Always-On Culture: Pekerja Cek Pesan Kerja Saat Liburan
ORBITINDONESIA.COM – Always-on culture kian mengeras: separuh pekerja kini tetap cek pesan kerja saat liburan, dan 55% melakukannya hanya beberapa menit setelah bangun tidur. Riset HiBob ini memotret tekanan kerja meningkat, sementara gelombang niat resign membesar karena work-life balance yang makin rapuh. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Riset HiBob menunjukkan 58% pekerja merasa tekanan kerja meningkat dibanding dua tahun lalu. Hampir separuh, 49%, merasa perusahaan mengharapkan mereka selalu tersedia, membuat batas jam kerja kian kabur. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Di saat yang sama, 42% pekerja aktif mempertimbangkan meninggalkan pekerjaan karena tekanan, dan 11% sudah mencari peran baru. Angka ini memberi sinyal bahwa isu kesehatan mental telah berubah menjadi ancaman retensi yang nyata. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Yang mengkhawatirkan, 37% bahkan bersedia menerima gaji lebih rendah demi pekerjaan yang kurang menekan. Ini menandakan kompensasi tidak lagi cukup untuk menutup biaya psikologis dari budaya kerja yang selalu menyala. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Selama ini, liburan dianggap ruang pemulihan, namun kini separuh pekerja tetap memeriksa pesan kerja di hari cuti. Dampaknya bukan sekadar gangguan kecil, karena 27% percaya tidak merespons di luar jam kerja dapat merusak karier. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Work spilling into personal life terlihat ekstrem dan intim. Sebanyak 42% mengaku mengecek pesan kerja di tengah percakapan, 41% di kamar mandi, dan 29% bahkan saat kencan. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Di kantor pun, ritme tidak lagi punya jeda yang manusiawi. Sebanyak 47% mengatakan tidak ada lagi periode tenang di jam kerja, dan 51% merasa waktu pemulihan antar periode sibuk makin sempit. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Tekanan itu berujung pada gejala yang dapat dipetakan jelas. Hampir separuh, 47%, merasa lelah mental di akhir sebagian besar hari kerja, sementara 41% menyebut pekerjaan mengganggu tidur. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Jika tidur terganggu dan pemulihan hilang, produktivitas yang dipaksa justru berisiko menjadi produktivitas semu. Tidak mengherankan 33% menilai pekerjaan mereka tidak berkelanjutan dalam jangka panjang, sebuah indikator dini menuju burnout dan turnover. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Menariknya, riset juga mencatat intensifikasi tempo kerja: 50% pekerja menyebut pace of work meningkat dalam setahun terakhir. Hampir separuh, 48%, merasa berada di bawah tekanan konstan untuk terus deliver. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Di level manajer, beban tidak lebih ringan, hanya berganti bentuk. Sebanyak 76% manajer mengatakan tekanan pada tim meningkat dibanding dua tahun lalu, dan 72% merasa didorong menjaga performa tinggi. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Di sinilah paradoks muncul: 87% manajer merasa bertanggung jawab melindungi karyawan dari tekanan berlebihan, namun 54% mengaku kesulitan menyeimbangkan target dengan wellbeing. Bahkan 36% mengambil pekerjaan ekstra untuk meredakan tekanan tim, yang berisiko memindahkan burnout dari staf ke manajer. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Masalahnya, banyak manajer merasa tidak siap. Sebanyak 51% merasa underprepared, dan 68% meminta panduan yang lebih jelas untuk mengelola tim berkinerja tinggi di lingkungan kerja yang serbadarurat. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
HiBob menyebut ini sebagai pergeseran struktural cara kerja, mungkin yang terbesar sejak pandemi. Toby Hough menegaskan, “People-first cultures are performance-first cultures,” sekaligus mengingatkan bahwa performa tinggi tak bisa lestari tanpa dukungan, pemulihan, dan kepercayaan. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Keyword work-life balance sering dipakai sebagai slogan, namun data ini menunjukkan ia sudah menjadi medan konflik antara produktivitas dan martabat waktu pribadi. Ketika “selalu tersedia” dianggap bukti loyalitas, organisasi sedang membangun sistem yang memakan energi manusia sebagai bahan bakar utama. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Budaya always-on bukan sekadar kebiasaan buruk individu yang sulit lepas gawai. Ia adalah desain kerja yang mengaburkan ekspektasi, memotong jeda, dan menghukum keterlambatan respons dengan ancaman reputasi karier. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Di titik ini, isu tidak lagi bisa diselesaikan dengan seminar mindfulness atau poster “take a break.” Perusahaan perlu kebijakan konkret tentang jam hening, definisi urgensi, dan standar respons, agar teknologi tidak mengubah setiap notifikasi menjadi sirene. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Manajer juga tidak boleh dibiarkan menjadi peredam tekanan tanpa alat. Jika 68% meminta panduan, itu berarti organisasi harus menginvestasikan pelatihan, kapasitas tim, dan mekanisme eskalasi yang jelas, bukan sekadar menambah KPI. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Riset ini juga menyiratkan sinyal pasar tenaga kerja yang berubah. Ketika 37% bersedia dibayar lebih rendah demi stres yang berkurang, perusahaan yang menawarkan ritme kerja sehat akan memenangkan talenta tanpa harus selalu menang perang gaji. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Always-on culture mungkin terlihat seperti cara tercepat mengejar target, tetapi ia menyimpan biaya laten: tidur rusak, kelelahan mental, dan keinginan pindah kerja yang menular. Bagi bisnis, ini bukan sekadar isu wellbeing, melainkan persoalan produktivitas jangka panjang, kepercayaan, dan daya tahan organisasi. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)
Pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah perusahaan ingin karyawan yang selalu online, atau tim yang benar-benar pulih dan konsisten berkinerja? Di era kerja yang makin cepat, keberanian menetapkan batas bisa menjadi strategi paling modern untuk bertahan. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)