Normalisasi Merayakan Hidup Tanpa Pencapaian

Awal tahun 2026 datang tanpa ritual lama. kali ini, saya tidak lagi menuliskan harapan di secarik kertas. Tidak ada daftar target, tidak ada barisan resolusi yang dulu saya susun rapi sebagai target ambisi dan pencapaian hidup. Padahal, bertahun-tahun sebelumnya, menulis harapan adalah sebuah kebiasaan yang nyaris sakral untuk dilakukan, sebuah cara untuk memaksa diri bergerak lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih termotivasi.

Namun ritual menulis resolusi itu mulai berhenti di awal tahun 2025.

Bukan karena saya kehabisan mimpi dan bukan pula karena hidup berjalan tanpa arah. Sebenarnya, tidak ada masalah besar yang menjadi alasan. Perubahan ini lahir dari refleksi diri. Saya mulai menyadari bahwa target besar yang terus dikejar, tanpa ruang bernapas, perlahan berubah menjadi ambisi yang terlalu menekan.

Harapan yang terlalu tinggi, ketika tidak terpenuhi, rasanya seperti terlempar dari gedung tinggi. Jatuhnya tidak sekali. Bukan dua kali. Tapi berkali-kali. Harapan dan pencapaian menjelma kesenjangan yang jaraknya terlalu jauh untuk dijangkau. Di sanalah saya memutuskan untuk berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengubah cara pandang.

Tentu bukan berarti membuang mimpi, saya masih memiliki mimpi. Saya masih punya target yang ingin dicapai. Namun, kali ini saya memilih jalan yang berbeda. Saya tidak lagi menjadikan pencapaian besar sebagai satu-satunya tolak ukur nilai diri. Saya mulai belajar menghargai perjuangan, sekecil apa pun langkahnya, sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Karena tidak semua nilai diri harus dibuktikan lewat piala, jabatan, atau angka pencapaian.

Disadari atau tidak, kita sering terlalu keras pada diri sendiri. Kita menekan diri dengan perbandingan-perbandingan yang berulang dan melelahkan, seperti pertanyaan, "Kenapa setiap tahun berlalu aku masih berada di posisi yang sama?"
Pertanyaan itu membuat kita terus merasa tidak mencapai apa pun, karena tolak ukur yang kita jadikan acuan terlalu tinggi. Hingga akhirnya kita lupa bahwa dunia tidak selalu bekerja sesuai dengan target yang kita susun rapi. Kadang kita harus berhadapan dengan kegagalan, kadang pula harus menerima bahwa kebahagiaan hanyalah jeda sejenak di antara masalah berikutnya. Kita juga perlu berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memang tidak selalu adil, sebab pada akhirnya tidak semua kerja keras berbuah sesuai dengan yang kita harapkan.

Sampai di titik kita bisa menerima pola kerja dunia yang seperti itu, kita akan mulai menerima kenyataan, bahwa kita harus lebih mencintai diri sendiri untuk bahagia. Kita perlu merayakan hal-hal kecil sebagai bentuk apresiasi diri. Normalisasi diri dengan memberi penghargaan atas hal-hal kecil yang berhasil kita lakukan. Mulailah dari yang paling sederhana. Rayakan bahwa sepanjang 2025 kita diberi kesehatan. Rayakan bahwa kita masih bisa menyisihkan uang untuk menikmati jajanan enak, meski nyatanya gaji sangat terbatas. Rayakan obrolan dan tawa receh bersama teman-teman meski hanya nongkrong di warung pecel lele pinggir jalan. Rayakan upayamu menerapkan pola hidup sehat, meski timbangan masih menunjukkan angka yang tidak bersahabat. Rayakan semua hal kecil yang membuatmu tetap berdiri dan kuat sampai hari ini.

Jika kita tidak meraih hal besar di tahun lalu, bukan berarti kita adalah pecundang. Kita tetap hebat. Bahkan sangat hebat. Karena bertahan tanpa panggung, tanpa sorotan dan tanpa tepuk tangan. Kita adalah golongan orang-orang yang kuat meski babak belur. Tetaplah rayakan 2025 meski nyatanya tanpa pencapaian apa-apa. Karena penghargaan tidak selalu berbentuk piala. Kadang, cukup dengan mengakui bahwa diri kita berharga, hidup sudah menjadi jauh lebih bermakna.