Manajemen Terus Memarahi Karyawan Berprestasi: Toxic Workplace Menguat
ORBITINDONESIA.COM – Alih-alih mendapat apresiasi, seorang pekerja mengaku justru “terus-menerus dimarahi” manajemen meski ia sudah berupaya keras. Kisah ini menyorot fenomena toxic workplace dan budaya kerja yang menghukum performa, bukan merayakannya.
Kalimat singkat “constantly berated” terdengar sederhana, tetapi dampaknya panjang bagi martabat pekerja. Dalam banyak organisasi, teguran yang berulang berubah menjadi pola kontrol dan intimidasi.
Masalahnya bukan sekadar bos yang temperamental, melainkan sistem yang menormalisasi penghinaan sebagai alat manajemen. Ketika upaya keras dibalas celaan, relasi kerja bergeser dari kolaborasi menjadi ketakutan.
Di Indonesia, isu ini beririsan dengan hierarki kantor yang kaku dan kultur “tahan banting” yang sering disalahartikan. Pekerja didorong diam, sementara manajemen merasa berhak menekan demi target.
Secara psikologis, dimarahi terus-menerus adalah bentuk kekerasan verbal di tempat kerja. Ia menggerus rasa aman, menurunkan kepercayaan diri, dan memicu kelelahan emosional.
WHO telah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena terkait pekerjaan dalam ICD-11, ditandai kelelahan, sinisme, dan penurunan efektivitas. Lingkungan yang penuh penghinaan mempercepat tiga gejala itu, bahkan pada karyawan yang awalnya sangat termotivasi.
Dari sisi bisnis, budaya memaki bukan strategi produktivitas, melainkan biaya tersembunyi. Studi Gallup tentang employee engagement berulang kali menunjukkan keterlibatan rendah berkorelasi dengan absensi, error kerja, dan turnover yang lebih tinggi.
Masalah menjadi lebih rumit karena “berating” sering dibungkus sebagai disiplin atau standar tinggi. Padahal disiplin yang sehat berfokus pada perilaku dan proses, bukan menyerang harga diri seseorang.
Dalam praktiknya, penghinaan berulang menciptakan spiral performa. Karyawan yang takut salah cenderung menghindari inisiatif, sehingga target melambat dan teguran makin keras.
Pola ini juga menular ke level bawah. Manajer menengah meniru gaya agresif atasan, lalu memarahi timnya, sehingga toxic workplace menjadi norma yang diwariskan.
Jika organisasi tidak punya kanal keluhan yang aman, korban hanya punya dua pilihan: bertahan sambil terluka atau pergi diam-diam. Keduanya merugikan, karena perusahaan kehilangan umpan balik yang seharusnya memperbaiki sistem.
Klaim “constantly berated” seharusnya dibaca sebagai alarm kepemimpinan, bukan drama personal. Ketika manajemen memilih mempermalukan alih-alih membimbing, itu pertanda kegagalan kompetensi mengelola manusia.
Apresiasi bukan hadiah mewah, melainkan mekanisme dasar untuk menjaga kualitas kerja. Jika kerja keras dibalas caci, perusahaan sedang mengajarkan satu pelajaran: kontribusi tidak aman dan tidak dihargai.
Di titik ini, pertanyaan tajamnya adalah siapa yang sebenarnya tidak profesional. Pekerja yang berusaha memenuhi ekspektasi, atau manajemen yang hanya mampu memimpin lewat tekanan?
Perusahaan sering mengukur KPI, tetapi lupa mengukur cara mencapainya. KPI yang dicapai lewat intimidasi menciptakan kemenangan semu, karena meninggalkan kerusakan jangka panjang pada tim.
Standar tinggi tetap bisa ditegakkan tanpa merendahkan. Umpan balik yang tegas dapat disampaikan spesifik, berbasis data, dan berorientasi solusi, bukan berbasis emosi dan penghinaan.
Kisah pekerja yang dimarahi terus-menerus mengingatkan bahwa toxic workplace bukan isu kecil, melainkan krisis etika dan produktivitas. Budaya kerja yang sehat menuntut akuntabilitas manajemen, bukan sekadar ketahanan karyawan.
Setiap organisasi perlu bertanya: apakah kritik kami membangun proses, atau menghancurkan orangnya. Jika penghargaan diganti dengan caci, yang runtuh bukan hanya motivasi, tetapi juga masa depan perusahaan sendiri.
(Orbit dari berbagai sumber, 24 Juli 2026)