Memahami Budaya 'Bro' dalam Dunia Kerja Modern
ORBITINDONESIA.COM – Budaya 'bro' di tempat kerja sering kali menjadi sumber ketidakadilan gender yang menghambat perkembangan profesional wanita.
Budaya 'bro' adalah subkultur yang menonjolkan maskulinitas toksik di lingkungan kerja. Istilah ini mulai berkembang pada abad ke-20, menggambarkan pergaulan pria yang eksklusif. Kini, budaya ini menjadi simbol dominasi pria di berbagai industri, terutama teknologi.
Berbagai tanda budaya 'bro' di tempat kerja meliputi kesenjangan upah, kebijakan cuti yang tidak setara, dan komentar tidak pantas yang dibiarkan. Menurut penelitian tahun 2016, wanita hanya mendapatkan 76.5% dari pendapatan pria. Korea Selatan mencatat kesenjangan upah gender tertinggi di negara-negara OECD, mencapai 31.5%.
Budaya 'bro' tidak hanya merugikan wanita, tetapi juga menghambat kemajuan perusahaan. Penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan keragaman gender yang tinggi 15% lebih mungkin mencapai hasil keuangan yang lebih baik. Penting untuk menciptakan budaya yang inklusif dan memberantas diskriminasi gender.
Penting bagi perusahaan untuk meninggalkan budaya 'bro' demi keseimbangan dan inklusivitas. Di era kerja modern yang semakin beragam, mempertahankan status quo eksklusif adalah langkah mundur. Pertanyaan yang tersisa: bagaimana kita dapat mempercepat perubahan menuju lingkungan kerja yang lebih adil?
(Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2025)