Debat 996: Budaya Kerja Ekstrem di Tengah Startup Eropa

ORBITINDONESIA.COM – Tekanan untuk mengadopsi budaya kerja ekstrem 996 telah mengguncang dunia startup Eropa, memicu perdebatan sengit di kalangan pendiri dan kapitalis ventura.

Budaya kerja 996, yang populer di China, menuntut kerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu. Diadopsi oleh raksasa teknologi seperti Alibaba, sistem ini telah banyak diprotes. Di Eropa, seruan untuk mengadopsi 996 menuai kritik, dengan pendiri startup menolak budaya kerja berlebihan ini.

Sebastian Becker dari Redalpine menyoroti bahwa 40 jam kerja per minggu tidak cukup untuk bersaing secara global. Namun, Suranga Chandratillake dari Balderton Capital berpendapat bahwa Eropa tidak tertinggal, dengan munculnya deca-corns seperti Klarna dan Revolut. Pendiri startup mengklaim bahwa budaya kerja 996 mengabaikan nilai-nilai Eropa yang menekankan keseimbangan kerja dan kehidupan.

Nina Mohanty dari Bloom Money menegaskan bahwa efek samping dari budaya kerja ekstrem termasuk tingkat pergantian karyawan yang tinggi. Noa Khamallah dari Don't Quit Ventures menekankan bahwa inovasi berkelanjutan lebih penting daripada kerja berlebihan. Sarah Wernér dari Husmus menganggap budaya kerja 996 sebagai krisis produktivitas masa depan, sementara Dion McKenzie memperingatkan bahwa ini bisa menyulitkan startup tahap awal mendapatkan pendanaan.

Di tengah persaingan global, Eropa harus menemukan jalan tengah antara intensitas kerja dan kesejahteraan pekerja. Pertanyaannya adalah apakah budaya kerja ekstrem benar-benar diperlukan untuk mencapai keberhasilan, atau apakah ada cara lain yang lebih berkelanjutan untuk bersaing di panggung dunia?

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Agustus 2025)