan alam. Pesan bahwa manusia adalah khalifah, penjaga, atau bagian tak terpisahkan dari ciptaan, harus diterjemahkan dari teks menjadi tindakan.
Pelaksanaannya merambah ke berbagai lini. Modul-modul dirancang untuk menjadi pedoman bagi para pemuka agama saat menyampaikan khotbah, ceramah, atau renungan. Tujuannya agar pesan pelestarian lingkungan tidak lagi menjadi sisipan, tetapi menjadi tema sentral yang dikupas dengan argumentasi keagamaan yang kuat. Dari mimbar Jumat hingga kotbah Minggu, dari dharma wacana hingga pesan dalam retret, benih kesadaran yang sama disebar.
Pada tataran pendidikan, ekoteologi diintegrasikan ke dalam kurikulum madrasah dan sekolah-sekolah berbasis agama. Anak-anak tidak hanya diajari fikih ibadah, tetapi juga “fikih lingkungan”. Mereka diajak memahami bahwa menyayangi makhluk hidup, menghemat air wudhu, dan tidak berbuat boros adalah bagian dari akhlak yang mulia. Pesantren dan seminari didorong menjadi “green campus” yang mempraktikkan langsung nilai-nilai yang diajarkan.
Namun, program ini menyadari bahwa kesadaran saja tidak cukup. Maka, Ekoteologi juga mendorong aksi kolektif lintas iman. Penanaman pohon bersama, pembersihan daerah aliran sungai, atau konversi ke energi terbarukan di fasilitas keagamaan menjadi proyek percontohan. Aksi-aksi ini adalah ibadah yang kasat mata, sebuah bentuk ketakwaan yang berdampak langsung bagi kehidupan bersama.
Dampak yang ingin dicapai jauh melampaui angka statistik. Ini adalah proyek perubahan budaya. Harapannya, lahir generasi beragama yang melihat sampah plastik di sungai bukan sekadar masalah kebersihan, tetapi pelanggaran etis. Yang melihat pembabatan hutan sembarangan bukan hanya kerusakan ekonomi, tetapi pengrusakan terhadap “ayat-ayat Tuhan” yang terbentang. Ketika kesadaran ini mengkristal, maka gerakan menjaga lingkungan akan memiliki motivasi yang paling dalam dan personal: keyakinan.
Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, Program Ekoteologi Kemenag RI hadir sebagai penegasan bahwa solusi tidak hanya datang dari teknologi dan kebijakan, tetapi juga dari transformasi spiritual. Ia mengajak seluruh umat beragama untuk membaca kembali kitab suci mereka, dan menemukan di dalamnya panggilan untuk menjadi penjaga yang baik bagi satu-satunya rumah bersama: bumi.
Program ini adalah sebuah pengingat, bahwa mungkin saja, keselamatan bumi dan isinya bergantung pada seberapa serius kita memaknai titah suci dari langit.***