Revolusi Kerja: Ketika Kemudi Kembali ke Tangan Majikan

ORBITINDONESIA.COM – Di era digital 2025, teknologi mengubah wajah dunia kerja. Microsoft memimpin dengan fitur baru yang memantau lokasi karyawan, menghidupkan kembali budaya kerja intens yang memicu kelelahan.

Pergeseran budaya kerja pasca-pandemi memaksa banyak perusahaan untuk menyeimbangkan antara fleksibilitas dan kontrol. Namun, kembalinya kebijakan kerja terstruktur menjadi pilihan utama, menekan karyawan untuk menyesuaikan diri.

JLL melaporkan 66% pekerja kini tunduk pada kebijakan hibrida terstruktur. Sementara 40% pekerja global mengalami gejala kelelahan. Tekanan meningkat dengan pengurangan tenaga kerja, seperti yang terlihat pada PHK besar-besaran oleh Amazon dan lainnya.

Budaya kerja '996' yang dulu hanya di Asia kini merambah ke Barat. Perusahaan AI dan fintech menuntut komitmen tinggi, namun dengan imbalan yang sering kali tidak sepadan. Ini menimbulkan pertanyaan tentang kesejahteraan mental pekerja muda.

Masa depan kerja menuntut keseimbangan baru antara kontrol perusahaan dan kebutuhan karyawan. Apakah fleksibilitas dan kesejahteraan akan menjadi prioritas, atau kita akan terus melihat kebangkitan budaya kerja yang melelahkan?

(Orbit dari berbagai sumber, 12 Desember 2025)