Sirup Legenda Ramadan: Kisah Perintis di Balik Lahirnya Marjan

Setiap Ramadan, jutaan keluarga Indonesia membuka puasa dengan ritual yang nyaris seragam: gelas-gelas disusun, es batu berdenting, lalu cairan merah kental dituangkan perlahan. Warnanya cerah, rasanya manis, aromanya khas. Anak-anak menunggu giliran, orang tua tersenyum melihatnya.

Di banyak rumah, momen itu seperti tak berubah sejak puluhan tahun lalu.

Namun sedikit yang tahu, manisnya sirup yang kita kenal sebagai Marjan lahir dari perjalanan getir seorang anak pedagang yang pernah kehilangan segalanya.

Namanya Muhammad Saleh Kurnia.

Ia belum genap sepuluh tahun saat tentara pendudukan membakar toko kelontong milik keluarganya. Api melahap rak, barang pecah belah, pakaian, dan harapan yang disusun orang tuanya selama bertahun-tahun.

Bagi seorang anak, kebakaran itu bukan sekadar kehilangan usaha. Itu adalah runtuhnya dunia kecil tempat ia belajar berdagang, membantu melayani pembeli, dan memahami arti kerja keras.

Keluarganya kemudian memulai kembali dari nol di Jakarta. Di sebuah gang sempit kawasan Pintu Besar, mereka membuka toko kecil yang menjual makanan dan minuman. Kurnia kecil membantu orang tuanya, seperti dulu. Ia belajar satu hal yang tak diajarkan di sekolah mana pun: usaha bisa runtuh kapan saja, tetapi tangan yang terbiasa bekerja akan selalu menemukan jalan untuk bangkit.

Tahun-tahun berlalu. Bersama kakaknya, ia merintis usaha yang kelak dikenal sebagai Hero—salah satu perintis ritel modern Indonesia. Namun kisah tentang sirup yang kelak melegenda justru dimulai dari kegagalan.

Pada 1970-an, ia mendirikan pabrik minuman bernama PT Suba Indah. Produk pertamanya bukan sirup, melainkan susu. Pasar tidak menyambutnya. Penjualan lesu. Upaya produksi tak membuahkan hasil.

Banyak pengusaha berhenti di titik itu. Tetapi bagi seseorang yang masa kecilnya ditempa kehilangan, kegagalan bukan alasan untuk menyerah, melainkan tanda untuk mencoba lagi. Ia mengalihkan arah. Kali ini ke sirup.

Keputusan itu sederhana, hampir sunyi dari gegap gempita bisnis besar. Namun justru di situlah lahir Marjan pada 1975. Tanpa ia sadari, botol sirup itu akan menemukan tempatnya sendiri di hati masyarakat Indonesia, terutama pada bulan yang paling penuh makna: Ramadan.

Sejak awal, Marjan hadir bukan sekadar sebagai minuman, tetapi sebagai pelengkap momen kebersamaan. Ia menemani keluarga berbuka, menjembatani percakapan lintas generasi, dan menjadi rasa yang diingat anak-anak hingga dewasa.

Di banyak rumah, menu berbuka boleh berubah, tetapi sirup merah itu tetap ada, seperti tradisi yang tak tertulis. Barangkali karena ia lahir dari perjalanan manusia yang juga tak mudah.

Dari toko kecil yang terbakar, dari usaha yang dimulai ulang di gang sempit, dari produk susu yang gagal, hingga akhirnya menemukan bentuknya dalam sirup yang kini dianggap legenda Ramadan, kisah Marjan adalah cermin dari satu nilai sederhana: ketekunan yang tidak dramatis, tetapi terus berjalan.

Ketika sebotol sirup dituangkan ke dalam gelas saat azan magrib berkumandang, jarang ada yang memikirkan sejarah panjang di baliknya. Kita hanya merasakan manisnya.

Padahal di dalamnya, tersimpan jejak seorang anak pedagang yang pernah kehilangan toko keluarganya dan memilih untuk membangun kembali, sedikit demi sedikit, hingga karyanya menjadi bagian dari memori satu bangsa.

Di meja buka puasa Indonesia, Marjan bukan hanya minuman. Ia adalah rasa yang diwariskan. Ia hadir bersama kenangan masa kecil, gelas-gelas yang dibagikan bergantian, serta tawa keluarga yang kembali berkumpul setelah seharian menahan lapar.