Strategi Investasi Jangka Panjang Kevin Burkett di Era AI
ORBITINDONESIA.COM – Strategi investasi jangka panjang kembali diuji ketika pasar dihantam ketakutan soal AI, dan Kevin Burkett justru menambah posisi di saham yang sedang dihukum. Partner Burkett Asset Management Ltd. itu menolak berburu prediksi harian, lalu memilih bisnis dengan ekonomi yang mudah dipahami dan permintaan berulang.
Burkett, yang mengelola lebih dari US$500 juta aset, menghindari sektor yang bergantung pada prediksi jangka pendek dan headline. Ia lebih menyukai consumer discretionary, industrials, dan sebagian teknologi karena menurutnya di sanalah “durability” pendapatan lebih masuk akal.
Pernyataan kuncinya lugas: “We tend to favour high-quality businesses that have durability in their revenue streams.” Di tengah volatilitas, ia membedakan investasi berbasis fundamental dari kebiasaan pasar yang menebak fluktuasi harian.
Strategi itu ditopang disiplin neraca dan kemampuan perusahaan “menggandakan” arus kas dari waktu ke waktu. Ia juga menyeimbangkan portofolio dengan fixed income, termasuk obligasi korporasi berkualitas yang kadang berada di luar kriteria investment grade karena ukuran atau struktur modal.
Dalam 12 bulan terakhir hingga 30 April, portofolio seimbang 60-40 saham-obligasi miliknya naik 13,9%. Imbal hasil tahunan tiga tahun tercatat 10,9%, sementara lima tahun 8,6%, seluruhnya gross of fees, dengan biaya 0,40% hingga 1,25% tergantung nilai portofolio.
Angka itu penting karena menunjukkan tesis “tenang di tengah bising” bukan sekadar slogan pemasaran. Namun, kinerja historis tetap bukan jaminan, terutama saat narasi AI mengubah cara pasar menilai risiko bisnis.
Di saham, Burkett mencontohkan Constellation Software Inc. yang turun sekitar 50% dalam setahun. Ia mulai membeli ketika saham jatuh setelah kabar pendiri dan presiden Mark Leonard mundur karena alasan kesehatan yang tidak dirinci.
Keputusan itu menyiratkan cara kerja investor nilai modern: membeli kualitas ketika sentimen menekan harga. Burkett bahkan mengaku dulu mengira saham itu “terlalu mahal,” lalu menyadari “it wasn’t expensive enough,” sebuah pengakuan bahwa compounding sering terlihat mahal sampai waktu membuktikan sebaliknya.
Ketakutan terbesar pasar hari ini adalah AI akan menggantikan perangkat lunak, dan itu menekan valuasi. Burkett menilai kebutuhan atas software Constellation tetap ada dan “hard to replace with AI,” karena banyak produknya bersifat mission-critical dan melekat pada proses pelanggan.
Ia juga menekankan mesin akuisisi Constellation yang terdesentralisasi, fokus pada vertical-market software dengan pendapatan berulang dan retensi tinggi. Ini bukan pertaruhan satu produk, melainkan portofolio bisnis kecil yang dibeli, dioptimalkan, lalu dibiarkan bertumbuh.
Nama kedua, Colliers International Group Inc., dibeli sejak Maret dan ditambah saat melemah. Banyak investor melihatnya semata sebagai broker real estat komersial, padahal perusahaan telah bergerak ke layanan berulang bermargin lebih tinggi seperti investment management, engineering, dan outsourcing.
Pasar juga menekan Colliers karena kekhawatiran AI akan mengurangi kebutuhan broker. Burkett membantah dengan argumen proses transaksi properti investasi tetap memerlukan manusia untuk mempertemukan pihak, mengelola negosiasi, serta memfasilitasi pertukaran informasi rahasia.
Nama ketiga, Fanuc Corp., sudah dimiliki sejak 2015 dan sahamnya disebut telah naik dua kali lipat dalam setahun. Fanuc diposisikan sebagai jawaban atas kekurangan tenaga kerja, tekanan produktivitas, dan kebutuhan ketahanan rantai pasok di manufaktur global.
Burkett menilai siklus industri jangka pendek justru menciptakan “diskon” untuk membeli pemimpin kualitas. Ia juga melihat Fanuc makin relevan sebagai pemasok bagi produsen chip, dan sebagai pemain yang “sangat sulit digantikan.”
Di obligasi, ia menambahkan surat utang korporasi berkualitas yang mungkin tidak masuk investment grade karena faktor teknis emiten. Ia menyebut peluang menarik di sana dan meyakini saat spread makin ketat, investor non-investment grade “should be well rewarded.”
Strategi investasi jangka panjang ala Burkett tampak seperti perlawanan terhadap budaya pasar yang kecanduan notifikasi. Ia tidak menolak AI, tetapi menolak cara pasar menyederhanakan AI menjadi alasan seragam untuk menjual apa pun yang berlabel “software” atau “jasa.”
Namun, ketenangan ini juga mengandung risiko: keyakinan pada “durability” bisa berubah menjadi bias konfirmasi. Ketika AI benar-benar mengubah biaya pencarian, negosiasi, dan otomasi proses, beberapa moat yang dulu tampak kokoh bisa terkikis lebih cepat dari perkiraan.
Di Constellation, misalnya, pertanyaannya bukan sekadar “bisa diganti AI atau tidak,” melainkan seberapa cepat pelanggan menuntut fitur AI, dan seberapa efisien perusahaan mengintegrasikannya tanpa mengorbankan margin. Pasar mungkin berlebihan, tetapi pasar juga kadang mencium pergeseran lebih awal.
Di Colliers, argumen “human element” terdengar masuk akal, tetapi teknologi sering tidak menghapus peran manusia, melainkan menekan fee dan mengubah model pendapatan. Jika transparansi data meningkat dan proses due diligence terdigitalisasi, broker bisa tetap ada namun nilai ekonominya menyusut.
Fanuc terlihat paling “bersahabat” dengan narasi AI karena AI justru mendorong otomasi fisik dan pabrik cerdas. Tetapi industri robotik juga rentan terhadap siklus capex dan persaingan, sehingga kualitas eksekusi dan inovasi menjadi penentu, bukan sekadar tren makro.
Yang paling menarik justru disiplin portofolio 60-40 dan penggunaan kredit korporasi “berkualitas tapi tidak rapi di rating.” Ini mengingatkan bahwa mencari imbal hasil tidak selalu harus lewat saham, dan bahwa risiko sering bersembunyi di definisi formal seperti investment grade.
Kisah Kevin Burkett menunjukkan bahwa strategi investasi jangka panjang bukan berarti pasif, melainkan aktif memilih apa yang layak dipegang saat publik panik. Data kinerja 13,9% setahun dan 10,9% annualized tiga tahun memberi konteks, tetapi yang lebih penting adalah konsistensi logika di balik keputusan.
Di era AI, pertanyaan kuncinya bukan “AI akan menang atau tidak,” melainkan bisnis mana yang mampu mengubah AI menjadi alat, bukan ancaman. Pada akhirnya, investor dipaksa merenung: apakah kita membeli aset karena memahami arus kasnya, atau karena ikut takut pada headline yang sama dengan semua orang? (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)