ASUS ExpertBook Ultra: Laptop Bisnis AI dengan Tandem OLED

ANTARA News

ANTARA News

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – ASUS ExpertBook Ultra dipromosikan sebagai laptop bisnis AI yang menyasar eksekutif dengan janji performa tinggi, keamanan data, dan mobilitas. Di Pontianak, ASUS menonjolkan NPU 50 TOPS, layar Tandem OLED 14 inci, dan baterai 70Wh yang diklaim tembus 26 jam.

Pasar laptop bisnis sedang bergeser dari sekadar “ringan dan kencang” menjadi “cerdas dan aman” karena rapat daring, dokumen sensitif, dan kerja lintas lokasi makin dominan. Di saat yang sama, istilah Copilot+ PC dan komputasi AI lokal mulai dipakai sebagai pembeda produk, meski publik belum selalu paham manfaat nyatanya.

ASUS membaca momen itu dengan menempatkan ExpertBook Ultra sebagai perangkat premium untuk profesional yang butuh perangkat siap kerja, bukan sekadar laptop tipis. Pernyataan ASUS menekankan bahwa mobilitas dan keamanan data kini setara pentingnya dengan performa prosesor.

ASUS menyebut ExpertBook Ultra memakai prosesor hingga Intel Core Ultra X9 388H dengan NPU yang sanggup 50 trillion operations per second (TOPS). Angka TOPS ini menjadi bahasa baru industri untuk menakar kemampuan AI, tetapi ia tidak otomatis menjelaskan seberapa cepat pekerjaan kantor selesai.

Nilai praktisnya terlihat saat AI dipakai untuk transkripsi rapat, penerjemahan, dan optimasi kamera melalui AI ExpertMeet yang berjalan lokal di NPU. Pemrosesan lokal mengurangi ketergantungan pada cloud, yang berarti lebih sedikit latensi dan potensi paparan data, terutama untuk rapat internal perusahaan.

ASUS juga menyebut dukungan “local agentic AI” dan RAM LPDDR5x hingga 64GB agar model bahasa tertentu dapat berjalan di perangkat. Ini relevan untuk tim legal, audit, atau riset yang ingin merangkum dokumen sensitif tanpa mengunggahnya ke layanan publik, meski tetap butuh kebijakan IT yang ketat.

Di sisi visual, layar Tandem OLED 14 inci dengan puncak 1.400 nits HDR terdengar seperti jawaban untuk pekerja lapangan dan eksekutif yang sering berpindah ruang. Namun, layar sangat terang juga mengundang pertanyaan konsumsi daya, sehingga klaim baterai 70Wh hingga 26 jam perlu dibaca sebagai skenario ideal, bukan jaminan universal.

ASUS menambahkan pengisian cepat 50 persen sekitar 30 menit dan grafis terintegrasi Intel Arc B390 untuk kebutuhan visual yang lebih berat. Ini menarik bagi pekerja presentasi, analisis data visual, atau konten ringan, walau tetap bukan pengganti workstation grafis untuk rendering berat.

Bobot 1,1 kilogram dan standar ketahanan MIL-STD 810H menempatkan perangkat ini pada wilayah “premium mobility” yang sering dicari perusahaan. Tetapi standar militer bukan berarti kebal rusak, karena ketahanan tetap bergantung pada pola penggunaan, tas, dan kultur kerja pengguna.

Lapisan keamanan ASUS ExpertGuardian dengan enkripsi berbasis perangkat keras menjadi poin penting di era kebocoran data. Dalam banyak insiden, celah bukan hanya pada perangkat, melainkan pada kebiasaan pengguna dan tata kelola akses, sehingga fitur keamanan harus dibarengi edukasi dan kontrol organisasi.

ExpertBook Ultra memperlihatkan bagaimana “AI” kini menjadi narasi utama untuk menjual laptop bisnis, bahkan ketika kebutuhan dasar kantor sebenarnya sederhana: stabil, aman, dan mudah dikelola. Tantangannya adalah memastikan AI tidak berhenti sebagai label, melainkan benar-benar menghemat waktu rapat, mempercepat dokumentasi, dan mengurangi pekerjaan repetitif.

Keputusan ASUS menekankan pemrosesan lokal patut diapresiasi karena sejalan dengan tren privasi dan kepatuhan data. Namun, perusahaan tetap harus menilai apakah fitur AI ini kompatibel dengan kebijakan internal, aplikasi yang dipakai, dan kebutuhan audit, bukan sekadar terpikat angka TOPS.

Di sisi lain, layar Tandem OLED dan bodi ringan menunjukkan bahwa desain masih menjadi “politik produktivitas” yang nyata: perangkat yang nyaman dipakai akan lebih sering dipakai. Tetapi pasar juga berhak menuntut transparansi pengujian baterai dan skenario performa, agar klaim tidak menjadi ekspektasi yang menyesatkan.

ASUS ExpertBook Ultra merangkum arah baru laptop bisnis AI: NPU kencang, fitur rapat otomatis, layar terang, baterai besar, dan keamanan yang lebih serius. Pertanyaannya bukan lagi apakah laptop bisa menjalankan AI, melainkan apakah AI itu membuat kerja lebih manusiawi, lebih ringkas, dan lebih aman.

Jika perangkat seperti ini dipakai hanya untuk mengejar gengsi spesifikasi, maka ia akan jadi simbol, bukan solusi. Tetapi bila perusahaan menggunakannya untuk merapikan budaya rapat, disiplin dokumentasi, dan tata kelola data, maka “AI PC” bisa menjadi alat kerja yang benar-benar bermakna.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)