Rise of The Sneakers (RoTS) 2026 Batam Dorong Ekonomi Kreatif

alurnews.com

alurnews.com

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Rise of The Sneakers (RoTS) 2026 di Grand Batam Mall mengubah festival sneakers menjadi panggung ekonomi kreatif Batam. Tema “Revive the Future” terdengar seperti slogan, tetapi keramaian pembukaan dan rilisan sepatu kolaborasi 500 pasang menunjukkan daya beli dan daya tarik subkultur yang nyata.

Batam selama ini lebih dikenal sebagai kota industri manufaktur dan kawasan logistik yang bergerak cepat. Namun generasi muda membutuhkan ruang ekspresi yang memberi nilai ekonomi, bukan sekadar hiburan sesaat.

RoTS 2026 hadir sebagai festival subkultur terbesar di Kepulauan Riau yang berlangsung 30 Juli hingga 2 Agustus 2026. Festival ini mempertemukan brand streetwear, komunitas lari, UMKM, seniman, dan musisi dalam satu arena yang sama.

Founder RoTS, Yaser Hadeka, menegaskan ambisi untuk menaikkan standar karya lokal agar sanggup bersaing nasional. “Kami ingin membuktikan potensi kreatif anak muda Batam mampu menghadirkan standar pameran berkelas yang berdampak langsung bagi daerah,” ujarnya.

Dalam ekonomi kreatif, pertemuan komunitas dan pasar adalah bahan bakar utama, karena tren lahir dari interaksi dan legitimasi sosial. RoTS memanfaatkan logika itu dengan menjadikan mal sebagai “ruang publik” baru yang mudah diakses.

Peluncuran sepatu kolaborasi Unerd x RoTS x RDD yang dibatasi 500 pasang adalah strategi kelangkaan yang lazim di kultur sneakers. Model ini menciptakan urgensi beli, memperkuat cerita merek, dan mendorong efek antrean yang sekaligus menjadi promosi organik.

Jika semua pasang terjual, dampaknya tidak berhenti pada omzet sepatu saja, karena ada efek turunan pada tenant aksesori, fesyen, dan konsumsi di lokasi. Di titik ini, festival berubah menjadi mesin sirkulasi uang yang menyentuh banyak lapis pelaku usaha kecil.

Pemerintah Kota Batam membaca RoTS sebagai instrumen pariwisata dan penggerak UMKM, bukan sekadar acara hobi. Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, menyebut RoTS “magnet” yang menarik warga lokal dan turis mancanegara serta menggerakkan perekonomian UMKM.

Dukungan Bank Mandiri memberi sinyal bahwa sektor keuangan mulai melihat komunitas sebagai pasar yang layak dibiayai, bukan pinggiran. Rizky David Paulus menegaskan bank hadir “merangkul kawan-kawan di sektor kreatif dan UMKM lokal,” yang berarti akses transaksi dan pembiayaan makin mungkin terjadi.

Agenda RoTS 2026 yang berlapis—diskusi budaya sneakers, podcast komunitas, edukasi lari, kompetisi tari, hingga penampilan Tuantigabelas—membuat festival tidak bergantung pada satu segmen. Diversifikasi ini penting karena tren subkultur mudah bergeser, sedangkan ekosistem butuh alasan untuk terus datang.

Namun ada tantangan yang sering luput, yakni apakah nilai tambahnya menetap di Batam atau hanya “mampir” selama empat hari. Tanpa strategi pasca-event, festival berisiko menjadi kalender tahunan yang meriah tetapi tidak mengubah kapasitas produksi lokal.

RoTS 2026 menunjukkan bahwa sneakers bukan semata barang, melainkan bahasa identitas yang bisa diubah menjadi ekonomi. Batam diuntungkan karena memiliki karakter kota transit, sehingga kultur baru cepat masuk dan cepat menyebar.

Meski begitu, subkultur mudah terjebak menjadi etalase konsumsi jika yang dibesarkan hanya hype dan kelangkaan. Festival perlu memastikan panggungnya juga melahirkan talenta desain, manufaktur kecil, dan kemampuan bisnis yang berkelanjutan.

Kolaborasi Unerd x RoTS x RDD adalah contoh baik karena mempertemukan brand dan komunitas olahraga dalam produk nyata. Tantangannya adalah memperbanyak model kolaborasi yang tidak hanya menjual, tetapi juga mentransfer pengetahuan produksi, distribusi, dan standar kualitas.

Jika pemerintah dan bank sudah memberi dukungan, maka indikator berikutnya harus lebih konkret, seperti peningkatan kelas UMKM, perluasan pasar luar daerah, dan penciptaan kerja kreatif. Tanpa tolok ukur itu, klaim “penggerak ekonomi kreatif” akan sulit diuji selain lewat keramaian.

Rise of The Sneakers (RoTS) 2026 memperlihatkan bagaimana festival sneakers dapat menjadi pintu masuk ekonomi kreatif Batam, sekaligus alat promosi pariwisata yang modern. Di balik musik, booth, dan rilisan terbatas, ada pesan bahwa kota industri pun bisa menjadi kota gagasan.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah energi “Revive the Future” akan diterjemahkan menjadi program berkelanjutan setelah lampu atrium padam. Jika RoTS mampu mengubah euforia menjadi ekosistem, Batam tidak hanya dikenal karena pabriknya, tetapi juga karena karya yang lahir dari komunitasnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 1 Agustus 2026)