Apakah Kerja dari Rumah Mengancam Budaya Kantor?

ORBITINDONESIA.COM – Survei terbaru mengungkapkan bahwa lebih dari delapan dari sepuluh pemberi kerja khawatir bahwa hak untuk bekerja dari rumah dapat merusak budaya tempat kerja. Temuan ini menyoroti ketegangan antara fleksibilitas kerja dan nilai-nilai tradisional perusahaan.

Di era pasca-pandemi, kerja dari rumah telah menjadi norma baru bagi banyak bisnis. Namun, banyak pengusaha yang meragukan dampak jangka panjangnya terhadap budaya kantor. Mereka percaya bahwa interaksi tatap muka penting untuk membangun tim yang kohesif dan inovatif.

Data menunjukkan peningkatan produktivitas dengan bekerja dari rumah, tetapi juga menggarisbawahi risiko isolasi sosial. Sebuah studi oleh Harvard Business Review menemukan bahwa meskipun produktivitas meningkat, hubungan antar karyawan cenderung melemah. Apakah keuntungan produktivitas ini sepadan dengan kehilangan interaksi sosial yang kaya?

Banyak yang berpendapat bahwa budaya perusahaan bukan hanya tentang kehadiran fisik. Dengan teknologi, komunikasi dapat tetap terjaga. Namun, skeptis menekankan bahwa kebersamaan fisik menciptakan peluang spontan yang berharga. Apakah teknologi dapat sepenuhnya menggantikan keajaiban interaksi langsung?

Masa depan kerja dari rumah masih belum pasti. Perusahaan perlu menyeimbangkan antara fleksibilitas dan kebutuhan budaya mereka. Mungkin, solusinya terletak pada model hibrida. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa budaya kantor tetap hidup di tengah perubahan ini?

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Oktober 2025)