Puisi Ahmad Gusairi: Persaudaraan dalam Timbangan Kepentingan
ORBITINDONESIA.COM - Ketika kepentingan mulai mengatur arah langkah
kata “teman” kehilangan kesuciannya
Ia tak lagi lahir dari kepercayaan
melainkan dari hitung-hitungan yang dingin
Bukan saudara bisa menjelma kawan karib
asal satu meja, satu tujuan, satu keuntungan
Tawa pun diproduksi massal
disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan
Jabat tangan terasa kukuh di depan kamera
namun longgar ketika lampu dimatikan
Yang dirangkul bukan hati
melainkan posisi dan akses
Saudara sekandung bisa menjadi jarak
ketika nurani tak sejalan dengan ambisi
Darah tak lagi cukup kuat
mengalahkan hasrat akan kuasa dan pengaruh
Visi dan misi disusun rapi seperti kitab suci
diucapkan lantang dalam forum resmi
Namun isinya sering kali rapuh
tak sanggup diuji oleh kejujuran
Di ruang kekuasaan
loyalitas dinilai dari keberpihakan
bukan dari keberanian berkata benar
Yang kritis dicap pengganggu
yang patuh diberi panggung
Di dunia pendidikan pun gema itu terdengar
guru, nilai, dan ilmu
kadang diposisikan sebagai alat legitimasi
bukan jalan pembebasan
Anak-anak diajari tentang moral di papan tulis
sementara teladan runtuh di ruang kebijakan
Etika dikhotbahkan
namun praktiknya dikhianati
Agama pun tak luput dipanggil
ayat-ayat dirias untuk memperindah kepentingan
Doa dibaca sebelum keputusan
namun keadilan tak selalu diundang
Teman kepentingan lahir dari situasi ini
ia setia selama arus menguntungkan
Ia tersenyum selama kursi aman
menghilang saat badai datang
Maka manusia diuji bukan saat berjaya
melainkan ketika kepentingan berseberangan
Siapa yang tetap berdiri sebagai saudara
dan siapa yang memilih pergi diam-diam
Sebab persaudaraan sejati
tak lahir dari mufakat semu
ia tumbuh dari keberanian menjaga nilai
meski harus berjalan sendirian
(Toboali, 4 Januari 2026)
*Ahmad Gusairi, penulis puisi ini adalah seorang pengajar SMA dan tinggal di Toboali Bangka Selatan. ***