Krisis Deutsche Bahn: Budaya Kerja Baru, Perbaikan Kereta Jangka Panjang

DW.com

DW.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Krisis Deutsche Bahn (DB) bukan sekadar soal keterlambatan kereta, melainkan soal budaya kerja dan cara mengambil keputusan. CEO DB Evelyn Palla menyebut pola lama sebagai “organized irresponsibility”, ketika kantor pusat memutuskan tetapi lapangan yang menanggung tanpa kuasa. Ia menegaskan perbaikan jaringan kereta Jerman akan memakan waktu bertahun-tahun, setelah “25 tahun penghematan” membuat sistem “run into the ground”.

Terjemahan akurat artikel sumber: Budaya di dalam Deutsche Bahn (DB) Jerman sudah mulai bergeser, tetapi krisis saat ini akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diatasi, kata kepala perusahaan kereta nasional itu kepada Welt am Sonntag. CEO Evelyn Palla mengkritik proses pengambilan keputusan lama di DB, dengan mengatakan bahwa manajemen pusat sering membuat keputusan besar pada level operasional.

“Orang-orang di kantor pusat, yang membuat keputusan itu, tidak memiliki tanggung jawab untuk menerapkannya di lapangan,” kata Palla. “Keputusan itu harus dijalankan oleh rekan-rekan yang berada di lapangan. Tetapi mereka berkata ‘saya tidak membuat keputusan ini, dan ini juga tidak cocok bagi saya.’ Lalu kantor pusat berkata ‘saya tidak punya tanggung jawab operasional, orang-orang di lapangan tidak menerapkan [keputusan] dengan benar.’ Pada akhirnya itu seperti ketidakbertanggungjawaban yang terorganisir.”

Ia mengatakan kepada surat kabar itu bahwa banyak hal telah “direformasi” dan “dirampingkan” sejak ia mengambil alih kendali perusahaan milik negara tersebut pada Oktober lalu, dan bahwa beberapa lapisan administrasi di dalam DB telah dipangkas. “Tetapi semua itu tidak otomatis membuat (Deutsche) Bahn menjadi lebih baik,” tambahnya. “Hal-hal baru akan berubah ketika manajemen berubah, ketika unit-unit terdesentralisasi mengambil tanggung jawab dan menjalaninya.”

Dalam wawancara yang diterbitkan pada hari Minggu, ia juga mengatakan bahwa jaringan kereta Jerman telah “dibuat hancur oleh 25 tahun penghematan” dan bahwa perbaikan yang nyata akan membutuhkan waktu. Ia menunjuk pada ulang tahun ke-200 DB pada 2035, seraya mengatakan bahwa “ini seharusnya menjadi tahun ketika yang terburuk sudah berlalu.”

Kata kunci masalah DB adalah tata kelola, bukan sekadar teknis rel atau jadwal. Ketika keputusan operasional dibuat terpusat, risiko salah desain kebijakan membesar karena pembuat keputusan tidak menanggung konsekuensi di lapangan. Palla menyebutnya “organized irresponsibility”, sebuah frasa yang tajam karena menggambarkan kegagalan sistemik, bukan kesalahan individu.

Langkah “reformasi” dan “perampingan” yang ia sebutkan menunjukkan arah restrukturisasi organisasi. Memangkas lapisan administrasi dapat mempercepat alur komando dan mengurangi birokrasi. Namun Palla mengingatkan, organisasi yang lebih ramping tidak otomatis menghasilkan layanan kereta yang lebih baik jika pola tanggung jawab tidak berubah.

Di titik ini, isu DB menjadi pelajaran klasik tentang akuntabilitas. Desentralisasi yang ia dorong berarti unit lapangan diberi mandat sekaligus beban hasil. Tanpa itu, kantor pusat mudah menyalahkan eksekusi, sementara lapangan mudah menolak keputusan karena merasa tidak memiliki.

Pernyataan “25 tahun penghematan” memberi konteks mengapa krisis DB terasa struktural dan panjang. Penghematan jangka panjang biasanya menggerus pemeliharaan, pembaruan aset, dan kapasitas cadangan. Akibatnya, gangguan kecil dapat menjalar menjadi keterlambatan masif karena sistem tidak punya kelenturan.

Menariknya, Palla memasang horizon 2035, bertepatan dengan 200 tahun DB, sebagai target psikologis bahwa “yang terburuk sudah berlalu”. Itu bukan janji perbaikan instan, melainkan pengakuan bahwa pemulihan jaringan kereta adalah maraton. Dalam bahasa publik, ini sekaligus strategi mengelola ekspektasi penumpang dan pemangku kepentingan.

Palla tampak ingin memindahkan pusat gravitasi DB dari “kepatuhan prosedur” menjadi “kepemilikan hasil”. Ini terdengar seperti jargon manajemen, tetapi frasa “organized irresponsibility” mengungkap luka yang nyata di organisasi besar milik negara. Jika tidak diputus, budaya saling lempar tanggung jawab akan terus memakan biaya, waktu, dan kepercayaan publik.

Namun desentralisasi juga berisiko jika tidak dibarengi standar yang jelas, data real-time, dan mekanisme evaluasi yang adil. Unit lapangan bisa menjadi kambing hitam baru bila target tidak realistis atau anggaran tetap ketat. Karena itu, perubahan budaya harus disertai perubahan insentif, kewenangan, dan transparansi pengambilan keputusan.

Di sisi lain, pengakuan tentang “25 tahun penghematan” seharusnya menjadi alarm politik. Infrastruktur publik tidak bisa diperlakukan seperti pos biaya yang dipangkas terus-menerus tanpa konsekuensi. Jika kereta adalah tulang punggung mobilitas dan transisi hijau, maka pendanaan dan tata kelola harus sejalan dengan ambisi itu.

Krisis Deutsche Bahn memperlihatkan bahwa kereta yang terlambat sering berakar pada keputusan yang salah tempat, bukan semata-mata rel yang aus. Palla menawarkan diagnosis yang keras: tanggung jawab yang tercerai-berai membuat organisasi berjalan tanpa pemilik masalah. Target 2035 memberi harapan, tetapi juga mengingatkan bahwa perbaikan layanan kereta Jerman adalah proyek generasi.

Pertanyaannya kini, apakah perubahan manajemen dan desentralisasi benar-benar akan mengubah pengalaman penumpang, atau hanya mengubah bagan organisasi. Publik biasanya memaafkan keterlambatan sekali dua kali, tetapi sulit memaafkan sistem yang tidak belajar. Di situlah ujian terbesar DB: membuktikan bahwa akuntabilitas bisa menjadi rel baru bagi kepercayaan. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)