Rupiah Terperosok: Mengapa Mata Uang Melemah Melawan Dolar AS
ORBITINDONESIA.COM – Nilai tukar rupiah telah mencapai titik terendah baru, menembus Rp17.000 per dolar AS di pasar NDF minggu ini.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas ekonomi Indonesia. Faktor global seperti kenaikan suku bunga AS dan ketidakpastian geopolitik turut berperan. Di dalam negeri, ketergantungan pada impor dan defisit transaksi berjalan menambah tekanan.
Tren pelemahan rupiah ini sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Data menunjukkan bahwa sejak awal tahun, rupiah telah melemah lebih dari 10% terhadap dolar AS. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan moneter restriktif yang diterapkan oleh Federal Reserve untuk menekan inflasi.
Dari sudut pandang ekonomi, pelemahan rupiah bisa menjadi peluang dan tantangan. Di satu sisi, ekspor bisa lebih kompetitif; di sisi lain, biaya impor meningkat. Kebijakan fiskal dan moneter Indonesia harus mampu menyeimbangkan kedua aspek ini untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.
Dengan posisi rupiah yang terus melemah, penting bagi pemerintah dan bank sentral untuk berkolaborasi. Mampukah kebijakan domestik menahan dampak eksternal dan menjaga daya beli masyarakat? Pertanyaan ini akan menjadi tantangan utama bagi stabilitas ekonomi kita di masa depan.
(Orbit dari berbagai sumber, 18 Januari 2026)